Jakarta, POJOKSATU.id - Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Ziko Harnadi, melontarkan sindiran keras kepada pihak yang diduga membayar sejumlah orang untuk tampil seolah-olah sebagai mahasiswa.

Ziko secara khusus menyinggung Raffi Ahmad dan Willie Salim yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. 

Ia mempertanyakan hati nurani pihak-pihak yang terlibat di tengah munculnya dugaan penggunaan identitas kampus tanpa izin.

Melalui unggahan di Threads, Ziko mengungkapkan kekecewaannya karena jas almamater UBSI digunakan dalam kegiatan yang kini menjadi sorotan publik. 

Menurutnya, tindakan tersebut berpotensi mencemarkan nama baik institusi pendidikan.

Ziko memperkenalkan dirinya sebagai dosen UBSI dan menyebut ayahnya merupakan pembina yayasan BSI. 

Meski merasa keberatan atas penyalahgunaan atribut kampus, ia menegaskan tidak menyalahkan perempuan bernama Sari yang mengenakan jas almamater tersebut.

Ia justru meminta pihak yang diduga membayar orang-orang untuk berpura-pura menjadi mahasiswa agar bertanggung jawab.

"Dalam hal ini saya tidak menyalahkan Mba Sari (wanita yang memakai almamater palsu BSI), tetapi saya ingin meminta pertanggungjawaban dari pihak yang MEMBAYAR sekelompok orang untuk pura-pura menjadi mahasiswa, betapa ironi-nya hal tersebut," tulis Ziko.

Kritiknya juga diarahkan kepada penyelenggaraan acara yang melibatkan Polda Metro Jaya. 

Dalam unggahannya, Ziko mempertanyakan bagaimana masyarakat dapat melaporkan dugaan persoalan tersebut jika institusi yang membuat kegiatan juga menjadi pihak yang disorot.

Ia kemudian menyindir Raffi Ahmad dan Willie Salim melalui kalimat yang cukup tajam.

"Shame on you @raffinagita1717 & @willie27_, duit aja yang dipikirin, kali-kali pake hati nurani!" tulisnya.

Polemik ini bermula dari kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 yang digelar pada Kamis, 29 Oktober 2026. 

Acara yang diklaim melibatkan sekitar 100 mahasiswa itu disebut bertujuan memperkuat persatuan generasi muda dan menangkal penyebaran hoaks.

Namun, sejumlah peserta justru menjadi sorotan setelah identitas dan asal perguruan tinggi mereka dipertanyakan oleh awak media.

Salah satunya Bayu Setiadi, yang sebelumnya mengaku bernama Dino dari PSI, tetapi terlihat mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira). 

Dalam video klarifikasi bersama organisasi kemahasiswaan Undira, Bayu mengaku bukan mahasiswa kampus tersebut maupun perguruan tinggi lainnya.

Ia menyatakan hadir karena undangan dari sebuah komunitas dan menerima bayaran. 

Jas almamater yang dikenakannya, menurut pengakuannya, diberikan oleh pihak penyelenggara tanpa penjelasan mengenai asal atribut tersebut.

Kontroversi serupa muncul dari Sari, perempuan berusia 22 tahun yang tampil membacakan narasi imbauan damai dengan mengenakan jas almamater UBSI. 

Dalam informasi yang beredar, Sari disebut bukan mahasiswa kampus tersebut.

Pihak rektorat UBSI menyatakan tidak pernah menerima undangan maupun mengirimkan delegasi mahasiswa untuk menghadiri deklarasi di Bundaran HI.***