JAKARTA- POJOKSATU.ID- Ketegangan unjuk rasa peringatan Hari Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026), akhirnya luluh oleh momen spiritual.

Aksi demonstrasi bertajuk "Indonesia Sadar" yang sempat memanas sejak siang hari ditutup dengan pelaksanaan salat Magrib berjamaah oleh ribuan mahasiswa tepat di ruas jalan protokol.

Sebelumnya, tensi di lapangan sempat membakar semangat para demonstran saat aksi teatrikal digelar di barisan terdepan. Seorang orator mahasiswa, Toga Irang, menerobos maju sembari memikul replika Salib Merah sebagai simbol duka atas rusaknya hutan dan ruang hidup rakyat akibat eksploitasi korporasi.

"Hutan bukan milik segelintir oligarki! Pemerintah wajib melindungi lingkungan dan mengadili para perusak alam," teriak demonstran di lokasi.

Pesan perlawanan tersebut kian dipertegas lewat pembentangan spanduk raksasa berukuran 3x6 meter tepat di hadapan barikade rapat aparat kepolisian dengan tulisan mencolok: “Hutan bukan milik oligarki, alam harus dilindungi, perusak harus diadili.”

Merawat Sejuk di Bawah Langit Ibu Kota

Namun, suasana riuh dan panas yang menyelimuti kawasan Bundaran HI perlahan berubah menjadi teduh saat azan Magrib berkumandang. Ribuan mahasiswa yang tadinya berdiri mengacungkan kepalan tangan dan membentangkan spanduk perlahan merapatkan barisan.

Beralaskan spanduk aksi, terpal, hingga jaket almamater seadanya, massa menyusun saf rapat di atas aspal Jalan MH Thamrin.

Mereka menggelar salat Magrib berjamaah secara khusyuk tepat di depan barisan pengamanan aparat TNI-Polri.

Momen sujud bersama di tengah kepungan gedung pencakar langit Jakarta tersebut seketika mendinginkan ketegangan yang terjadi sepanjang hari. Suasana yang tadinya diwarnai teriakan orasi dan desakan barikade berubah menjadi tenang dan penuh kedamaian.

Seusai menunaikan ibadah dan memanjatkan doa bersama untuk keselamatan bangsa, massa mahasiswa membubarkan diri secara tertib dan damai***