Oleh: Sugeng Budiharsono

POJOKSATU.id - Israel, yang didirikan oleh Inggris dan Amerika Serikat pada tahun 1948 di wilayah Palestina, belum pernah mengalami perang berkepanjangan.

Perang pertama terjadi setelah Israel diproklamirkan oleh kedua negara adidaya tersebut, melawan negara-negara Arab di sekelilingnya, yang berlangsung dari 15 Mei hingga 20 Juli 1948.

Demikian juga, perang-perang Israel dengan negara-negara di sekitarnya biasanya berlangsung singkat, seperti Perang Suez pada 1956, Perang Enam Hari pada 1967, Perang Yom Kippur pada 1973, Perang Lebanon pada 1982, dan Perang Lebanon Kedua pada 2006.

Semua perang tersebut dimenangkan oleh Israel. Padahal, tanpa bantuan Amerika Serikat dan sekutunya, beberapa perang tersebut mustahil dimenangkan oleh Israel.

Kemenangan Israel membuatnya merasa superior, sehingga dibangunlah berbagai mitos, antara lain mengenai alutsista Israel yang mumpuni dan tentara IDF yang tak terkalahkan.

Hal ini justru berpotensi mengantar Israel ke dalam lubang bencana yang dibuatnya sendiri.

Perang Israel-Gaza

Perang Israel di Gaza biasanya dilakukan dengan penyerangan yang singkat.

Namun, perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023, diawali dengan serangan oleh Hamas ke Israel, telah berlangsung lebih dari 400 hari dan menjadi perang Israel-Hamas terlama.

Hamas, yang dianggap sebagai lawan yang lemah oleh Israel, telah menunjukkan kemampuannya.

Meskipun para komandan dan panglima perang Hamas telah terbunuh, dan kondisi Gaza luluh lantak, kekuatan Hamas masih tetap ada.

Penyerangan di Gaza, Tepi Barat, bahkan ke Israel sendiri tetap dilakukan oleh Hamas.

Kali ini, Hamas tidak sendirian; mereka dibantu oleh proxy-proxy Iran, seperti Houthi di Yaman, Hisbullah di Lebanon, Mujahidin Islam di Irak, dan Iran sendiri.

Serangan dari berbagai front ini menyebabkan kerusakan parah di berbagai belahan negara Israel.

No Safe Zone

Iran tidak hanya mengandalkan proxy-nya, tetapi juga melakukan serangan langsung dengan nama operasi Janji Sejati sebanyak dua kali.

Operasi Janji Sejati kedua dilakukan pada 1 Oktober 2024 dengan mengerahkan sekitar 200 rudal, termasuk jenis rudal hipersonik yang tidak dapat ditangkis oleh Iron Dome.

Serangan ini menyebabkan kerusakan di objek-objek vital militer Israel.

Serangan Iran juga menunjukkan bahwa ada negara lain yang berani menyerang Israel meskipun Israel didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Dulu, tidak ada negara yang berani menyerang Israel karena dukungan kuat Amerika Serikat. Selain itu, Israel diduga memiliki senjata nuklir yang menjadi penggentar bagi negara lain.

Namun, saat ini diperkirakan bahwa Iran juga sudah memiliki senjata nuklir, sehingga supremasi Israel di Timur Tengah telah runtuh. Israel pun tidak berani bermain-main dengan Iran.

Lawan-lawan Israel, baik Hamas, proxy-proxy Iran, maupun Iran sendiri, kini dapat menargetkan seluruh wilayah Israel. Saat ini, tidak ada tempat aman lagi di Israel.

Alutsista yang dipromosikan sebagai mampu menghalau serangan, seperti Iron Dome, David Sling, dan Arrow, hanya hebat dalam propaganda.

Bahkan, main battle tank Merkava IV mudah dihancurkan oleh senjata produksi rumahan yang murah, seperti Yasin 105.

Demikian juga dengan IDF, yang tidak sehebat propagandanya dan kini dijuluki tentara yang "pakai pokok".

Runtuhnya mitos kehebatan alutsista Israel dan IDF membuat semangat lawan-lawan Israel meningkat. Sebaliknya, semangat IDF semakin melorot, dan terjadi demotivasi untuk berperang.

The Next Failed State?

