Merasakan Aura Mistis Gunung Padang di Malam Hari

Peziarah berwudhu di sumur Cikahuripan sebelum ziarah
Peziarah berwudhu di sumur Cikahuripan sebelum ziarah
Peziarah berwudhu di sumur Cikahuripan sebelum ziarah

CIANJUR–Gunung Padang tak hanya menyisakan cerita prasejarah, situs yang disebut-sebut berusia 5.200 tahun sebelum masehi itu juga sarat dengan dunia mistis. Senin malam dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai puncak mistis di situs yang diklaim sebagai tempat peristirahatan Prabu Siliwangi tersebut. Karena itulah, pojoksatu.id melakukan perjalanan malam ke Gunung Padang untuk merasakan aura mistis di situs Meghalitikum tersebut pada Senin malam.

Jarum jam menunjukkan pukul 18:15, awan hitam menutupi langit Gunung Padang. Mobil Xenia yang membawa tim pojoksatu.id dan Radar Cianjur (grup pojoksatu.id) melaju peralahan melewati jalan berkelok. Ya, tak lama lagi kami akan tiba di situs yang disebut-sebut lebih tua dari peradaban Mesir Kuno itu.

Berbagai bayangan tentang cerita mistis yang menyertai keberadaan Gunung Padang terus melintas di benak saya. Mulai dari penampakan sosok tertentu dari foto-foto pengunjung, penemuan benda-benda pusaka dan purbakala, hingga keangkeran Gunung Padang itu sendiri.

Kendaraan terus melaju melalui aspal penuh gelombang menyibak lengangnya jalanan yang cukup gelap itu. Pun semakin lengang usai melewati Stasiun Kereta Api Lampegan dan memasuki perkebunan teh.
Dari jendela mobil yang terbuka setengahnya, angin mulai terasa berhembus lebih kencan. Lebih dingin, lebih senyap. Hanya beberapa kendaraan saja yang berpapasan dengan kami, selebihnya cuma sunyi dan angin dingin yang menerpa wajah.


Ketika hampir mencapai Gunung Padang, tak satu pun rumah yang kami lihat masih terbuka pintunya. Kami terus menerobos keheningan malam. Lampu penerangan hanya datang dari mobil yang kami kendarai dan pos penjagaan situs yang bersebelahan dengan loket. Kami pun seperti disambut dengan angin yang terasa menusuk ke pori-pori.

Dari tempat memarkir mobil itu, kami lantas bergerak menuju kediaman Nanang, koordinator Juru Pelihara Situs Gunung Padang. Usai mengetuk pintu dan mengucap salam, Nanang pun membuka pintu yang lantas mempersilahkan kami untuk masuk.

Nanang kemudian menghidangkan kepada kami masing-masing segelas besar teh panas pengobat dingin yang sudah mulai menusuk hingga ke tulang. Nanang tak sendiri. Ada dua jupel lainnya yang kebetulan ada di sana, Widodo dan Rusmawan.

Setelah sedikit berbincang dan mengutarakan niat kami, Nanang pun membalasnya dengan senyum. “Mangga, kalau akang memang mau ke puncak Gunung Padang nanti kami antar,” ujar dia usai menyalakan sebatang rokok kretek.

Kami pun lantas terlibat dalam perbincangan yang cukup hangat. Nanang mengakui, Senin malam adalah waktu yang tepat. Itu sebabnya, banyak peziarah yang memilih Senin malam untuk melakukan ritual di puncak Gunung Padang.

“Semua hari sebenarnya sama baiknya. Tapi, puncak mistis Gunung Padang memang Selasa Kliwon,” ungkapnya.

Setelah berbincang cukup lama dan mengutarakan maksud serta tujuan kami, Nanang pun mempersilahkan kami untuk mengambil wudhu dan membersihkan diri sebagai salah satu syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan ritual di puncak situs.

“Tapi mohon maaf saya tidak bisa menemani. Saya sedang tidak enak badan. Nanti akan diantar oleh dua teman saya ini ya,” ujar Nanang.

