POJOKSATU.id — Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (28/9/2026) pagi.
Rupiah berada di level Rp17.948 per dolar AS, turun 45 poin atau sekitar 0,25 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah kondisi mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Yuan China tercatat melemah 0,03 persen, peso Filipina turun 0,05 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,15 persen, sedangkan dolar Singapura melemah 0,09 persen.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah 20 Tahun Terakhir, Kenapa Dulu Rp9.000 Kini Tembus Rp18.000 per Dolar?
Tekanan juga terjadi pada yen Jepang yang turun 0,29 persen dan won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,59 persen.
Sementara itu, dolar Hong Kong tercatat bergerak relatif datar terhadap dolar AS.
Kondisi serupa juga terlihat pada sejumlah mata uang negara maju. Euro Eropa melemah 0,01 persen, poundsterling Inggris turun 0,03 persen, dolar Australia terkoreksi 0,05 persen, dolar Kanada turun 0,06 persen, dan franc Swiss melemah 0,12 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi mengalami tekanan terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini.
Pergerakan nilai tukar tersebut tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar.
Pelemahan rupiah juga dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi dan pengeluaran masyarakat, terutama apabila berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Salah satu dampak yang dapat dirasakan adalah meningkatnya biaya barang impor.
Ketika rupiah melemah, importir membutuhkan lebih banyak rupiah untuk memperoleh barang dengan nilai dolar yang sama.
Kondisi ini dapat memengaruhi harga berbagai produk yang berasal dari luar negeri maupun barang dalam negeri yang menggunakan komponen impor.
Produk seperti elektronik, komputer, ponsel, mesin, komponen kendaraan, hingga sejumlah bahan baku industri memiliki potensi terdampak oleh perubahan nilai tukar.
Kenaikan biaya impor juga dapat merembet ke harga produk yang dibuat di dalam negeri.
Hal tersebut terjadi apabila produsen masih mengandalkan bahan baku, komponen, mesin, atau bahan penolong dari luar negeri.
Baca Juga: Rincian Hadiah China Open 2026, Gugur di 32 Besar Saja Kantongi Puluhan Juta Rupiah
Jika biaya produksi meningkat, sebagian pelaku usaha dapat menyesuaikan harga jual produknya.
Dampak lainnya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat yang menggunakan mata uang dolar AS.
Masyarakat yang harus melakukan pembayaran dalam dolar, seperti untuk perjalanan ke luar negeri, pendidikan, pembelian barang dari luar negeri, maupun transaksi internasional, perlu menyediakan rupiah lebih banyak ketika nilai dolar menguat.
Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan beban pembayaran bagi perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Terburuk Tahun Ini, Harga Dolar AS Tembus Rp17.000 di Bank
Saat kewajiban tersebut jatuh tempo, perusahaan harus mengonversikan rupiah dalam jumlah lebih besar untuk memperoleh dolar yang dibutuhkan.
Besarnya dampak tentu bergantung pada nilai kewajiban, struktur pendapatan, serta strategi lindung nilai yang digunakan perusahaan.
Di sisi lain, pelemahan rupiah tidak selalu memberikan dampak negatif bagi seluruh pelaku usaha.
Baca Juga: Prabowo Umumkan Gibran Cawapres, IHSG Anjlok Lebih 1%, Rupiah Melemah
Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS dapat menerima nilai rupiah lebih besar ketika pendapatan tersebut dikonversikan ke mata uang domestik.
Namun, keuntungan tersebut juga dipengaruhi oleh struktur biaya perusahaan.
Eksportir yang masih menggunakan banyak bahan baku atau komponen impor tetap dapat menghadapi kenaikan biaya ketika rupiah melemah.
Pelemahan nilai tukar juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memberikan tekanan terhadap inflasi melalui kenaikan biaya barang dan bahan baku dari luar negeri.
Meski demikian, pelemahan rupiah sebesar 0,25 persen dalam satu sesi perdagangan tidak berarti seluruh harga barang akan langsung mengalami kenaikan pada hari yang sama.
Baca Juga: Saat Rupiah Melemah, Apa yang Harus Dilakukan? Ini Strategi Keuangan yang Perlu Dicoba
Dampaknya bergantung pada durasi pelemahan, kondisi permintaan dan pasokan, harga komoditas global, kebijakan pemerintah, serta seberapa besar ketergantungan suatu produk terhadap barang atau bahan baku impor.
Dengan demikian, pergerakan rupiah ke level Rp17.948 per dolar AS menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati, terutama karena nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, produksi, transaksi luar negeri, hingga pengeluaran masyarakat apabila tekanan berlangsung secara berkelanjutan.***




