JAKARTA, POJOKSATU.ID - Jejak digital tak pernah mati. Di saat publik sedang dihebohkan dengan kasus penangkapan mantan Kapolri yang diduga terlibat sindikat penyadapan ilegal, bahkan menyasar nomor ponsel Presiden Prabowo, rekaman video lawas Joko Widodo kembali gentayangan di media sosial pada November 2026 ini.

Video itu memperlihatkan momen saat Jokowi dengan percaya diri memamerkan "hobi barunya" sebagai presiden kala itu: tahu isi dan arah gerak jeroan partai politik.

Nggak tanggung-tanggung, pasang badan flexing-nya waktu itu pakai bawa-bawa nama lembaga negara segala.

“Saya tahu dalemnya partai seperti apa saya tahu, partai-partai seperti apa saya tahu. Ingin mereka menuju ke mana, saya juga ngerti. Informasi yang saya terima komplit,” ucap Jokowi kala itu dengan nada bangga.

Hebatnya lagi, beliau merinci bahwa laporan soal isi jeroan partai hingga gerak-gerik politisi itu dipasok langsung dari berbagai "menu harian" intelijen kelas kakap: mulai dari BIN, Badan Intelijen Polri (BIK), BAIS TNI, ditambah angka-angka survei bayaran, eh, lembaga survei maksudnya. Bagi beliau, data sadapan dan bisikan intelijen itu sudah kayak makanan sehari-hari.

Nah, lucunya, netizen +62 kan terkenal paling jeli kalau soal sambung-menyambung ayat (baca: cocoklogi). Begitu Bareskrim Polri sibuk bongkar-bongkar kasus penyadapan ilegal yang bikin geger republik, mendadak video lawas soal "data intelijen komplit" milik Jokowi ini disetel ulang.

Publik langsung auto-refleks menghubung-hubungkan: oh, pantesan dulu tahu daleman partai orang, rupanya hobi ngintip informasi ya?

Meskipun sampai detik ini belum ada pengumuman resmi dari penegak hukum yang menyebut pidato tahun 2023 itu nyambung langsung sama kasus penyadapan perwira tinggi Polri di era 2026, tapi minimal netizen jadi punya bahan buat senyum-senyum sinis sambil mengelus dada.

Namanya juga Indonesia, jokowi-garing-tapi-nyata: data intelijen yang dulunya dibangga-banggakan jadi makanan sehari-hari presiden, sekarang malah bikin warganet curiga.