POJOKSATU.id - Setiap tahunnya, umat Muslim di seluruh dunia menyambut datangnya bulan suci penuh berkah yang ditandai dengan ibadah puasa, tarawih, dan berbagai amalan kebaikan lainnya.
Namun, ada satu hal menarik yang sering menjadi perdebatan, yakni bagaimana seharusnya penulisan bulan suci ini Ramadhan atau Ramadan?
Meskipun keduanya sering digunakan secara bergantian, terdapat perbedaan linguistik, transliterasi, serta kebiasaan penggunaan di berbagai negara. Mari kita telusuri lebih dalam untuk memahami mana yang benar dan mengapa ada perbedaan tersebut.
Asal-Usul Kata dan Pengaruh Bahasa Arab
Secara etimologi, kata Ramadhan atau Ramadan berasal dari bahasa Arab, yaitu رمضان (dibaca: Ramaḍān). Kata ini berakar dari رمض (ramaḍ), yang berarti panas yang membakar atau sangat terik.
Dalam konteks keislaman, Ramadan disebut demikian karena diyakini sebagai bulan yang dapat membakar dosa-dosa umat Muslim yang menjalankan ibadah dengan penuh ketulusan.
Dalam pengucapan aslinya dalam bahasa Arab, huruf ض (ḍād) memiliki bunyi khas yang tidak sepenuhnya ada dalam banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia.
Dalam transliterasi standar, huruf ض bisa disesuaikan menjadi dh atau d, tergantung pada sistem transliterasi yang digunakan.
Perbedaan Transliterasi: Ramadhan vs Ramadan
Transliterasi adalah proses mengubah huruf dari satu sistem penulisan ke dalam sistem lain yang berbeda. Dalam konteks ini, perbedaan antara Ramadhan dan Ramadan terjadi karena adanya perbedaan standar transliterasi bahasa Arab ke bahasa lain.
1. Ramadhan: Bentuk ini lebih sering digunakan di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Brunei. Hal ini disebabkan oleh pengaruh transliterasi Arab-Melayu yang cenderung mempertahankan bunyi dh untuk melambangkan huruf ض (ḍād). Selain itu, dalam bahasa Indonesia, huruf dh umum ditemukan dalam transliterasi kata-kata Arab lainnya, seperti Jihad, Ijtihad, dan Hadhanah.
2. Ramadan: Bentuk ini merupakan transliterasi yang lebih banyak digunakan secara internasional, khususnya di negara-negara berbahasa Inggris serta dalam publikasi resmi dari organisasi Islam global seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Al-Azhar. Bentuk ini juga digunakan dalam banyak terjemahan Al-Qur’an dan hadis berbahasa Inggris karena lebih mendekati cara pengucapan asli dalam bahasa Arab, meskipun tidak sepenuhnya sama.
Penggunaan di Berbagai Negara
Meskipun Ramadhan dan Ramadan memiliki arti yang sama, preferensi penggunaannya sering kali bergantung pada bahasa dan kebiasaan di suatu negara. Berikut beberapa contoh:
- Indonesia & Malaysia: Lebih banyak menggunakan Ramadhan, sesuai dengan kaidah transliterasi Arab-Melayu yang mempertahankan bunyi dh untuk huruf ض.
- Negara-Negara Berbahasa Inggris (Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dll.): Menggunakan Ramadan, karena transliterasi bahasa Arab ke bahasa Inggris lebih sederhana tanpa mempertahankan bunyi dh.
- Timur Tengah & Dunia Arab: Menggunakan رمضان tanpa transliterasi, karena mereka menggunakan bahasa aslinya.
- Turki: Menggunakan Ramazan, karena dalam bahasa Turki, huruf ض sering diadaptasi menjadi z.
Mana yang Lebih Benar?
Pada dasarnya, baik Ramadhan maupun Ramadan sama-sama benar dan memiliki arti yang sama, yakni nama bulan suci dalam kalender Hijriah. Pemilihan istilah lebih bergantung pada kebiasaan linguistik di masing-masing negara.
Di Indonesia, Ramadhan lebih sering digunakan dalam teks-teks keagamaan, media, hingga percakapan sehari-hari. Sementara itu, dikutip laman mahjong jika kita membaca sumber-sumber Islam internasional atau media global, kita akan lebih sering menemukan kata Ramadan.
Dalam konteks resmi di Indonesia, misalnya dalam dokumen yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama atau Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Ramadhan lebih umum digunakan karena mengikuti pedoman transliterasi Arab-Indonesia yang telah diatur oleh pemerintah dan akademisi bahasa.
Kesimpulan
Tidak ada yang benar atau salah antara Ramadhan dan Ramadan, karena keduanya mengacu pada bulan yang sama dan memiliki makna yang sama dalam Islam.
Perbedaan hanya terletak pada transliterasi dan kebiasaan penggunaan bahasa di berbagai wilayah.
Di Indonesia, Ramadhan lebih lazim digunakan karena mengikuti pola transliterasi Arab-Melayu, sementara secara internasional, Ramadan lebih sering digunakan karena lebih sederhana dalam penulisan dan lebih mudah diadaptasi oleh bahasa lain.
Oleh karena itu, baik Anda menulis Ramadhan maupun Ramadan, keduanya tetap merujuk pada bulan suci yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. ***



