Jakarta, POJOKSATU.id - Seorang content creator sekaligus aktivis Andovi Da Lopez, khawatir dampak luas buntut dari pengakuan Dino sebagai mahasiswa bayaran pada deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI ditanggal 29 Oktober 2026 menyebar luas di masyarakat awam.
Melalui video di akun Instagram @andofidalofez, Andovi mengingatkan bahwa publik yang tidak mengikuti kronologi kejadian mungkin sulit membedakan aksi mahasiswa yang benar-benar menyampaikan aspirasi dengan kegiatan yang hanya mengatasnamakan mahasiswa.
"Tapi seluruh masyarakat Indonesia mungkin tidak tau konteksnya dan akan bilang, tuh kan bener ngapain dengerin mahasiswa kan mahasewa, you get it guys," ungkapnya.
Menurut Andovi, situasi tersebut berisiko memunculkan anggapan bahwa gerakan mahasiswa selama ini tidak bisa dipercaya.
Padahal, ia menilai ada perbedaan antara aksi mahasiswa pada 28 Oktober di Bundaran HI dengan deklarasi sehari setelahnya.
Ia mengawali videonya dengan memberikan apresiasi kepada mahasiswa Trisakti dan mahasiswa dari berbagai kampus yang turun ke jalan.
Ia menyebut aksi mereka berbeda dari kegiatan deklarasi yang menjadi sorotannya.
Andovi kemudian mengkritik penyelenggaraan deklarasi Sumpah Pemuda pada 29 Oktober.
Ia mempertanyakan alasan kegiatan tersebut digelar sehari setelah tanggal peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober.
Polemik semakin ramai setelah istilah “mahasewa” mencuat menyusul wawancara dengan salah seorang peserta deklarasi yang mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira), tetapi kesulitan menjelaskan asal kampusnya.
Bagi Andovi, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi narasi yang merugikan gerakan mahasiswa.
Orang-orang yang tidak mengetahui konteksnya bisa saja menyimpulkan bahwa mahasiswa yang turun ke jalan hanya mencari perhatian atau tidak layak dipercaya.
“Nah, tentu kita-kita yang punya otak tahu perbedaan 28 Oktober Bundaran HI sama 29 Oktober bersama mereka yang merayakan Sumpah Pemuda tanggal 29 Oktober ini kita tahu perbedaannya,” ujar Andovi dalam video tersebut.
Ia menilai, meskipun sebagian masyarakat memahami perbedaan kedua kegiatan itu, belum tentu seluruh orang memiliki informasi yang sama.***






