Muncul Penampakan Raksasa, Ratusan Pengunjung Gunung Padang Kesurupan

Sosok seperti raksasa tertangkap kamera di Gunung Padang

Sosok seperti raksasa tertangkap kamera di Gunung Padang

CIANJUR—Jika membicarakan mistis Gunung Padang, Koordinator Juru Pelihara, Nanang, yakin tidak akan usai dalam semalam saja. Misalnya tentang sosok-sosok tertentu yang ditangkap kamera pengunjung di puncak situs, Nanang menganggap itu sebagai hal yang biasa terjadi.

Sejak dibukanya situs itu menjadi tempat wisata, sudah tidak terhitung para pengunjung yang mengaku melihat sosok tertentu dari hasil jepretannya. Yang terbaru, lima anggota dari Yon Zipur yang diperbantukan untuk menjaga situs selama penelitian yang lalu, pun mengalami hal yang sama.

Kelima anggota TNI itu berfoto di teras tiga menjelang sore. Bukan penampakan sosok-sosok tertentu yang tertangkap. Dalam hasil jepretannya, kepala salah satu anggota TNI itu tidak ada alias hanya bagian tubuh saja yang tertangkap kamera.

“Belum lama. Kejadiannya baru dua bulan lalu. Yang kepalanya tidak ada itu sampai ketakutan setengah mati,” kata Nanang.

Selain penampakan melalui hasil jepretan kamera, kesurupan juga kerap terjadi, baik yang hanya terjadi pada salah seorang saja ataupun massal. Menurut Nanang, kesurupan itu terjadi manakala yang bersangkutan telah melakukan hal-hal yang oleh makhluk ghaib penghuni Gunung Padang dianggap telah melewati batas kewajaran.

Tapi, lanjut dia, bukan berarti yang kesurupan itu adalah orang yang dianggap telah melakukan kesalahan. Ada kalanya, kesurupan malah dialami oleh orang yang sama sekali tidak melakukan kesalahan.

“Jadi yang kesurupan itu istilahnya tidak terima kepada yang telah berbuat kesalahan atau menasehati kepada orang lain agar tidak melakukan hal-hal yang dianggap kelewat batas,” ujar Nanang.

Nanang melanjutkan ceritanya. Pernah suatu waktu, puluhan pelajar SMA dari Jakarta melakukan kunjungan. Di puncak situs, rombongan itu menghabiskan waktu untuk berfoto dengan berbagai gaya. Tak jarang, para jupel pun dibuat kerepotan karena mereka kerap berpose berdiri di atas batu.

Berbagai macam kata-kata kotor yang semestinya tidak diucapkan pun kerap terlontar di antara mereka. Meski sudah diingatkan, hal itu terus diulangi. Bahkan, ketika jam tutup 17:00 dan diminta untuk turun, mereka masih asyik dengan kegiatannya masing-masing.
“Sebelunya kami sudah mengingatkan agar turun sebelum jam 5 sore. Tapi ternyata mereka tidak menghiraukannya,” ujarnya.

Yang terjadi kemudian, timpal Widodo, rombongan itu diketahui baru turun sekitar 18:30 dan terpencar-pencar. Sebagian diantaranya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Beberapa pelajar itu pun meminta tolong kepada warga untuk menyelamatkan sebagian lagi teman mereka yang tidak bisa turun dari puncak situs.

“Mereka terpisah-pisah. Ada yang lewat barat, timur, selatan dan utara. Pokoknya tidak bersama-sama dan sebagian sudah dalam keadaan tidak sadar. Sebagian yang lain menangis histeris dan berteriak-teriak,” terang Widodo.

Kesurupan massal itu berlangsung cukup lama. Ketika sejumlah pelajar yang kesurupan disembuhkan, sebagian yang lain kemudian ganti kesurupan, begitu seterusnya hingga menjelang larut malam.

Widodo menyatakan, para jupel bukan membiarkan hal itu terjadi. Tapi, pihaknya memberikan kesempatan kepada pendamping rombongan itu untuk menangani sendiri karena memang mereka yang seharusnya memberikan pengawasan dan mengawal mulai dari berangkat hingga usai kegiatan.

Setelah para jupel secara khusus dimintai pertolongan untuk ikut menyembuhkan kesurupan massal itu, masalah pun dapat diselesaikan. Caranya, Widodo hanya perlu menemukan satu orang di antara yang kesurupan itu yang menjadi pusat kesurupan massalnya.

“Tinggal dicari pusatnya yang mana, ya itu yang disembuhkan. Kalau sudah sembuh, semuanya pasti ikut sembuh. Tidak usah susah-susah menyembuhkan satu per satu. Kitanya yang kecapekan. Kesurupan massal seperti itu disini sudah sangat sering kok,” jelas dia. (ruh)

Feeds