POJOKSATU.id - Nama Wage Rudolf Soepratman hampir selalu muncul ketika sejarah Indonesia Raya dibicarakan.
Lagu yang pertama kali diperdengarkan pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, itu kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia.
Namun, kisah Soepratman sebenarnya jauh lebih panjang daripada satu lagu. Ia lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903 dan meninggal di Surabaya pada 17 Agustus 1938.
Baca Juga: Asal Mula Kata Merdeka, Ternyata Berusia Ratusan Tahun dan Berasal dari Bahasa Sanskerta
Museum Sumpah Pemuda mencatat bahwa informasi mengenai tanggal dan tempat kelahirannya sempat menjadi perdebatan, tetapi hasil kajian museum mencantumkan 9 Maret 1903 di Jatinegara.
Soepratman bukan hanya musisi. Ia juga seorang wartawan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan pergerakan nasional. Dari sanalah musik kemudian menjadi jalan lain baginya untuk berbicara tentang Indonesia.
Ketika Indonesia Raya belum menjadi lagu kebangsaan
Sekitar 1926, Soepratman membaca tulisan di majalah Timboel yang mempertanyakan apakah ada komponis Indonesia yang mampu menciptakan lagu kebangsaan yang dapat membangkitkan semangat rakyat.
Baca Juga: BPR Kota Bandung Rugi Rp70 Miliar, DPRD Soroti Rencana Penambahan Modal
Pertanyaan itu mengusik pikirannya. Ia kemudian mulai menulis notasi dan memainkan hasil gubahannya dengan biola. Beberapa tahun kemudian, lagu itu dikenal sebagai Indonesia Raya.
Pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II, Soepratman memperdengarkannya untuk pertama kali.
Karena pemerintah kolonial mengawasi ketat kegiatan pergerakan, lagu tersebut dimainkan dengan biola tanpa lirik. Saat itu Indonesia belum merdeka.
Baca Juga: Pejabat Jember Rela Berjemur Saat Upacara HUT RI ke-81, Tenda Utama Diberikan untuk Veteran
Tetapi melalui sebuah lagu, gagasan tentang Indonesia sebagai satu bangsa telah mulai terdengar.
Soepratman ternyata menciptakan banyak lagu
Indonesia Raya bukan satu-satunya karya Soepratman.
Penelitian sejarah mencatat 11 lagu yang diciptakannya dalam rentang 1926-1938 untuk menggugah semangat kebangsaan.
Di antaranya Dari Barat Sampai ke Timur, Indonesia Raya, Indonesia Ibuku, Bendera Kita, Bangunlah Hai Kawan, Raden Adjeng Kartini, Mars KBI, Di Timur Matahari, Mars Parindra, Mars Surya Wirawan, dan Matahari Terbit.
Baca Juga: Bencana NTT di Tengah Hari Kemerdekaan RI Diwarnai Keprihatinan yang Mendalam
Daftar karya tersebut menunjukkan satu benang merah: Soepratman menggunakan musik untuk membangun kesadaran kebangsaan.
Ibu Kita Kartini lahir dari kekaguman
Salah satu karya yang paling bertahan hingga sekarang adalah Ibu Kita Kartini.
Soepratman terinspirasi oleh sosok R.A. Kartini dan pemikirannya tentang kemajuan perempuan. Ia juga mengikuti Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928.
Baca Juga: Pengamat Nilai Putusan Pengerukan Tanjung Perak Sisakan Ruang Diskursus
Lagu yang kemudian dikenal sebagai Ibu Kita Kartini itu pada mulanya dikenal dengan nama Raden Adjeng Kartini.
Melalui lagu tersebut, Soepratman tidak sekadar mengenang seorang tokoh.
Ia mengabadikan gagasan tentang pendidikan, emansipasi dan perjuangan perempuan Indonesia.
Di Timur Matahari dan seruan kepada pemuda
Pada 1931, Soepratman menciptakan Di Timur Matahari.
Lagu ini membawa gambaran tentang matahari yang mulai bercahaya dan seruan agar pemuda bangkit serta mengatur barisan.
Baca Juga: Salju Abadi Puncak Jaya Terus Mencair, Ini Penyebab dan Kondisi Terbarunya
Tema tersebut kembali menunjukkan perhatian Soepratman terhadap persatuan dan peran generasi muda.
Sebelumnya, ia juga menciptakan Bangunlah Hai Kawan serta Bendera Kita, lagu-lagu yang memperkuat pesan kebangsaan.
Ada pula Mars KBI, yang berkaitan dengan Kepanduan Bangsa Indonesia, serta mars untuk organisasi seperti Parindra dan Surya Wirawan.
Musiknya akhirnya tidak hanya terdengar di ruang pertunjukan. Ia masuk ke tengah denyut pergerakan.
Matahari Terbit menjadi salah satu karya terakhir
Pada 1938, ketika kesehatannya semakin memburuk, Soepratman masih menghasilkan karya Matahari Terbit, yang dicatat sebagai lagu terakhirnya.
Baca Juga: Di Timur Matahari, Ketika W.R. Soepratman Menyalakan Cahaya Semangat Pemuda Indonesia
Tidak lama kemudian, ia meninggal pada 17 Agustus 1938. Tanggal itu kelak memiliki makna yang sangat berbeda bagi bangsa Indonesia.
Tujuh tahun setelah Soepratman wafat, pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Soepratman tidak pernah melihat hari itu.
Ia tidak sempat menyaksikan Merah Putih berkibar sebagai bendera negara merdeka. Ia juga tidak menyaksikan Indonesia Raya dikumandangkan dalam sebuah republik yang berdaulat.
Namun, lagu yang lahir dari tangannya justru bertahan melewati zaman.
Baca Juga: Tren Open Space Mulai Berubah? Ini Alasan Sekat Ruangan Kembali Dibutuhkan
Lebih dari sekadar pencipta Indonesia Raya
Sejarah kemudian lebih banyak mengingat Soepratman sebagai pencipta Indonesia Raya. Memang, kedudukan lagu tersebut tidak tergantikan.
Tetapi karya-karya lainnya memperlihatkan sosok yang lebih utuh.
Ia menciptakan lagu ketika Indonesia belum menjadi negara. Ia berbicara tentang persatuan ketika persatuan masih menjadi cita-cita.
Ia menyerukan kebangkitan pemuda ketika kemerdekaan masih berada jauh di depan.
Soepratman mungkin hanya memiliki satu lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan.
Tetapi melalui karya-karya lainnya, ia meninggalkan jejak tentang bagaimana sebuah bangsa perlahan belajar menyebut dirinya sebagai Indonesia. ***

