POJOKSATU.id - Tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia juga memiliki piramida yang tak kalah dengan piramida di Mesir. Piramida Indonesia itu adalah Gunung Padang.
Terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Gunung Padang dipercaya sudah berumur 5.000 tahun lebih.
Bahkan, sejumlah arkeolog percaya situs megalitikum peninggalan prasejarah ini jauh lebih tua dibanding piramida di Mesir.
Pendapat itu dikemukakan Arkeolog dari Universitas Indonesia Ali Akbar berdasarkan analisa temuan di laboratorium Beta Analitic Miami di Florida, Amerika Serikat.
Ali Akbar mengungkapkan, Gunung Padang dibangun dengan struktur berlapir-lapis dimana semakin ke bawah, maka lapisan bangunan itu jauh semakin tua.
Berdasarkan penelitiannya dan hasil carbon dating dari sampel yang diperiksa di Laboratorium Badan Atom Nasional (BATAN), lapisan tanah terluar sampai kedalaman 60 cm berumur sekitar 600 tahun SM.
Sementara lapisan pasir kerikil pada kedalaman 3-4 meter yang melandasi situ, diduga berumur 4.700 SM atau lebih tua.
Umur lapisan tanah uruk di kedalaman 4 meter diduga merupakan struktur yang dibuat oleh manusia yang diisi pasir dengan kedalaman 8-10 meter di bawah Teras 5 diduga umurnya sekitar 7600-7800 SM. Hal itu merupakan hasil tes di laboratorium di Miami, Florida.
BACA JUGA: Muncul Penampakan Raksasa, Ratusan Pengunjung Gunung Padang Kesurupan
Kemudian umur dari pasir yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter hasil uji coba laboratorium BATAN, ditaksir berusia sekitar 11.600-an tahun SM atau lebih tua.
Sedangkan umur lapisan kedalaman sekitar 5 meter sampai 12 meter hasil uji di laboratorium Florida, diperkirakan berusia sekitar 14.500 – 25.000 SM.
Ali juga menyatakan, berdasarkan penelitian laboratorium, usia bangunan Gunung Padang kuat dugaan buatan leluhur manusia Indonesia.
Yang cukup mengejutkan adalah, melihat konstruksinya, bangunan Gunuung Padang lebih maju ketimbang piramida Mesir karena ditemukan unsur perekat purba yang dipakai pada struktur bangunan.
"Piramida sepengetahuan saya tidak pakai perekat. Konstruksinya adalah balok-balok batu besar yang saling ditumpuk sehingga balok bagian atas memberi beban ke balok di bawahnya," jelas Ali Akbar.
Dengan adanya struktur berlaps dan menggunakan pondasi sampai 8 meter itulah arkeolog berkesimpulan bahwa saat pembangunan Gunung Padang sudah menerapkan teknologi yang cukup maju.
Sementara jika pondasinya saja sampai 8 meter, maka dipastikan bangunan di atasnya pasti sangat besar.
Benua Atlantis yang Hilang
Sementara, Prof Arysio Santos Ph.D, seorang profesor teknik nuklir dari Universitas Federal Minas Gerais Brazil, berhipotesa bahwa lokasi benua Atlantis yang hilang kemungkinan besar terletak di wilayah kepulauan antara Samudera Hindia hingga Laut China Selatan.
Santos berpendapat, bahwa benua Atlantis yang hilang itu tidak lain adalah kepulauan Indonesia.
Hipotesa Santos itu dituangkan dalam bukunya yang berjudul 'Atlantis: The Lost Continent Finally Found'.
Hipotesa sang profesor tersebut didapat melalui rangkaian berbagai penelitian yang meliputi bidang geologi, antropologi, linguistik, dan mitologi.
Sayangnya, hipotesa sang profesor itu hingga saat ini masih belum dilengkapi dengan bukti-bukti arkeologis dan masih jadi perdebatan di antara arkeolog dan sejarahwan.
BACA JUGA: Gunung Padang, Tempat Semedi Prabu Siliwangi
Benua Atlantis sendiri ditulis filsuf Plato dalam bukunya berjudul 'Timaeus dan Kritias' yang dibuat pada 360 SM.
Plato menuliskan, bahwa Atlantis terhampar 'di seberang pilar-pilar Herkules' dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM.
Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra 'hanya dalam waktu satu hari satu malam'.
Plato juga menggambarkan Atlantis dihuni manusia yang memiliki kemampuan teknologi yang sangat maju. Negeri dongeng itu sendiri dibangun oleh manusia setengah dewa.
Atlantis juga digambarkan Plato sebagai kawasan yang terdiri dari pulau-pulau terkonstrasi. Pemisahnya adalah parit-parit besar dan terhubung dengan kanal yang mengalir ke tengah.
Di pulau-pulau itu, ada emas, perak, dan material berharga lainnya dilengkapi hewan-hewan langka nan eksotis serta kumpulan kepulauan di bagian tengah yang menjadi ibu kotanya.
Plato mengatakan bahwa Atlantis ada sekitar 9.000 tahun sebelum masa hidupnya.
BACA JUGA: Peziarah Gunung Padang 'Minta' Pusaka Bertuah
Sementara, sejumlah peneliti Amerika Serikat menyatakan bahwa Atlantis ada di Indonesia dan sebagian mempercayai Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land.
Itu adalah pulau yang kini ditempati Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Tapi karena banjir besar dan berakhirnya zaman es, benua itu tenggelam sekitar 11.600 tahun lampau.
Benarkah Gunung Padang Bagian dari Atlantis?
Kisah Atlantis di Indonesia itu lantas dikait-kaitkan dengan keberadaan Gunung Padang karena situs megalitkum tersebut diperkirakan berusia 5.000 SM atau lebih tua dari peradaban Mesir yang berusia sekitar 3.000-4.000 SM.
Merujuk pada kisah waktu tenggelamnya benua Atlantis, maka yang paling dekat dengan peradapan Atlantis adalah Gunung Padang.
Akan tetapi, arkeolog dari Universitas Indonesia Ali Akbar tak berani memastikan bahwa benua Atlatis itu benar adanya atau tidak.
Hanya saja Ali Akbar menyebut, peradaban Mesir berusia sekitar 3.000 SM sementara peradapan Mesopotamia diperkirakan berusia 4.000 SM.
Dengan demikian, maka usia Gunung Padang lebih tua dari peradaban Mesir dan Mesopotamia.
Sementara peneliti Pusat Penelitan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, membantah keras klaim yang menyebut bahwa Atlantis berada di Indonesia, apalagi di Gunung Padang.
BACA JUGA: Merasakan Aura Mistis Gunung Padang di Malam Hari
Menurutnya, semua informasi tersebut adalah hoaks dan argumen-argumen 'llmiah' yang mendukung klaim tersebut adalah pseudo-science.
Ia menyatakan, Atlantis telah menjadi semacam obsesi bagi segelintir kelompok yang ingin membuktikan secara ilmiah kebenaran dari cerita Plato.
Bambang juga menyampaikan bahwa Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang dianggap sebagai benua Atlantis yang hilang.
Sebelumnya, ada banyak lokasi yang diprediksi sebagai lokasi hilangnya Atlantis. Seperti pulau Santorini di Laut Mediterania, wilayah perairan Segitiga Bermuda, Swedia, India, hingga Indonesia.
Namun semua itu masih sebatas hipotesis yang sampai saat ini belum ada fakta arkeologis yang benar-benar dapat membuktikan kebenaran cerita Atlantis yang hilang dan bisa diterima semua orang.
Jadi, bagaiamana dengan Anda? Cerita mana yang Anda percaya? (guruh/pojoksatu)




