POJOKSATU.id - Di tengah tekanan terhadap rupiah, Indonesia masih memiliki salah satu bantalan penting untuk menghadapi gejolak pasar global.

Posisi cadangan devisa justru meningkat hingga mencapai USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Angka tersebut menjadi perhatian ketika nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Senin, 21 September 2026.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di level Rp17.830 per dolar AS pada pukul 13.08 WIB. Mata uang Garuda tercatat melemah 0,56%.

Bank Indonesia memastikan kondisi tersebut terus dicermati.

Baca Juga: Konflik Dunia Belum Mereda, Pasokan Minyak Mentah Terancam dan Bikin Harga BBM Melonjak!

Bank sentral tidak hanya mengandalkan satu instrumen, tetapi menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga agar pergerakan rupiah tetap berlangsung secara teratur dan sesuai dengan fundamental.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan.

“⁠Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37%. Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026,” tegas Erwin.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap muncul.

Baca Juga: Sinyal Kenaikan Pertamax Makin Nyata, Ini Perkiraan Tarif Baru yang Siap Menguras Dompet hingga Rp20.000 per Liter!

Salah satu yang menjadi perhatian adalah perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga minyak bertahan di atas USD100 per barel.

Situasi tersebut berpotensi memberikan efek lanjutan terhadap perekonomian global.

Pelaku pasar mencermati risiko inflasi serta kemungkinan tekanan terhadap outlook fiskal.

Dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing dari importir juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah.

Selain itu, terdapat arus keluar dana dari portofolio aset domestik.

“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” kata Erwin.

Baca Juga: Polisi Ungkap Status HIV Pemeran Video Viral di Bogor, Netizen Ingatkan Batasan Rahasia Medis Pasien

Untuk menghadapi kondisi tersebut, BI akan tetap hadir di pasar.

Kebijakan diarahkan agar mekanisme pasar berjalan dengan baik sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar.

Pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang akan diperkuat melalui strategi operasi moneter yang lebih pro-market.

BI juga akan memperkuat stabilisasi nilai tukar dan menjaga kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.

Intervensi pun dilakukan melalui berbagai jalur. Di pasar offshore, BI menggunakan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF).

Baca Juga: Palung Langit

Sementara di pasar domestik, terdapat transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas pasar keuangan.

Upaya tersebut dilengkapi koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar.

BI mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang tersedia.

Permintaan valuta asing juga diarahkan untuk semakin terdiversifikasi melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Baca Juga: Puluhan Ribu RTLH di Kabupaten Bandung Sudah Diperbaiki, 2026 Sasar 4.718 Rumah

Dengan kombinasi intervensi pasar, pengelolaan moneter, dan dukungan cadangan devisa, BI berupaya menjaga agar tekanan global tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar di dalam negeri.

Pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat bergantung pada dinamika global.

Harga minyak, perkembangan geopolitik, arus modal, serta kebutuhan valuta asing menjadi sejumlah faktor yang akan terus diperhatikan.***