POJOKSATU.id - Enam mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil mengharumkan nama kampus di tingkat internasional.

Mereka meraih Gold Award dalam ajang International Invention & Innovative Competition (InIIC) 2026 yang diselenggarakan MNNF Network, Malaysia, Sabtu (31/10/2026).

Penghargaan tersebut diberikan pada kategori Higher Institution Students - Science, Technology, Engineering & Mathematics (STEM) melalui inovasi bernama MeshRescue.

Teknologi ini dirancang sebagai sistem komunikasi darurat berbasis perangkat seluler untuk membantu proses penyelamatan pendaki gunung, terutama ketika berada di kawasan yang tidak terjangkau sinyal seluler atau blank spot.

Tak hanya membawa pulang medali emas, karya mahasiswa UPI tersebut juga terpilih sebagai salah satu YouTube Lucky Draw Winners.

Penelitian MeshRescue bahkan diterbitkan sebagai Chapter 15 dalam buku Compilation of Research Papers on STEM yang diterbitkan MNNF Publisher, Malaysia.

Berawal dari Tugas Mata Kuliah Fisika Modern

Tim pengembang MeshRescue terdiri atas Pandu Ihsanul Nurzaman, Alifian Nur Fadilah, Anwar Sabiq, Arvenda Anggara Putra, Muhamad Rivan Kusuma, dan Tanisa Dalilatul Wafda.

Menariknya, inovasi yang mendapat pengakuan internasional ini berawal dari tugas mata kuliah Fisika Modern.

Proyek tersebut dikembangkan di bawah bimbingan Dr. Selly Feranie, S.Pd., M.Si., bersama tim dosen pengampu, yakni Dr. Djudistira Aria, Suci Ramayanti, Ph.D., dan Feri Apriyandi, M.Si.

Dosen pembimbing sekaligus pengampu mata kuliah Fisika Modern, Dr. Selly Feranie, mengaku bangga karena mahasiswa mampu mengembangkan teori fisika menjadi solusi nyata yang mendapat pengakuan di tingkat internasional.

“Kami merancang pembelajaran Fisika Modern dengan tiga kata kunci utama, yaitu Teknologi, Masyarakat, dan Solusi.

Kami ingin mahasiswa tidak hanya menguasai kompetensi pengetahuan fisika standar nasional, tetapi juga terlatih melakukan eksplorasi masalah riil di lapangan hingga merancang desain solusinya,” ujar Dr. Selly Feranie.

Menurutnya, pembelajaran tersebut memang dirancang untuk mendorong mahasiswa menghasilkan karya inovatif, bukan sekadar memahami materi dan mengejar nilai ujian.

Skema penilaian mata kuliah Fisika Modern terdiri atas 60 persen penilaian berbasis proyek dan 40 persen akademis.

Komposisi ini diharapkan dapat membangun budaya inovasi sekaligus mengasah kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan nyata.

“Pendekatan berbasis proyek ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya berorientasi pada nilai ujian kertas, tetapi juga terdorong mengasah kreativitas, kolaborasi, dan inovasi yang berdampak sosial.

Sebagai bentuk apresiasi kampus, tim yang berhasil meraih minimal medali perak di tingkat internasional secara otomatis mendapatkan nilai sempurna untuk komponen proyek,” jelasnya.

MeshRescue Bisa Kirim Pesan SOS Tanpa Sinyal Seluler

Dari sisi teknologi, MeshRescue memanfaatkan Bluetooth Low Energy dan Wi-Fi Direct untuk membangun jaringan komunikasi antarsmartphone.

Sistem ini memungkinkan perangkat saling terhubung meskipun tidak memiliki akses ke jaringan seluler. Dengan demikian, pesan darurat tetap bisa dikirim melalui perangkat lain yang berada dalam jangkauan komunikasi.

MeshRescue menggunakan mekanisme store-carry-forward. Melalui mekanisme ini, pesan SOS beserta koordinat GPS korban dapat diteruskan secara berantai dari satu perangkat ke perangkat lainnya hingga mencapai pos tim penyelamat.

Inovasi tersebut juga dilengkapi fitur digital triage yang secara otomatis memprioritaskan pengiriman pesan berdasarkan tingkat kedaruratan kondisi korban.

Fitur ini menjadi bagian penting karena dalam situasi darurat di gunung, kecepatan penyampaian informasi dapat memengaruhi proses penanganan dan penyelamatan.

Keberhasilan MeshRescue memperlihatkan bagaimana tugas perkuliahan dapat berkembang menjadi inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Dari ruang kelas, enam mahasiswa UPI membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat diolah menjadi teknologi yang memiliki manfaat nyata, bahkan mendapat pengakuan di panggung internasional.

Prestasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan teori. Ada persoalan di sekitar yang menunggu untuk dipahami, diteliti, dan dicarikan solusinya. ***