POJOKSATU.id, Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, kembali menelan korban jiwa.
Suraji (40), seorang petugas keamanan hotel yang ikut turun tangan membantu pemadaman sebagai relawan, meninggal dunia sehingga total korban tewas dalam peristiwa tersebut mencapai enam orang.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengonfirmasi kabar meninggalnya Suraji.
Korban sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah mengalami luka bakar ketika berupaya mengendalikan kebakaran di kawasan Bromo.
"Keluarga besar Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Suraji, DW Sekuriti Artotel PT Mitra Indo Permai," ujar Rudijanta.
Suraji sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo di Surabaya untuk memperoleh perawatan medis.
Luka bakar yang dideritanya terjadi saat ia terlibat dalam operasi pemadaman api di wilayah taman nasional tersebut.
Rudijanta menjelaskan, Suraji meninggal dunia setelah mendapatkan penanganan intensif akibat insiden yang berlangsung di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah L, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo.
"Almarhum meninggal setelah dilakukan perawatan intensif pascapelaksanaan pemadaman kebakaran di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah L, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo," tuturnya.
Upaya tim medis untuk menyelamatkan nyawa Suraji tidak membuahkan hasil.
Setelah melewati masa kritis selama menjalani perawatan, ia akhirnya dinyatakan meninggal pada siang hari sekitar pukul 12.00 WIB.
"Bapak Suraji, DW Sekuriti Artotel PT Mitra Indo Permai yang selama ini menjalani perawatan intensif setelah terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Bromo, telah berpulang pada hari ini, sekitar pukul 12.00 WIB," kata Rudijanta.
Kepergian Suraji menambah daftar korban dalam kebakaran yang terjadi pada 15 Oktober 2026 tersebut.
Rudijanta mengatakan, insiden yang melanda kawasan konservasi Bromo itu membawa kesedihan mendalam bagi keluarga besar pengelola TNBTS.
"Kepergian beliau menambah duka atas peristiwa kebakaran yang terjadi pada 15 Oktober 2026. Kami kehilangan, kami semua sangat kehilangan," ucapnya.
Selain menyampaikan belasungkawa, pengelola TNBTS juga mengapresiasi perhatian masyarakat yang terus mengalir selama Suraji menjalani pengobatan.
Doa dan dukungan dari berbagai pihak menjadi bentuk kepedulian terhadap korban dan keluarganya di tengah masa sulit tersebut.
Rudijanta berharap Suraji mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.
Ia juga menyampaikan harapan agar keluarga yang ditinggalkan mampu melewati masa berkabung dengan ketabahan.
"Terima kasih atas setiap doa dan dukungan yang telah diberikan selama proses perawatan beliau. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan," ujarnya.
Sebelum Suraji dinyatakan meninggal, lima orang lainnya dari tim gabungan telah lebih dahulu kehilangan nyawa saat menjalankan tugas pemadaman kebakaran di kawasan Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo.
Dua di antaranya merupakan petugas BB TNBTS, yakni Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanata (33).
Sementara itu, Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19) tercatat sebagai karyawan hotel yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
Korban lainnya adalah Munawi (44), anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang turut terlibat dalam upaya penanganan kebakaran.
Meninggalnya Suraji membuat jumlah korban jiwa dari kalangan petugas dan relawan dalam penanganan karhutla di kawasan TNBTS menjadi enam orang.
Peristiwa ini sekaligus menambah panjang daftar duka akibat kebakaran yang melanda kawasan konservasi di Jawa Timur tersebut.***





