POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) di kancah internasional.

Tiga mahasiswi ITB berhasil meraih Juara 1 Market.inc International Applied Business Competition 2026 setelah mengungguli peserta dari Australia dan Singapura.

Ketiganya tergabung dalam Tim Cantix yang beranggotakan Sarah Eudora Simamora, Paramadina Kinarhasna Bulfiah (Kinar), dan Tazkia Zahra Aulia.

Mereka merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2024, Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB.

Dari portal resmi kampus yang diterbitkan Jumat (6/11/2026), Tim Cantix menawarkan rancangan strategi pemasaran untuk produk GATSBY Wipes dalam kompetisi tersebut, yakni tisu basah yang ditujukan untuk perawatan pria.

Strategi yang mereka susun berangkat dari riset konsumen untuk meningkatkan minat terhadap produk yang belum menjadi bagian dari kebiasaan perawatan diri pria di Indonesia.

Babak final kompetisi berlangsung secara daring pada Selasa (6/10/2026). Seluruh proses persiapan hingga penyusunan strategi dikerjakan ketiga mahasiswi tersebut secara mandiri.

Tantangan Membangun Kebiasaan Baru Perawatan Pria

Market.inc merupakan kompetisi yang digagas Markathing Indonesia, agensi komunikasi pemasaran butik, bersama Applied Syndicate Project (ASP), program capstone berbasis industri di University of Melbourne. GATSBY menjadi mitra merek dalam kompetisi ini.

Ajang tersebut diikuti sekitar 250 pendaftar dari delapan negara. Dari jumlah tersebut, lima tim yang berasal dari lima perguruan tinggi di Indonesia, Singapura, dan Australia berhasil melaju ke babak final.

Peserta ditantang menyusun rencana pemasaran selama tiga tahun yang mampu meyakinkan manajemen perusahaan untuk berinvestasi dalam pengembangan kategori produk tersebut.

Bagi Tim Cantix, persoalan utamanya bukan sekadar memperkenalkan produk kepada konsumen. Mereka juga harus membangun persepsi bahwa GATSBY Wipes memiliki manfaat yang sepadan dengan harganya.

Karena itu, ketiganya berupaya memahami kebutuhan konsumen sekaligus mengidentifikasi faktor yang selama ini menghambat minat pembelian.

Riset Konsumen Melahirkan Kampanye GATSBY for What's Next

Untuk mendapatkan gambaran pasar yang lebih mendalam, Tim Cantix melakukan riset melalui studi literatur dan data sekunder, survei, wawancara, serta diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD).

Hasil riset tersebut menjadi landasan dalam menentukan segmentasi pasar dan merancang pendekatan pemasaran sesuai karakteristik masing-masing konsumen.

Tim Cantix menetapkan Social Hustler sebagai segmen utama, yaitu pria muda dengan mobilitas tinggi yang aktif berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.

Selain itu, mereka menyasar kelompok Commuter atau pengguna transportasi untuk aktivitas sehari-hari, serta Sports Enthusiast atau individu yang aktif berolahraga.

Setiap segmen mendapatkan pendekatan pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan mereka.

Dari hasil riset, Tim Cantix menemukan bahwa kebutuhan konsumen ternyata tidak hanya berkaitan dengan kebersihan wajah. Kenyamanan dan kepercayaan diri saat menjalani berbagai aktivitas juga menjadi pertimbangan penting.

“Mereka ingin merasa segar dan percaya diri sebelum menjalani aktivitas berikutnya. Temuan ini kami kembangkan menjadi kampanye GATSBY for What’s Next, yang memosisikan GATSBY Wipes sebagai on-the-go grooming essential dan bukan sekadar tisu basah berharga premium,” ungkap Kinar.

Kampanye tersebut dirancang untuk mengubah cara pandang konsumen terhadap GATSBY Wipes, dari sekadar produk tisu basah menjadi kebutuhan praktis untuk menunjang penampilan dan kesegaran diri saat beraktivitas.

Strategi Pemasaran dari Pengenalan Produk hingga Pembelian Ulang

Tidak berhenti pada konsep kampanye, Tim Cantix juga menyusun strategi pemasaran yang mencakup seluruh perjalanan konsumen.

Strategi tersebut dimulai dari tahap mengenal produk (awareness), mencoba (trial), melakukan pembelian, hingga mendorong pembelian ulang.

