POJOKSATU.id - Mahasiswa London School of Public Relations (LSPR), berupaya mendorong anyaman bambu dari Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang agar menembus pasar internasional.
Lewat program ‘The Story Of Buniayu’ mahasiswa LSPR mendampingi warga yang secara turun temurun berpenghasilan lewat memproduksi anyaman bambu.
Pendiri Saung Bakul Buniayu, Mardani mengatakan, masyakat Buniayu konsisten memproduksi anyaman sebagai salah satu mata pencaharian dan melestarikan budaya.
Namun, ia mengakui pemasaran produk melalui platform digital masih sangat kurang.
“Karena memang pengrajin yang ada di Buniayu ada di rentang usia 35-50 tahun,” katanya kepada awak media, Sabtu 10 Januari 2025.
Lewat program ‘ The Story of Buniayu’ ini, kata Mardani, anak-anak muda di bekali pelatihan pemasaran secara digital.
“Untuk yang hadir hari ini yang hadir anak, cucunya para pengrajin sehingga untuk mengembangkan dan menjadikan pasar digital sebagai salah satu cara penjualan,” ungkapnya.
Baca Juga: Gaji Januari Belum Cair, TPG Triwulan 4 Tertunda, Guru Hadapi Awal Tahun Tanpa Kepastian
Selain pelatihan penjualan secara digital, masyarakat Buniayu juga diarahkan untuk membuat produk anyaman yang lebih ke arah fashion.
“Awalnya kita hanya produk anyaman berupa alat rumah tangga jenisnya bisa mencapai 20 produk. Tapi sekarang kita buat anyaman yang lebih ke fashion, dan sekarang malah lebih jadi best seller,” jelasnya.
“Kami diberi masukan untuk meningkatkan nilai ekonomi dan pemasaran hingga tingkat internasional mudah-mudahan terwujud,” imbuhnya.
Mardani menjelaskan, mata pencaharian masyarakat Buniayu mayoritas petani dan pengrajin anyaman bambu.
Baca Juga: Ini Perbedaan Instansi, OPD, dan Unit Kerja yang Wajib Dipahami ASN, Simak Lengkapnya
Dengan adanya digitalisasi penjualan ia mengaku terjadi peningkatan penjualan.
“Kami masih minim pengambilan gambar dan video, dengan bantuan mahasiswa LSPR ini kami sangat terbantu. Untuk penjualan kami di lokal terjauh sampai IKN, ada juga handcary hingga ke Turki, dengan adanya digitalisasi omset meningkat dari Rp 2-3 juta kini Rp5-7 juta per bulan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara Story Of Buniayu, Moza Febrianita mengungkapkan, melalui The Story of Buniayu, pihaknya ingin mendorong penguatan UMKM serta keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui pelatihan digital dan pengembangan desain produk.
"Melalui rangkaian kegiatan International Mentoring and Workshop Programme (IMWP) 2026, produk anyaman bambu Desa Buniayu akan diperkenalkan ke Malaysia," ucap Moza.
Baca Juga: Lowongan Besar-besaran! 190 Ribu Petugas Sensus BPS Dibuka Tuk Mendata DTKS, Gaji Rp3–5 Juta
Dalam proses pendampingan, mahasiswa bekerja langsung bersama para pengrajin Saung Bakul Buniayu dan Penggerak Saung Bakul Buniayu, yaitu Kang Dhany.
“Kolaborasi mahasiswa LSPR bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro ini membuka peluang pengembangan produk anyaman bambu Desa Buniayu ke arah yang lebih inovatif dan bernilai, sekaligus menambah pengetahuan masyarakat tanpa meninggalkan tradisi lokal.” ujar Moza.
Sementara di tahap Main-event, lanjut Moza, akan diselenggarakan Mini Exhibition di Malaysia untuk menampilkan produk kepada audiens internasional.
Baca Juga: Kaesang Pengen Jadikan Jateng Kandang Gajah di Pemilu 2029, PDIP Tegaskan Rakyat yang Akan Tentukan
"Sebagai penutup, di tahap Post-event akan dilaksanakan pembuatan video dokumenter, rangkuman konten media sosial, serta kunjungan lanjutan ke Desa Buniayu untuk melihat perkembangan pasca kegiatan kampanye," katanya.
Desa Buniayu merupakan sentra kerajinan anyaman bambu di Kabupaten Tangerang yang menghasilkan berbagai produk, seperti tas, wadah multifungsi, dan perlengkapan rumah tangga berbasis teknik tradisional.
Adapun soal London School of Public Relations (LSPR) Institute of Communication & Business, merupakan institusi berfokus pada bidang komunikasi dan bisnis, dengan Akreditasi Unggul oleh BAN-PT tahun 2025. Berlokasi di Sudirman Park, Bekasi, dan Bali. LSPR berkomitmen untuk mendukung dalam pendidikan dan kemitraan global. ***