Widodo dan Rusmawan berjalan di depan kami menuju Sumber Mata Air Cikahuripan. Tak ada penerangan sama sekali. Satu-satunya penerangan yang didapat hanya dari sinar bulan yang ketika itu lebih sering sedikit tertutup awan mendung.

Di tempat itu, Widodo turun ke bawah mata air dan terlihat melantunkan sebuah tembang sunda yang cuma lambat-lambat kami dengar lantas membacakan doa-doa. Sementara, dengan berjongkok Rusmawan membakar dupa yang ditancapkan di sisi kiri dan ikut membacakan doa-doa.

Wangi dupa yang menyengat dan bertebaran di udara, ditambah dinginnya angin, seperti membawa kami ke dalam suasana mistis yang cukup kental. Tentu saja, sekujur tubuh ikut merinding.
“Air ini dipakai untuk membasuh wajah, tangan dan kaki,” ujar Widodo menyodorkan air Sumber Mata Air Cikahuripan dengan menggunakan gayung kepada kami.

Usai ritual kecil itu pun kami lantas menuju puncak situs melalui tangga lama yang memiliki kemiringan lebih dari 50 derajat itu. Dengan susah payah dan beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas, teras satu berhasil kami capai. Jam di tangan menunjukkan hampir pukul 21:00 WIB.

Suasana mistis pun kami rasakan cukup kuat ketika kaki pertama menginjakkan di teras satu itu. Angin bertambah kencang. Kembali, Rusmawan dan Widodo lantas berjongkok menghadap ke utara membakar dupa disertai dengan sedikit ritual dan doa-doa.

Sementara, kejadian aneh pun sempat dialami di teras pembuka ini. Suara-suara aneh beberapa kali terdengar seperti memanggil-manggil kami. Bayangan menyerupai manusia dengan badan tinggi besar sempat tertangkap mata telanjang kami. Bulu kuduk pun tegak berdiri ketika sebuah tiupan sampai ke telinga. Lalu, suara itu semakin mendekat hingga terdengar seperti suara nafas dan geraman yang terdengar cukup jelas.

Naluri fotografer Radar Cianjur (grup pojoksatu.id) pun tak ingin melepaskan momen itu dengan langsung mengambil gambar melalui jepretan kamera yang sudah disiapkannya. Tapi, kedua jupel itu mengingatkan kami agar mengambil foto dilakukan setelah semua rangkain ritual selesai. “Jangan ambil foto dulu. Ritualnya diselesaikan dulu, Kang,” ingatnya.

Saat kedua jupel itu melakukan ritual, dalam kegelapan, kami melihat dua orang peziarah yang sudah lebih dulu tiba dan terlihat sedang duduk bersila menghadap ke selatan. Keduanya melakukan ritualnya masing-masing dan di tempat yang terpisah.

Kami pun kemudian berjalan lagi menuju teras dua diteruskan ke teras tiga. Di teras tiga, tepatnya di bawah pohon Campaka yang cukup besar dan menjulang itu, ritual yang sama pun dilakukan kedua jupel yang mengantar Radar Cianjur. Keduanya pun kembali mengingatkan kami untuk ikut ritual dan berada tepat di belakang keduanya. “Silahkan duduk di belakang kami. Jangan jauh-jauh. Menghadapnya tetap ke utara,” ingat Widodo.

Berada di bawah pohon dengan angin di puncak situs yang lebih kencang, disertai dengan wawangian dari dupa yang dibakar, sempat menyiutkan nyali kami. Tak sedikitpun kami mau menggerakkan kepala untuk memperhatikan keadaan di bagian lain situs. Suasana mistis dan lebih mengarah ke angker pun semakin kuat kami rasakan.

Usai ritual, kami langsung bergegas mengambil langkah cukup cepat langsung menuju ke teras lima. Di tumpukan struktur batu yang disebut sebagai batu Singgana, jupel mempersilahkan kami untuk duduk bersila sementara dupa kembali dibakar. “Kita bertawasulan di sini,” ajak Rusmawan.