Sejumlah gagasan yang ditawarkan meliputi Digital Trial Pass untuk mendorong konsumen mencoba produk, penyediaan paket percobaan, pemanfaatan mesin penjual otomatis, serta kolaborasi dengan berbagai mitra untuk memperluas akses konsumen.

Setiap gagasan disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, kemudahan penerapan, dan potensi keberlanjutan bisnis.

Dengan pendekatan tersebut, strategi yang diajukan tidak hanya mengandalkan daya tarik kampanye, tetapi juga memperhitungkan kelayakan pelaksanaannya.

Dalam pengerjaan proyek, ketiga anggota tim membagi tanggung jawab berdasarkan bidang analisis masing-masing.

Kinar berfokus pada analisis konsumen dan pasar, Tazkia menangani aspek komersial dan aktivasi pemasaran, sedangkan Sarah mengerjakan analisis kompetitor serta produk pengganti.

Ketiganya kemudian berkolaborasi merumuskan solusi. Kinar dan Tazkia menyusun peta jalan implementasi, mitigasi risiko, dan indikator kinerja. Sementara itu, Sarah mengembangkan analisis keuangan untuk mendukung kelayakan strategi yang diajukan.

Proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Tim harus mengevaluasi berbagai ide agar tetap sesuai dengan hasil riset dan kebutuhan konsumen.

Di sisi lain, jadwal kompetisi yang padat juga kerap berbenturan dengan kegiatan akademik. Meski menghadapi tekanan dan kelelahan, ketiganya tetap berkomitmen menyelesaikan rancangan strategi hingga tahap akhir.

Pemahaman Konsumen Indonesia Jadi Keunggulan

Bersaing dengan peserta dari berbagai negara memberikan pengalaman tersendiri bagi Tim Cantix. Mereka berkesempatan mempelajari beragam pendekatan dalam menyelesaikan persoalan bisnis yang sama.

Menurut Tazkia, salah satu keunggulan timnya terletak pada pemahaman terhadap karakteristik dan perilaku konsumen Indonesia sebagai pasar utama dalam kasus kompetisi tersebut.

“Kami mahasiswi Indonesia yang mengerjakan kasus untuk konsumen Indonesia, jadi lebih mudah membaca perilaku konsumen dan masalah yang benar-benar mereka alami,” kata Tazkia.

Pada babak final, Tim Cantix mempresentasikan strategi di hadapan dewan juri. Sesi tanya jawab menjadi kesempatan bagi mereka untuk menjelaskan dasar riset, pertimbangan bisnis, serta alasan di balik setiap solusi yang ditawarkan.

Keberhasilan meraih posisi pertama menjadi pencapaian membanggakan bagi ketiganya, terlebih setelah bersaing dengan peserta dari berbagai universitas internasional.

“Dari awal kami berharap bisa menang dan tetap optimistis, tetapi jujur tidak menyangka bisa sampai juara 1, apalagi melihat banyaknya peserta dari berbagai negara,” ujar Sarah.

Menariknya, saat pengumuman pemenang berlangsung, ketiga anggota Tim Cantix berada di lokasi berbeda. Meski demikian, mereka sama-sama merasakan kebahagiaan dan kebanggaan karena kerja keras selama kompetisi akhirnya membuahkan hasil.

Bekal Perkuliahan hingga Pengalaman Kompetisi Internasional

Bagi Tim Cantix, pengalaman tersebut semakin memperkuat pemahaman bahwa menyelesaikan persoalan bisnis tidak cukup hanya mengandalkan ide kreatif.

Sebuah solusi juga harus didasarkan pada pemahaman pasar, didukung analisis yang kuat, serta memungkinkan untuk diterapkan.

Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, terutama mengenai perilaku konsumen dan analisis pasar, menjadi bekal penting bagi mereka dalam mengikuti kompetisi ini.

Kinar dan Tazkia yang mengambil peminatan pemasaran (marketing) bahkan dapat menerapkan secara langsung berbagai konsep yang sebelumnya dipelajari di kelas.

Selain kemampuan akademik, kompetisi tersebut turut mengasah keterampilan berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama, dan berkomunikasi dalam lingkungan persaingan internasional.

Tim Cantix berharap pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa ITB lainnya untuk berani mengikuti kompetisi internasional, memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, serta menghadirkan gagasan dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat maupun industri.

Sebab, kesempatan untuk membawa nama kampus ke panggung internasional bisa berawal dari keberanian mencoba, ketekunan mengembangkan ide, dan kemauan untuk memahami persoalan di sekitar. ***