JAKARTA, POJOKSATU.id - Tekanan tajam di pasar saham Indonesia menjadi sorotan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 10 persen hingga akhir sesi I perdagangan Jumat (16/10/2026) kemarin.
Di tengah gejolak tersebut, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengingatkan investor agar memperkuat kemampuan analisis mandiri dan tidak mudah terbawa kepanikan pasar.
Dradjad meminta investor melakukan perhitungan sendiri terhadap kinerja keuangan perusahaan, pergerakan saham, serta prospek emiten, termasuk perusahaan di sektor konsumer.
Menurutnya, kemampuan melakukan analisis secara independen diperlukan agar investor dapat mengambil keputusan berdasarkan perhitungan yang matang, terutama ketika pasar mengalami tekanan.
”Tolong teman-teman investor hitung sendiri. Lakukan modelling (peninjauan performa keuangan) sendiri, hitung ritme saham dan emiten konsumen sendiri,” kata Dradjad dikutip Sabtu (17/10/2026).
Pernyataan tersebut muncul ketika pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Penyedia indeks saham global itu mengusulkan penurunan klasifikasi pasar Indonesia menjadi Standalone Market serta memperpanjang pembekuan penyesuaian saham Indonesia dalam indeksnya.
Sentimen tersebut memicu aksi jual besar-besaran pada awal perdagangan. IHSG dibuka di level 5.393, turun dari penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 5.863.
Pelemahan lebih dari 8 persen memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit.
Tekanan berlanjut hingga akhir sesi I. IHSG tercatat turun 10,56 persen ke level 5.244,33.
Pelemahan ini juga membawa indeks ke level terendah sepanjang 2026, melampaui posisi terendah yang tercatat pada 8 Juni 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai reaksi pasar kali ini menunjukkan kepanikan yang bahkan berada di luar perkiraan analis.
Meski demikian, menurut Liza, pelaku pasar sebelumnya telah memperkirakan MSCI akan mempertahankan pembekuan penyesuaian saham Indonesia. Hal itu berkaitan dengan kepercayaan investor yang dinilai telah melemah sejak awal.
Dalam keterangannya, MSCI menyebut para pelaku pasar belum melihat perubahan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Penyedia indeks tersebut juga menyoroti kekhawatiran mengenai disfungsi pasar, dugaan transaksi jual-beli saham yang terkoordinasi, serta minimnya bukti penegakan regulasi yang dinilai memadai.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui perubahan administratif.
Menurutnya, pelaksanaan aturan di lapangan dan perlindungan terhadap investor minoritas juga perlu menjadi perhatian.
Bhima memperingatkan bahwa ancaman penurunan klasifikasi pasar dapat berdampak terhadap kepercayaan investor asing.
Jika kepercayaan tersebut terus melemah, arus keluar modal asing berpotensi menambah tekanan terhadap pasar saham domestik.
Sementara itu, Liza menyarankan investor untuk bersikap hati-hati dan mempertimbangkan strategi wait and see daripada langsung membeli saham hanya karena harganya turun.
Ia menilai persoalan yang disoroti MSCI perlu ditangani secara serius karena berkaitan dengan aspek fundamental pasar modal.
Liza juga meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar serta penyedia indeks global.
Menurutnya, otoritas pasar modal perlu memastikan bahwa persoalan yang menjadi perhatian investor internasional ditangani melalui perbaikan yang nyata.
Gejolak IHSG kali ini tidak hanya menjadi tantangan bagi investor dalam menghadapi volatilitas, tetapi juga menempatkan transparansi, kredibilitas regulasi, dan kepercayaan pasar sebagai isu penting bagi keberlanjutan pasar modal Indonesia.







