POJOKSATU.id - Tekanan jual kembali menghantam pasar saham Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus mengakhiri perdagangan Kamis, 10 September 2026 di zona merah dengan penurunan 1,33 persen ke posisi 6.589.
Pelemahan tersebut bukan sekadar dipicu satu saham.
Sejumlah emiten berkapitalisasi besar ikut terseret, membuat tekanan terhadap indeks semakin terasa sepanjang sesi perdagangan.
Baca Juga: Kota Murung
IHSG sempat bergerak di area 6.712 sebelum akhirnya merosot hingga level terendah 6.585.
Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat sampai penghujung perdagangan.
Dari jajaran saham yang menjadi pemberat indeks, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berada di posisi teratas dengan kontribusi penurunan sebesar 14,67 poin.
Setelah BBRI, tekanan berikutnya datang dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 11,06 poin dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengurangi 8,87 poin terhadap IHSG.
Baca Juga: BRICS Siapkan Jalur Pembayaran Lintas Negara, Transaksi Dagang Ingin Dibuat Lebih Murah
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga masuk jajaran saham besar yang memberikan tekanan.
Secara sektoral, hampir seluruh sektor utama ikut terkoreksi. Saham energi turun 2,05 persen, kemudian transportasi melemah 1,81 persen dan infrastruktur terkoreksi 1,31 persen.
Tekanan juga terlihat pada sektor kesehatan yang turun 1,22 persen serta barang baku sebesar 1,19 persen.
Baca Juga: Link Download Perangkat Ajar Deep Learning SD Lengkap Semua Kelas dan Mapel, Gratis untuk Guru
Di tengah tekanan tersebut, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap ramai.
Nilai perdagangan tercatat Rp21,58 triliun dengan volume 51,07 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 2,67 juta kali.
Namun, peta pergerakan saham menunjukkan sentimen pasar cenderung defensif.
Sebanyak 516 saham berakhir melemah, sedangkan hanya 150 saham yang mampu menguat dan 127 saham lainnya stagnan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Bagikan 11 Ribu Masker Respons Erupsi Gunung Anak Krakatau
Sentimen global ikut menekan
Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG tidak terlepas dari kondisi pasar regional dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan harga minyak Brent hingga menembus US$102 per barel menjadi perhatian tersendiri.
Lonjakan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap defisit APBN apabila harga energi bertahan tinggi.
Situasi pasar juga diperberat oleh meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada September 2026.
Baca Juga: Chrome Kena Zero-Day Berbahaya, Pengguna Diminta Segera Restart Browser
Berdasarkan data CME FedWatch Tools, probabilitas tersebut naik menjadi 62,2 persen dari sekitar 49,4 persen sebelumnya.
Di pasar valuta asing, rupiah ikut memberikan tekanan tambahan.
Mata uang Garuda ditutup melemah 0,15 persen ke level Rp17.539 per dolar AS di pasar spot.
Kombinasi antara minyak yang mahal, ketegangan geopolitik, potensi kebijakan moneter ketat, dan pelemahan rupiah membuat investor harus menghadapi lebih banyak ketidakpastian.
Baca Juga: Terapi ABK Tak Harus Menunggu Sebulan, Mahasiswa UNDIP Hadirkan SAPA ABK
IHSG masih rawan terkoreksi
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas melihat posisi IHSG mulai memberikan sinyal yang perlu diperhatikan.
Indeks ditutup di bawah MA-5 dan MA-10. Sementara itu, indikator MACD dan Stochastic RSI membentuk pola death cross.
Kondisi tersebut membuat level MA20 di sekitar 6.525 menjadi area penting yang perlu dicermati pada perdagangan berikutnya.
“Jika break dari level tersebut, berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.460–6.500,” papar Phintraco, Kamis.
Pandangan serupa disampaikan Panin Sekuritas.
Baca Juga: KKB Rampas HP ASN Willi Mbuik yang Mereka Tembak Lalu Video Call Ayahnya Sambil Tertawa
Setelah IHSG turun di bawah support MA-5 pada 6.630, indeks dinilai masih berpeluang melanjutkan tekanan menuju MA-20 di 6.529.
Jika tekanan berlanjut, level MA-50 di 6.420 menjadi area berikutnya yang diharapkan mampu menahan penurunan. Dari sana, peluang rebound menuju
resistance 6.713 masih terbuka.
Artinya, investor kini tidak hanya perlu memperhatikan pergerakan saham-saham big caps, tetapi juga kemampuan IHSG bertahan di area support penting.
Perdagangan berikutnya pun menjadi cukup krusial.
Baca Juga: Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026 Dibuka, Mahasiswa UIN Jambi Semester 5 Bisa Daftar
Apabila tekanan jual mereda dan level support mampu dipertahankan, peluang pemulihan masih terbuka.
Namun jika support ditembus, ruang koreksi IHSG bisa kembali melebar..***