Di teras paling tinggi itu, angin bertiup jauh lebih kencang dari sebelumnya. Suara tiupan angin pun sangat jelas kami dengar. Beruntung, jaket yang cukup tebal sudah kami siapkan sebelumnya. Tapi sepertinya itu tidak cukup memberikan rasa hangat. Tetap saja, kami menggigil dibuatnya. Bahkan, telinga sampai terasa sakit lantaran menahan dinginnya malam itu.

“Puncak mistisnya nanti jam setengah dua belas sampai jam satu, Kang,” ujar Widodo usai bertawasulan.

Fotografer Radar Cianjur pun lantas berinisiatif mulai mengambil gambar. Namun aneh, bidikan kamera yang sudah disetting sedemikian rupa itu tidak dapat menghasilkan gambar dengan fokus yang diinginkan. Berkali-kali dicoba, hasil jepretannya tetap tidak bisa fokus dan selalu menghasilkan gambar blur. Hal itu pun langsung disampaikan kepada kedua jupel tersebut dan mengatakan bahwa hal itu sudah biasa.
“Itu tandanya harus minta izin dulu Kang,” jawab Rusmawan yang juga aktivis Forum Masyarakat Peduli Gunung Padang (FMPGP).

Rusmawan pun lantas berdiri menghadap utara dengan menyilangkan tangan di dada sambil memejamkan mata. Setelah itu, ia mempersilahkan untuk kembali menggambil gambar.

Hasilnya, jepretan fotografer Radar Cianjur pun akhirnya bisa fokus dan sesuai dengan yang diinginkan.Kami pun kembali terlibat dalam perbincangan yang berlangsung tidak cukup banyak. Kami lebih banyak duduk diam bersila dan mengamati keadaan sekeliling. Tidak ada hal yang aneh. Tapi di belakang tempat kami berkumpul, Radar Cianjur merasakan getaran mistis yang cukup kuat. Berkali-kali menoleh ke belakang, bulu kuduk langsung berdiri hingga membuat merinding sekujur tubuh.

Radar Cianjur pun menanyakan perihal perasaan itu kepada kedua jupel tersebut. Dengan enteng dan sedikit tersenyum, Rusmawan pun mengiyakan bahwa di belakang kami duduk memang aura mistisnya sangat kuat. “Tapi nanti pasti berpindah-pindang kang,” jawabnya singkat.

Cahaya Muncul di Balik Batu

Radar Cianjur semakin penasaran untuk lebih menyelami aura mistis di punden berundak terbesar di Asia Tenggara itu. Kami punmengumpulkan dan menguatkan nyali, meminta izin kepada kedua jupel itu untuk berkeliling dan merasakan sendiri aura mistis yang ada di puncak Gunung Padang itu.

Cukup lama berkeliling sendiri mulai dari teras satu hingga kembali lagi ke teras lima. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan dengan menghabiskan beberapa waktu sendirian di sejumlah tempat dan berharap agar mendapatkan pengalaman mistis yang cukup luar biasa untuk dibawa pulang dan diceritakan kembali.

Hingga saat Radar Cianjur merebahkan diri di bawah pohon teras empat di mana dulunya terdapat batu Kanuragaan dengan menghadap ke teras tiga, tepatnya di bawah pohon Campaka. Setengah jam berlalu tanpa ada sesuatu hal yang cukup berarti.

Sampai kemudian, sekitar pukul 00:15 WIB, kami mendapati setitik sinar yang redup-terang-redup terus menerus di sela-sela tumpukan bebatuan. Mata ini seperti tidak dapat mempercayai pemandangan itu. Dalam hati, antara yakin dan ragu, Radar Cianjur terus memandang ke arah sinar itu.

