JEMBER, POJOKSATU.id - Upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Jember menunjukkan tren positif yang sangat signifikan pada tahun 2026.

Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Jember berkurang secara absolut sebanyak 15.990 jiwa.

Jika pada tahun 2025 angka kemiskinan di Jember masih berada di kisaran 216,76 ribu jiwa (8,67 persen), pada 2026 angka tersebut berhasil ditekan hingga menyentuh 200,77 ribu jiwa atau setara 8,00 persen dari total populasi.

Pencapaian persentase 8,00 persen ini sekaligus mencatatkan rekor tingkat kemiskinan terendah bagi Kabupaten Jember dalam 10 tahun terakhir, mengungguli capaian terendah era pra-pandemi pada 2019 yang tercatat sebesar 9,25 persen.

Berikut ringkasan data kemiskinan Kabupaten Jember dalam rentang satu dekade terakhir:

​- 2016: 265,10 ribu jiwa (10,97 persen)

​- 2017: 266,90 ribu jiwa (11,00 persen)

​- 2018: 243,42 ribu jiwa (9,98 persen)

​- 2019: 226,57 ribu jiwa (9,25 persen)

​- 2020: 247,99 ribu jiwa (10,09 persen)

​- 2021: 257,09 ribu jiwa (10,41 persen)

​- 2022: 232,73 ribu jiwa (9,39 persen)

​- 2023: 236,46 ribu jiwa (9,51 persen)

​- 2024: 224,77 ribu jiwa (9,01 persen)

​- 2025: 216,76 ribu jiwa (8,67 persen)

​- 2026: 200,77 ribu jiwa (8,00 persen)

Menanggapi capaian tersebut, Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait), menegaskan bahwa persoalan kemiskinan tidak boleh dipandang sebatas angka-angka indikator statistik belaka.

"Kemiskinan bukan sekadar angka. Di baliknya ada persoalan yang dirasakan langsung oleh warga, mulai dari akses kesehatan, pendidikan, pekerjaan, hingga rumah layak," ujar Gus Fawait.

Bupati mengapresiasi tren penurunan ini sebagai sinyal perkembangan yang amat positif bagi kemajuan daerah, meski ia mengingatkan bahwa langkah penanganan belum berakhir.

Ia menilai indikator utama keberhasilan pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari merosotnya data persentase, melainkan dari peningkatan kualitas hidup masyarakat yang riil di lapangan.

"Karena keberhasilan pembangunan bukan sekadar angka yang menurun, tetapi kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat," tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Fawait memaparkan bahwa melesatnya penurunan angka kemiskinan pada 2026 ini bersumber dari konsistensi Pemkab Jember dalam meluncurkan berbagai program kerakyatan yang menyentuh akar kebutuhan masyarakat.

Rangkaian program prioritas tersebut mencakup jaminan kesehatan Universal Health Coverage (UHC), layanan medis jemput bola Home Care, Beasiswa Cinta Bergema bagi para pelajar dan mahasiswa, hingga penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Melalui integrasi berbagai program pelayanan dasar dan perlindungan sosial tersebut, Pemkab Jember optimistis dapat menjaga ritme pembangunan yang inklusif demi mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera.

"Melalui program yang menyentuh langsung kebutuhan warga, Pemkab Jember memperkuat tren penurunan kemiskinan dan membuka optimisme baru bagi masyarakat. Jember bergerak ke arah yang benar. Bersama Jember Baru, Jember Maju," pungkasnya.