JAKARTA, POJOKSATU.id, Demonstrasi yang berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, memperlihatkan pilihan berbeda dari sebagian mahasiswa yang turun ke jalan.
Mereka tidak memakai jaket almamater yang biasanya menjadi penanda identitas universitas dalam berbagai kegiatan aksi.
Pilihan tersebut memiliki latar belakang tersendiri dan berkaitan dengan konsep gerakan yang ingin dibangun.
Mahasiswa berupaya menghadirkan aksi yang terbuka bagi masyarakat luas, tanpa membatasi partisipasi berdasarkan identitas perguruan tinggi.
Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Hafidz Haernanda, mengungkapkan bahwa mahasiswa dalam Komite SADAR telah menyepakati untuk mengikuti demonstrasi tanpa mengenakan almamater.
Ia menjelaskan, kesepakatan itu dimaksudkan agar gerakan yang mereka jalankan tidak dipandang sebagai perjuangan yang hanya melibatkan mahasiswa.
Identitas kampus yang terlihat melalui almamater dikhawatirkan dapat menimbulkan anggapan bahwa aksi tersebut hanya merepresentasikan kelompok dari universitas tertentu.
Sementara itu, demonstrasi pada 28 Oktober 2026 diharapkan menjadi wadah bagi berbagai elemen masyarakat sipil untuk menyampaikan pandangan dan tuntutan mereka.
Hafidz menyebut keputusan untuk tidak menggunakan almamater merupakan kesepakatan mahasiswa yang tergabung dalam Komite SADAR.
"Kami seluruh mahasiswa yang memang sudah berkumpul di Komite SADAR, menyepakati turun aksi pada hari ini tidak menggunakan almamater sama sekali," kata Hafidz.
Menghapus Batas Identitas Kampus dalam Gerakan
Pilihan untuk meninggalkan almamater selama demonstrasi dapat dilihat sebagai upaya membangun kesetaraan di antara peserta aksi.
Mahasiswa ingin membuka ruang partisipasi yang lebih luas sehingga masyarakat tidak merasa bahwa gerakan tersebut hanya diperuntukkan bagi kalangan akademisi atau mahasiswa.
Dengan demikian, perhatian publik diharapkan lebih tertuju pada persoalan yang disuarakan dan tujuan demonstrasi, alih-alih pada universitas asal peserta.
Selama ini, almamater memiliki fungsi sebagai simbol pengenal mahasiswa sekaligus representasi institusi pendidikan tempat mereka menempuh studi.
Ketika dikenakan dalam demonstrasi, atribut tersebut dapat memperlihatkan keterlibatan mahasiswa dari kampus tertentu.
Akan tetapi, gerakan yang melibatkan masyarakat dengan latar belakang beragam membutuhkan pendekatan yang dapat menjangkau lebih banyak kalangan.
Komite SADAR memilih untuk tidak menonjolkan atribut perguruan tinggi sebagai salah satu cara membangun kesan bahwa gerakan tersebut terbuka bagi masyarakat secara luas.
Tidak Mengenakan Almamater Bukan Berarti Menyembunyikan Jati Diri
Absennya almamater dalam aksi demonstrasi tidak dapat langsung diartikan sebagai upaya mahasiswa menutupi identitas mereka.
Berdasarkan penjelasan Hafidz, keputusan tersebut berhubungan dengan keinginan memperluas jangkauan gerakan dan menghindari kesan bahwa aksi hanya menjadi kepentingan mahasiswa dari kampus tertentu.
Oleh sebab itu, alasan di balik pilihan pakaian peserta perlu merujuk pada keterangan pihak yang terlibat, bukan sekadar asumsi yang berkembang di tengah masyarakat.
Demonstrasi sendiri merupakan sarana untuk menyampaikan pendapat dan memperjuangkan aspirasi di ruang publik.
Untuk memahami sebuah aksi, penting pula memperhatikan tuntutan yang dibawa, pesan yang disampaikan, serta kelompok masyarakat yang ikut berpartisipasi.
Dalam hal ini, keputusan mahasiswa Komite SADAR untuk tidak memakai almamater menunjukkan pendekatan yang ingin mereka bangun, yakni gerakan yang tidak berhenti pada identitas perguruan tinggi, tetapi berupaya menjangkau masyarakat sipil secara lebih luas.***





