Gunung Padang, Tempat Semedi Prabu Siliwangi

Gunung_PAdang_dalam11 (2)
Juru Pelihara, Nanang sedang menceritakan sejarah Gunung Padang

CIANJUR-Sebagai salah satu peninggalan pra sejarah tatar Sunda, Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tak lepas dari mitos yang selalu terkait dengan Prabu Siliwangi. Berdasarkan seni folklor masyarakat sekitar yang diceritakan turun-temurun, di tatar Sunda bertakhta seorang raja agung bernama Prabu Siliwangi.

Suatu ketika, Prabu Siliwangi berniat membangun tempat suci sebagai tempat peribadatan. Setelah lama mencari, ditemukanlah puncak Gunung Padang sebagai tempat yang sesuai karena dianggap titik pusat dari kerajaan Sunda-Padjajaran yang diperintahnya.

Tempat suci itu pun dibangun dengan persyaratan selesai dalam waktu semalam. Namun niat itu tidak sempat selesai karena keburu pagi datang. Akhirnya, sang prabu pun menghilang di sana.
Masyarakat percaya, tempat tersebut sebagai tempat persemayaman Eyang Prabu Siliwangi hingga sekarang. Karena itulah, Gunung Padang disakralkan.

Versi kedua, setelah meninggalkan Keraton Pakuan yang diserang oleh pasukan Banten, Prabu Siliwangi dan pasukannya mengasingkan diri ke Gunungpadang. Di tempat ini,  Prabu Siliwangi dan pengikutnya membangun punden berundak di puncak Gunung Padang.  Di tempat ini pula, sang prabu memberikan wejangan kepada rakyatnya untuk migrasi ke tempat baru. Ada yang diarahkan ke Sumedanglarang, Banten, dan Baduy.


“Di batu singgasana itulah tempat Prabu Siliwangi bertapa untuk mendapatkan berbagai petunjuk dari Sang Pencipta,” terang Nanang, Koordinator Juru Pelihara Gunung Padang kepada Radar Cianjur (grup pojoksatu.id).

Berkembangnya mitos itu, diakui Nanang, menarik sejumlah orang untuk bertapa seperti halnya Prabu Siliwangi. Bahkan, Soekarno dan Megawati pun diklaim masyarakat sekitar pernah bertapa di batu singgasana untuk mendapatkan petunjuk dalam memimpin bangsa.

“Tapi kedatangannya sangat dirahasiakan. Benar tidaknya, ya Wallahu a’lam,” lanjut Nanang.

Sementara, Ketua DPRD Kabupaten Cianjur Yadi Mulyadi mengakui pernah bersemedi di batu singgasana itu. Hal itu dilakukannya setelah salah satu rekannya mengajaknya untuk ziarah di Gunung Padang.
Kala itu, kata Yadi, ia disuruh rekannya untuk bersemedi di atas batu singgasa jika memang ingin menjadi Ketua DPRD Kabupaten Cianjur. Meski ditanggapinya sepintas lalu dan tidak serius, tapi Yadi tetap melakukannya.

“Tidak tahu benar tidaknya. Ada hubungannya atau tidak, ya kita tidak tahu. Wallahu a’lam,” ujar Yadi sembari tertawa. (ruh)