POJOKSATU.id - Hartini merupakan istri keempat Soekarno setelah Siti Untari, Inggit Garnasih, dan Fatmawati.

Hartini merupakan istri Bung Karno yang mendampingi saat-saat terakhir Sang Proklamator tiada di RSPAD Gatot Soebroto tahun 1970.

Hartini juga merupakan perempuan yang membuat The First Lady Fatmawati marah besar.

Fatmawati harus meninggalkan Istana karena keteguhan prinsipnya yang tidak mau dipoligami oleh Soekarno.

Baca Juga: Indeks Bisnis UMKM BRI Q3-2023 dan Ekspektasi Q4-2023: Pelaku UMKM Masih Kuat dan Tetap Prospektif

Tidak hanya Fatmawati yang marah. Pimpinan Pusat Perwari mengirimkan surat ajakan kepada organisasi perempuan khususnya yang ada di Jakarta mengambil sikap atas masalah perkawinan poligami Soekarno.

Ya, kehadiran Hartini yang disebut Soekarno sebagai Srihani memang disambut dengan penentangan. Namun, Tien, begitu Soekarno menyebutnya, tetap teguh dan mendampingi Soekarno hingga akhir hayat.

Kisah cinta Hartini dimulai ketika perjamuan makan yang diselenggarakan oleh Wali Kota Salatiga. Saat itu Soekarno bertanya siapa yang memasak perjamuan makan ini.

Sambil malu-malu Hartini yang saat itu sudah bercerai dengan Suwondo, mengangkat tangannya. Dengan bangga, Soekarno memuji makanan Hartini tersebut. Hartini saat itu menjadi salah satu koki di sana.

Baca Juga: Munarman Bebas Murni Hari Ini, Pengacara : Semoga Allah Memberkahinya

Hartini saat itu berstatus janda usai cerai dengan Suwondo yang telah memberinya lima orang anak.

Sejak saat itu hubungan Soekarno-Hartini semakin erat. Sukarno sering mengirim surat untuk Hartini dengan nama Srihana.

Dan Hartini disebut Srihani. Kisah cinta dua sejoli ini pun kemudian berlanjut dalam hubungan pernikahan.

Hartini resmi menjadi istri Soekarno pada 7 Juli 1954. Dari sinilah Hartini menjadi seseorang yang sangat berpengaruh bagi Soekarno.

Hartini berada di saat kondisi negeri yang dipimpin Soekarno dalam kondisi kritis. Yaitu era tahun 1950-1965-an, saat-saat kejatuhan Soekarno.

Baca Juga: Jokowi Undang 3 Capres Makan Siang di Istana, Mochtar Ngabalin : Sedang Diatur

Hartini sebagai seorang istri tidak hanya mampu membangkitkan semangat dan gelora perjuangan bagi Soekarno.

Soekarno semakin mapan melalui pidato-pidato heroic yang mampu membangkitkan semangat bangsa Indonesia adalah karena sentuhan kasih sayang dari Hartini.

Hartini hadir bukan hanya sebagai seorang istri. Ia adalah seorang perempuan berdarah Jawa Timur yang tahu selera Bung Karno.

Ia mampu menjadi teman, penasehat, sekaligus penguat dan peneguh bagi kegalauan Soekarno.

Lebih dari itu, Hartini juga menjadi saksi sebuah revolusi peralihan yang menyudutkan Sukarno. Hartini tahu persis ketika Soekarno menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Baca Juga: Relawan Sandiaga Uno se-Indonesia Berkumpul di Jakarta untuk Dukung Ganjar Pranowo-Mahfud MD

Menurut penuturan Hartini, berkali-kali Soekarno mengeryitkan dahi dan berkata keberatan sebelum akhirnya menandatangi surat tersebut.

Pasca-kejatuhan Presiden RI pertama ini, Hartini pun tetap setia mendampingi masa tahanan rumah. Ia tetap setia bersama Soekarno walaupun saat itu Soekarno juga mempunyai istri lain yaitu Ratna Sari Dewi.

Ia pun tetap setia dan tidak menikah lagi dengan orang lain sepeninggal Soekarno. Ia seakan ingin membuktikan ucapannya. Bahwa, Hartini mencintai Soekarno, bukan mencintai seorang presiden.

Hartini tetap mempertahankan status pernikahan meski Soekarno menikah lagi dengan beberapa wanita lain saat menjabat presiden.

Dirangkum dari berbagai sumber, di pangkuan Hartini lah, Soekarno mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto pada 21 Juni 1970.

Buku “Srihana-Srihani: Biografi Hartini Sukarno” ini mengulas dengan cukup jeli kepribadian Hartini saat sebelum menjadi istri Soekarno, saat menjadi istri, dan pasca kejatuhan Soekarno.

Sebuah kepribadian yang kukuh sehingga mampu menyelami dan menjadi pembimbing bagi kehidupan Soekarno di saat-saat krisis.

Berkah kepribadian itu pula Hartini tetap kokoh dan tahan terhadap terpaan kritik.

Pada 12 Maret 2002, Hartini menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak. Hartini meninggal di usia 78 tahun.

Dan diiringi oleh untaian tangis doa, Hartini akan selalu dikenang sebagai wanita yang setia mendampingi Soekarno dan sekaligus menjadi salah satu saksi penting sejarah bangsa ini.

Hartini meninggalkan 6 anak yaitu Bayu Soekarnoputra dan almarhum Taufan Soekarnoputra (berayah Bung Karno). Serta Siti Suwandari, Herwindo, Tri Harwanto, dan Sri Wulandari (berayah Suwondo).***