Dengan mengumpulkan nyali tersisa, tidak lebih dari lima menit sinar itu terus ada, kami pun langsung berlari menuju sinar itu. Dengan degup jantung yang makin keras dan cepat, sinar itupun lantas menghilang begitu saja ketika mencoba mengorek-ngorek dengan tangan kosong.

Beberapa waktu mengorek dan mencari apakah ada sesuatu di sela-sela tumpukan struktur batu itu. Sayang, Radar Cianjur pun tidak mendapati benda apapun. Yang ada hanya rasa hangat di tangan.
Dengan rasa penasaran yang dibarengi sedikit kekecewaan, Radar Cianjur pun menceritakan hal itu kepada kedua jupel yang mengawal kami. Mendengar hal itu, Widodo dan Rusmawan pun tersenyum.
“Tujuan Akang tadi ke sini kan ingin merasakan, mengalami dan melihat sendiri aura mistis di Gunung Padang. Ya itu tadi kan Akang diperlihatkan saja,” jawab Rusmawan.

“Gunung Padang ini tidak bisa diminta. Kalau memang jodoh, tanpa diminta sekalipun, pasti diberi kok, Kang,” tambah Widodo.

Widodo kemudian bercerita, suatu ketika ada seorang peziarah yang menghabiskan 40 hari 40 malam di Gunung Padang untuk melakukan ritual dengan tujuan mendapatkan benda-benda pusaka bertuah. Namun, sampai detik terakhir, orang itu pulang dengan tangan hampa.
“Kalau memang penghuni Gunung Padang ini merestui, tanpa memakai ritual pun pasti diberi. Warga sekitar saja banyak kok yang mendapatkan benda-benda pusaka dari sini tanpa disengaja dan tanpa ritual apapun,” jelas dia.

Tengah Malam, Angin Mendadak Berhenti

Kejadian aneh lain yang dialami Radar Cianjur di puncak Gunung Padang adalah berhentinya hembusan kencang angin dan hilangnya seluruh awan mendung yang sudah mengawal sejak pertaman kedatangan.
Hal itu terjadi tepat seperti yang dikatakan kedua jupel, yakni pukul 23:30-01:00 WIB sebagai puncak aura mistis di Gunung Padang. Suasana pun sangat hening. Tak ada angin. Tak ada suara binatang malam. Tak ada ujung pepohonan yang bergoyang.
Di sisi lain, suara lolongan anjing terus terdengar bersahut-sahutan dan bau wewangian menyengat menyerbak di udara. Padahal, dupa yang kami bakar sudah habis sedari tadi. “Ya inilah puncak aura mistis di sini,” ungkap Rusmawan.

Ada hal lain yang dialami Radar Cianjur selama berada di puncak Gunung Padang. Perlahan, aura angker dan mistis mencekam pudar digantikan rasa tentram, damai dan sangat tenang. Serasa enggan beranjak turun meninggalkan Gunung Padang. Bahkan, rasa ingin berlama-lama di puncak Gunung Padang pun semakin kuat.
“Jadi sebenarnya Gunung Padang ini adalah tempat untuk lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Tempat untuk merenung dan introspeksi diri serta memahami makna dan arti kehidupan,” urai Rusmawan.

Ditambahkan Widodo, Gunung Padang bukan sekedar sebuah bangunan peninggalan sejarah semata. Dalam proses pembangunannya, ada filosofi kehidupan yang ikut ditanamkan sehingga bisa menjadi penuntun seluruh umat manusia.

Sebagai contoh, kelima teras Gunung Padang itu mewakili perjalanan dan kehidupan manusia yang harus melalui lima alam yang berbeda. Mulai dari masih di dalam rahim, alam dunia, alam kubur, alam arwah dan alam abadi yakni surga atau neraka.
“Gunung Padang ini tidak sembarangan dibangun dan ditata sedemikian rupa serta memiliki alasan dan logika. Setiap manusia harus melewati tahapan dan fase kehidupan. Semua yang ada di sini penuh filosofi,” terang Widodo yang juga menjadi salah satu tokoh pemuda di Desa Gunung Padang itu. (ruh)