POJOKSATU.id – Indonesia pernah berada di bawah kekuasaan Belanda selama ratusan tahun.

Namun, berbeda dengan sejumlah negara bekas jajahan yang masih menggunakan bahasa penjajah, Indonesia justru tumbuh dengan bahasa nasionalnya sendiri.

Bahasa Belanda memang pernah menjadi bahasa pemerintahan dan pendidikan, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bahasa rakyat.

Ada alasan sejarah yang membuat Bahasa Indonesia akhirnya berdiri sebagai salah satu benteng identitas bangsa.

Baca Juga: Bukan Lagi Hak, Ini Penyebab Utama Tunjangan Suami atau Istri ASN Dihentikan

Belanda Tidak Mengajarkan Bahasanya kepada Semua Rakyat
Lamanya penjajahan Belanda tidak otomatis membuat bahasa Belanda digunakan oleh seluruh masyarakat.

Pada masa Hindia Belanda, pendidikan berbahasa Belanda terutama diberikan kepada kelompok terbatas, seperti bangsawan, pegawai pemerintahan, dan kalangan elite.

Mayoritas rakyat pribumi tidak mendapatkan akses pendidikan tersebut.

Bahasa Belanda akhirnya lebih banyak berfungsi sebagai bahasa administrasi kolonial dan pendidikan elite.

Baca Juga: Buktikan Kencangnya CBR Series, Pebalap Astra Honda Raih Kemenangan di Mandalika

Kondisi ini membuatnya tidak pernah benar-benar mengakar sebagai bahasa sehari-hari masyarakat Nusantara.

Sebaliknya, jauh sebelum Indonesia berdiri, masyarakat Nusantara telah memiliki bahasa penghubung yang lebih luas digunakan, yakni bahasa Melayu.

Bahasa Melayu Sudah Menjadi Bahasa Pemersatu
Sejak berabad-abad lalu, bahasa Melayu digunakan sebagai lingua franca dalam perdagangan, pelayaran, penyebaran agama, dan hubungan antardaerah.

Bahasa ini dikenal di berbagai pelabuhan Nusantara sehingga dapat mempertemukan masyarakat yang memiliki bahasa daerah berbeda.

Karena tidak identik dengan satu kelompok etnis tertentu, bahasa Melayu kemudian dipandang cocok menjadi dasar bahasa nasional.

Pilihan tersebut semakin jelas ketika gerakan kebangsaan mulai tumbuh.

Baca Juga: Pelaku Tabrak Lari Aiptu Asep Suhara di Jalan Merdeka Bandung Tenyata Remaja Pengendara Sedan Hitam

Sumpah Pemuda Menentukan Pilihan
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dalam Kongres Pemuda II.

Mereka mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.

"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia."

Keputusan itu sangat penting. Para pemuda tidak memilih bahasa Belanda sebagai bahasa bersama, meskipun bahasa tersebut digunakan pemerintah kolonial.

Baca Juga: Mantan Ketua DPRD Ponorogo Jadi Tersangka Tunjangan Perumahan, Bagaimana dengan Purwakarta?

Mereka juga tidak memilih salah satu bahasa daerah sebagai bahasa nasional.

Yang dipilih adalah Bahasa Indonesia, yang berakar dari bahasa Melayu dan dianggap mampu menjadi milik bersama.

Bahasa pun berubah menjadi alat perjuangan. Melalui pidato, surat kabar, majalah, buku, dan tulisan politik, para tokoh pergerakan menyebarkan gagasan kebangsaan kepada masyarakat luas.

Pendudukan Jepang Justru Memperluas Penggunaannya
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, penggunaan bahasa Belanda dilarang dalam berbagai bidang.

Baca Juga: Tokoh Sunda Bicara Masa Depan: Ekoregion Sunda Dinilai Bisa Jadi Jalan Menuju Pembangunan yang Lebih Adil

Kebijakan tersebut tentu bukan dibuat untuk membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun dampaknya justru memperluas penggunaan Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia semakin banyak digunakan di sekolah, kantor pemerintahan, media massa, organisasi, dan ruang publik.

