KARAWANG, POJOKSATU.id - Puluhan siswa SMK Insan Sempurna Pendidikan (ISP) Talagasari, Kabupaten Karawang, antusias mengikuti kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang digelar Kantor Urusan Agama (KUA) Telagasari, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula laboratorium SMK ISP, Desa Pasirtalaga, Kecamatan Telagasari, ini bertujuan memberikan edukasi kepada remaja tentang kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, serta pembinaan keagamaan.
Materi disampaikan oleh sejumlah pihak, mulai dari Puskesmas terkait kesehatan reproduksi, Satuan Pelaksana Keluarga Berencana (Satpel KB) mengenai pemenuhan gizi dan pencegahan stunting, hingga Penyuluh Agama Islam melalui program Remaja Qeren Qur’ani (RQQ).
Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala KUA Telagasari, Hery Fadlani, S.Sos.I. Pelaksanaan BRUS ini menjadi salah satu upaya memberikan pemahaman kepada siswa agar lebih siap menghadapi masa depan dan terhindar dari risiko pernikahan usia dini.
Kepala SMK ISP Karawang, Ahmad Syafei, mengapresiasi kolaborasi perdana dengan KUA Telagasari melalui program tersebut.
Menurutnya, peran KUA tidak hanya berkaitan dengan urusan pernikahan, tetapi juga mencakup edukasi dan pembinaan bagi remaja usia sekolah.
Ia berharap para siswa dapat menyerap materi yang diberikan, baik mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, maupun pembinaan agama.
“Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi siswa untuk menambah wawasan di usia mereka, terutama mengenai persiapan pranikah dan kesehatan,” ujar Ahmad Syafei.
Sementara itu, Kepala KUA Telagasari, Hery Fadlani, menjelaskan bahwa program BRUS merupakan bagian dari upaya memberikan edukasi kepada remaja tingkat SMA, SMK, dan sederajat mengenai persiapan kehidupan berkeluarga.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut sejalan dengan Kepdirjen Bimas Islam Nomor 1012 Tahun 2022 tentang bimbingan perkawinan serta ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menetapkan batas minimal usia perkawinan bagi laki-laki dan perempuan adalah 19 tahun.
Menurut Hery, pemahaman mengenai batas usia perkawinan perlu diberikan sejak dini agar remaja lebih memahami tanggung jawab pernikahan dan dapat menghindari pernikahan dini.
“Kami tidak sendiri. Ada dukungan materi dari Puskesmas terkait kesehatan reproduksi dan Satpel KB mengenai pemenuhan gizi usia sekolah serta pencegahan stunting di masa mendatang,” ungkapnya.
Hery menambahkan, masa remaja merupakan periode penting untuk membangun pengetahuan, karakter, etika pergaulan, dan kesadaran menjaga kesehatan.
Melalui program BRUS, pihaknya berharap para siswa memiliki bekal yang cukup dalam mengambil keputusan, memahami risiko pergaulan, serta mempersiapkan kehidupan berkeluarga secara lebih matang.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada manajemen SMK ISP Talagasari yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada pihak SMK ISP yang telah menyambut baik dan memfasilitasi kegiatan ini. Semoga kolaborasi dengan dunia pendidikan terus terjalin, terutama dalam memberikan edukasi kepada remaja usia sekolah,” pungkasnya.***



