JAKARTA, POJOKSATU.id - Analis komunikasi politik Hendri Satrio langsung heran ketika ditanya berapa nilai 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Sebab menurutnya, banyak sekali permasalahan yang terjadi selama 2 tahun pemerintahan berjalan.

Menurut Hensat, sapaan akrabnya, ada 3 permasalahan besar di Indonesia saat ini, yakni ekonomi, hukum dan komunikasi.

Mulanya ia berfikir bahwa komunikasi di pemerintahan ini hanya sekedar sebuah masalah saja.

Namun semakin kesini, masalah komunikasi pemerintah tersebut kini sudah tidak lagi menjadi masalah.

"Tapi sudah mulai menjadi penyakit yang luar biasa yang harus segera diperbaiki," ucap Hendri Satrio dikutip Pojoksatu.id, Rabu 21 Oktober 2026.

"Saking bobrok komunikasinya, akhirnya kita tidak bisa kemana-mana," sambungnya.

Karena itu, Hensat pun mengaku bingung ketika ditanya berapa nilai yang pantas diberikan untuk 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

"Di awal-awal minta saya ngasih nilai itu saya bingung," ucap dia.

Ia menekankan, pemberian nilai itu dilakukan jika kita memiliki pengetahuan yang setara.

Dan yang diberi nilai juga dianggap mampu atau bisa diberi nilai.

"Tapi kan ada memang kelas-kelas yang memang kita enggak bisa beri nilai apa-apa," papar dia.

Pendiri Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) ini juga menyinggung soal para pembantu Prabowo, alias jajaran menteri.

"Menurut saya banyak menteri gilanya, tuh," beber dia.

Hensat memang tidak mengungkap siapa saja 'menteri gila' anak buah Prabowo.

Akan tetapi ia memberikan gambaran sosok menteri gila dalam pemaparannya.

"Menteri gila itu adalah sudah merasa tidak mampu menangani bidangnya tapi enggak mau mundur."

"Sudah enggak mau mundur bisa-bisanya ngomong "Jabatan ini titipan Allah. Kapan saja siap diambil"."

"Tapi dia enggak mau mundur-mundur. Kan, nyusahin malaikat," urai Hensat.

Semestinya, jika memang seorang menteri sudah tidak mampu melaksanakan dan mengemban tugas, sudah semestinya langsung mengundurkan diri saja.

Namun ia juga heran dengan statmen para menteri gila tersebut yang selalu saja mencari-cari alasan.

"Tapi, kan, mereka harus menunggu Pak Prabowo reshuffle. Saya, ya, kalau Presiden minta reshuffle, ya, saya terima," tandasnya.