Dalam waktu singkat, bahasa yang sebelumnya menjadi bahasa pergerakan semakin kuat sebagai bahasa kehidupan masyarakat.

Enam Kata yang Menegaskan Bahasa Negara
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, kedudukan Bahasa Indonesia diperkuat secara konstitusional.

Pada 18 Agustus 1945, UUD 1945 disahkan. Pasal 36 menyatakan:

"Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia."

Hanya enam kata, tetapi maknanya sangat besar.

Baca Juga: Profesor Siti Baroroh Baried, Sososk Perempuan Pertama Indonesia, Mengabdi di Akademik dan Membawa Organisasi ke Panggung Dunia

Indonesia berdiri sebagai negara merdeka dengan bahasa negaranya sendiri, bukan bahasa penjajah.

Sejak itu, Bahasa Indonesia digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, hukum, administrasi, dan kehidupan bernegara.

Mengapa Indonesia Tidak Seperti India atau Malaysia?
Perjalanan setiap negara bekas jajahan memang berbeda.

Di India dan Malaysia, bahasa Inggris tetap memiliki posisi penting dalam pemerintahan, pendidikan, hukum, dan komunikasi karena sejarah kolonial serta perkembangan politik masing-masing negara.

Baca Juga: DPRD Kota Bandung Kebut Raperda Proyek Rp477,95 Miliar, RSUD Ujungberung Ditarget Rampung 2029

Indonesia mengambil jalan berbeda. Sejak masa pergerakan, Bahasa Indonesia telah dibangun sebagai simbol persatuan dan identitas kebangsaan.

Karena itu, ketika republik berdiri, Indonesia tidak perlu mengganti bahasa penjajah menjadi bahasa nasional.

Bahasa persatuan yang sudah diperjuangkan sejak sebelum kemerdekaan tinggal diperkuat kedudukannya sebagai bahasa negara.

Pengaruh Belanda Tetap Ada
Tidak menjadi bahasa nasional bukan berarti bahasa Belanda sama sekali tidak meninggalkan jejak.

Pengaruhnya masih dapat ditemukan dalam banyak kosakata Bahasa Indonesia, seperti kantor, polisi, arsip, stempel, nota, dan sejumlah istilah lainnya.

Bahasa Indonesia ternyata tidak tumbuh dengan menutup diri. Ia menyerap berbagai unsur bahasa asing, mengolahnya, lalu menjadikannya bagian dari perkembangan bahasa nasional.

Baca Juga: Soal TKA SMK 2026 Pusmendik, Teknik Furnitur SMK Lengkap Materi Mesin Kayu, Sambungan hingga Perawatan A

Dari Bahasa Perjuangan Menjadi Bahasa Dunia
Kini Bahasa Indonesia digunakan oleh ratusan juta orang dan terus dipelajari di luar negeri melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Bahasa yang dahulu menjadi penghubung masyarakat di pelabuhan-pelabuhan Nusantara telah berkembang menjadi bahasa pendidikan, pemerintahan, ilmu pengetahuan, media, dan komunikasi nasional.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa bahasa tidak sekadar kumpulan kata.

Baca Juga: Soal TKA SMK 2026 Pusmendik, Teknik Furnitur SMK Lengkap Materi Mesin Kayu, Sambungan hingga Perawatan A

Di tengah ratusan bahasa daerah yang hidup di Indonesia, Bahasa Indonesia menjadi ruang bersama yang memungkinkan masyarakat dari berbagai suku dan wilayah menyebut dirinya sebagai satu bangsa.

Karena itulah, ketika Indonesia merdeka, yang diwariskan bukan bahasa penjajah, melainkan bahasa yang sejak sebelum kemerdekaan telah dipilih untuk menyatukan rakyat.

Setiap kali Bahasa Indonesia digunakan, di dalamnya ada jejak sebuah keputusan besar: bahwa bangsa yang merdeka berhak berbicara dengan bahasanya sendiri. ***