POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan seluruh sekolah yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki paling lambat akhir 2029.
Pemerintah terus memperkuat anggaran revitalisasi agar sekolah dengan kondisi rusak ringan, sedang, berat, hingga rusak total bisa segera mendapatkan perbaikan.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti mengatakan, peningkatan alokasi anggaran menjadi salah satu upaya pemerintah mempercepat pembenahan infrastruktur pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.
Target tersebut juga mencakup pembangunan unit sekolah baru di daerah yang belum memiliki fasilitas pendidikan.
Hal itu disampaikan Suharti dalam taklimat media bertajuk “2 Tahun Gerak Nyata Pendidikan Bermutu untuk Semua” di Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
“Untuk anggaran yang ada di Kemendikdasmen sendiri, meningkat dari waktu ke waktu,” kata Suharti.
Anggaran Revitalisasi Sekolah Terus Diperkuat
Suharti menjelaskan, pagu anggaran Kemendikdasmen pada awal 2026 sebesar Rp56 triliun. Namun, anggaran tersebut sempat mengalami efisiensi menjadi Rp50 triliun.
Pemerintah kemudian menambahkan anggaran untuk mendukung revitalisasi sekolah, digitalisasi pendidikan, dan sejumlah program lainnya.
“Tahun ini saja sebagai contoh, alokasi di pagu anggaran waktu itu Rp56 triliun, kemudian memang betul ada efisiensi menjadi Rp50 triliun, tetapi sudah ditambah lagi Rp28 triliun untuk revitalisasi, digitalisasi dan sebagainya,” papar Suharti.
Ia juga menyampaikan bahwa Kemendikdasmen kembali memperoleh tambahan anggaran pada pekan tersebut.
“Dan baru dua hari yang lalu kita juga mendapatkan tambahan anggaran lagi sebesar Rp19 triliun,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Suharti menyebut total anggaran Kemendikdasmen pada 2026 mencapai Rp88 triliun. Menurutnya, sebagian besar anggaran tersebut diarahkan untuk mendukung revitalisasi sekolah.
“Jadi Rp88 triliun dialokasikan untuk Kemendikdasmen tahun ini, dan banyak sekali dialokasikan untuk melakukan revitalisasi supaya tadi data-data banyak sekolah yang masih kondisi rusak, baik itu rusak ringan, rusak sedang maupun rusak berat, bahkan rusak total, bisa segera direvitalisasi,” terang Suharti.
Melalui dukungan anggaran tersebut, pemerintah berharap perbaikan sekolah dapat dipercepat sehingga peserta didik tidak terus belajar di bangunan yang kondisinya tidak layak.
Perbaikan Sekolah Ditargetkan Selesai pada 2029
Target penyelesaian revitalisasi sekolah hingga akhir 2029 merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan secara menyeluruh.
Pemerintah ingin memastikan sekolah memiliki bangunan yang aman, bersih, dan layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Dalam arahannya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI serta DPD RI pada Agustus 2026, Presiden Prabowo menegaskan bahwa renovasi seluruh sekolah yang membutuhkan perbaikan harus diselesaikan paling lambat pada 2029.
Suharti berharap target tersebut dapat tercapai sehingga tidak ada lagi sekolah yang harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan perbaikan.
“Mudah-mudahan sampai akhir 2029 sebagai janji Pak Presiden, semua sekolah yang rusak bisa diperbaiki,” harap Suharti.
Untuk mempercepat pelaksanaannya, pemerintah juga terus menjalankan program revitalisasi pada 2026.
Kemendikdasmen sebelumnya menyampaikan bahwa program revitalisasi tahun ini menjangkau 35.769 satuan pendidikan melalui skema swakelola, dengan alokasi anggaran sekitar Rp26 triliun berdasarkan data yang diumumkan pada 15 Oktober 2026.
Program tersebut juga mencakup pembangunan unit sekolah baru.
Pemerintah Bangun Sekolah Baru di Daerah yang Belum Memiliki Fasilitas
Selain memperbaiki bangunan sekolah yang rusak, pemerintah menyiapkan pembangunan unit sekolah baru di daerah yang belum memiliki satuan pendidikan.
Langkah tersebut penting untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan fasilitas sekolah.
“Bahkan untuk daerah-daerah yang memang belum punya sekolah, kita juga melakukan pembangunan unit sekolah baru,” ucap Suharti.
Ia berharap revitalisasi dan pembangunan sekolah baru dapat berjalan beriringan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur pendidikan di berbagai daerah.
“Dan wilayah-wilayah yang tidak punya sekolah juga sudah kita siapkan sekolahnya,” kata dia.
Dengan demikian, program revitalisasi tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan yang telah berdiri, tetapi juga pada penyediaan fasilitas pendidikan baru di wilayah yang membutuhkan.
Sekolah Layak Menjadi Fondasi Pendidikan Bermutu
Perbaikan infrastruktur pendidikan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan mutu pembelajaran.
Bangunan yang aman dan layak dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman bagi murid maupun guru.
Sekolah dengan kerusakan berat membutuhkan perhatian khusus karena kondisi bangunan dapat mengganggu kegiatan belajar dan berpotensi membahayakan keselamatan warga sekolah.
Karena itu, percepatan revitalisasi perlu diikuti dengan penentuan prioritas berdasarkan tingkat kerusakan, kebutuhan satuan pendidikan, dan kondisi wilayah.
Pemerintah juga perlu memastikan pelaksanaan pembangunan berjalan sesuai ketentuan serta menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat digunakan dalam jangka panjang. ***