Perkembangan Fragile States Index (Indeks Kerapuhan/Kegagalan Negara) Israel pada kurun waktu 2021-2024 berturut-turut mencapai 43,0, 42,6, 44,1, dan 51,5. Nilai IKN terbaik mendekati 0 dan terburuk mendekati 120.

Perang Israel-Gaza dan kini Israel-Lebanon diperkirakan akan meningkatkan nilai dari beberapa indikator.

Dari 12 indikator IKN, berikut beberapa yang kemungkinan nilainya akan naik pada tahun mendatang:

1. Indeks Ancaman Keamanan: Nilainya pada 2014 sebesar 3,60 dari 10,00.

2. Indeks Kemunduran Ekonomi: Nilainya pada tahun 2024 sebesar 1,50/10,00.

Dengan penurunan nilai ekspor dan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 yang hanya sebesar 0,7%, turun dari 2,03% pada tahun 2023.

Pada tahun 2025, nilai ini juga akan menurun jika perang terus berlanjut, terutama dengan defisit anggaran pada tahun 2024 yang mencapai 7,2% dari total PDB.

3. Pelarian Modal Manusia: Nilainya pada tahun 2024 mencapai 2,30/10,00. Serangan dari Hisbullah, Houthi, Mujahidin Irak, dan Hamas yang terus berlangsung membuat banyak warga Israel melarikan diri ke luar negeri, meningkatkan nilai indikator ini.

4. HAM dan Supremasi Hukum: Nilainya pada tahun 2024 sebesar 4,00/10,00 juga diperkirakan akan meningkat.

Selama perang di Gaza dan Tepi Barat, Israel telah melakukan pelanggaran HAM berat, khususnya terhadap anak-anak dan wanita.

5. Indeks Legitimasi Negara: Nilainya pada tahun 2024 sebesar 4,80/10,00 juga diperkirakan akan meningkat, karena semakin banyak negara yang mulai mengakui kemerdekaan Palestina.

7. Pengungsi dan Pengungsi Internal: Nilainya pada tahun 2024 mencapai 3,00, dan diperkirakan akan meningkat.

Serangan dari luar Israel yang terus terjadi akan meningkatkan jumlah pengungsi, baik ke luar negeri maupun di dalam negeri.

7. Indeks Intervensi Asing: Nilainya pada tahun 2024 sebesar 6,80/10,00.

Iran dan proksinya terus melakukan serangan, yang juga mengakibatkan sekutu-sekutu melakukan intervensi kepada Israel. Ini akan meningkatkan nilai Indeks Intervensi Asing.

Berdasarkan kondisi di atas, nilai IKN dari 51,5/120,0 pada tahun 2024, diperkirakan akan meningkat di atas 70-an pada tahun 2025.

Nilai tersebut tidak terlalu mengherankan, mengingat rata-rata nilai IKN dari 2007-2024 mencapai 72,7. Dari perkiraan tersebut, Israel berpotensi menjadi negara gagal di masa mendatang.

Hal ini didukung oleh fakta bahwa ketidakamanan di Israel akan mengurangi rasa aman investor untuk menanamkan modal.

Selain itu, faktor lain yang akan menyebabkan perekonomian terpuruk adalah hancurnya sumber daya manusia.

Banyak tentara yang tewas atau luka berat, yang merupakan individu produktif dan berkualitas tinggi, serta terjadinya pengungsian ke luar negeri dan brain drain.

Gempuran dari berbagai front juga telah merusak sarana dan prasarana yang memerlukan waktu lama untuk pemulihan.

Selain itu, produk-produk Israel, khususnya alutsistanya, tidak sehebat yang dipropagandakan.

Ketidakpercayaan terhadap kecanggihan alutsista ini akan merembet ke produk barang dan jasa lainnya, yang tentu membutuhkan rebranding dalam waktu yang tidak singkat.

Di sisi lain, perekonomian negara-negara pendukung utama Israel, seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat, juga dalam kondisi kurang baik. Oleh karena itu, rekonstruksi Israel pasca perang tidak akan berjalan cepat.

Perang kali ini menjadi pelajaran bagi Israel. Israel termakan oleh propagandanya sendiri, sehingga menjadi sombong dan lengah.

Perang jangka panjang dan berskala regional ini telah menyebabkan Israel babak belur, meskipun masih dibantu oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Kondisi kerusakan Israel di segala bidang ini akan menjadikannya sebagai negara gagal. Wallahualam bishowwab.*