POJOKSATU.id — Kehadiran gadget, televisi, hingga berbagai platform video kini sudah menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga, termasuk bagi anak usia balita.
Tidak sedikit orang tua yang memanfaatkan tayangan digital sebagai media hiburan sekaligus sarana belajar bagi si kecil.
Namun di balik kemudahan tersebut, pemilihan tontonan yang sesuai serta pengaturan waktu penggunaan layar atau screentime tetap menjadi perhatian penting agar proses tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Baca Juga: Mudah Dilihat! Begini Tanda Telur Ayam Busuk Tanpa Harus Dipecahkan
Masa balita dikenal sebagai periode emas perkembangan otak.
Pada tahap ini, anak mengalami pertumbuhan kemampuan berpikir, berbahasa, mengenali emosi, hingga membentuk perilaku yang berlangsung sangat cepat.
Oleh karena itu, apa yang mereka lihat setiap hari, termasuk tayangan di layar, dapat memberi pengaruh besar terhadap perkembangan tersebut.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Wisata di Bogor 2026, Cocok untuk Liburan Keluarga hingga Healing Akhir Pekan
Jika anak terlalu sering terpapar layar atau menonton konten yang tidak sesuai usia, dampaknya bisa beragam, mulai dari gangguan tidur, berkurangnya kemampuan fokus, hingga keterlambatan perkembangan komunikasi.
Oleh sebab itu, orang tua perlu lebih selektif dalam menentukan tayangan yang dikonsumsi anak balita.
Salah satu langkah penting adalah memilih konten yang sesuai dengan usia mereka.
Baca Juga: Bingung Pilih Jurusan? Ini Jurusan Kuliah yang Berpotensi Mudah Dapat Kerja di Indonesia
Tayangan yang ditujukan untuk balita umumnya memiliki bahasa sederhana, warna visual yang nyaman dilihat, serta alur cerita ringan sehingga lebih mudah dipahami.
Sebaliknya, tayangan dengan unsur kekerasan, suara terlalu bising, atau konflik rumit sebaiknya dihindari karena dapat memberikan stimulasi berlebihan bagi anak.
Konten edukatif dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk membantu proses belajar sambil bermain.
Misalnya tayangan yang mengenalkan angka, warna, huruf, nama hewan, lagu anak-anak, hingga cerita sederhana yang mengandung nilai positif.
Baca Juga: 15 Antivirus Gratis Terbaik untuk Laptop dan PC, Ringan hingga Proteksi Maksimal
Jenis tayangan seperti ini dinilai mampu membantu merangsang perkembangan kognitif sekaligus memperkaya kosakata anak sejak dini.
Selain memperhatikan isi tayangan, orang tua juga disarankan memilih tontonan yang bersifat interaktif.
Program yang mengajak anak ikut bernyanyi, bergerak, menjawab pertanyaan sederhana, atau mengenali bentuk dan warna dinilai lebih efektif dibanding tayangan pasif yang hanya membuat anak duduk diam di depan layar.
Baca Juga: Lulusan Desain Grafis Bisa Kerja Apa? Ini 12 Prospek Karier yang Banyak Dicari
Pendampingan dari orang tua juga memegang peranan penting. Saat menemani anak menonton, orang tua dapat mengajak si kecil berbincang ringan mengenai apa yang sedang ditonton agar anak lebih memahami isi tayangan dan tetap terjalin interaksi.
Di sisi lain, tayangan dengan ritme terlalu cepat juga sebaiknya dibatasi.
Video yang dipenuhi perpindahan gambar secara cepat dan stimulasi visual berlebihan dapat membuat balita kesulitan mempertahankan konsentrasi.
Anak usia dini umumnya lebih nyaman dengan tontonan yang memiliki tempo tenang dan mudah diikuti.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghindari kebiasaan menjadikan gadget atau televisi sebagai “pengasuh instan”.
Baca Juga: Mayat Wanita di Simpang Yasmin Bogor Dibuang dari Atas Flyover, Pelaku Disebut Bernama Febry Ambon
Memberikan layar agar anak tenang memang terkadang terasa praktis bagi orang tua yang sibuk.
Namun jika dilakukan terus-menerus, anak bisa menjadi terlalu bergantung pada gadget.
Karena itu, waktu menonton perlu diseimbangkan dengan aktivitas lain seperti bermain secara langsung, membaca buku cerita, berinteraksi bersama keluarga, maupun melakukan aktivitas fisik.
Lalu, berapa lama batas screentime yang dianjurkan untuk anak balita?
Baca Juga: Ketegangan Memuncak! Ahmad Bahar Siap Layangkan Laporan Tambahan, Hercules Terancam 12 Tahun Penjara
Berdasarkan rekomendasi dari World Health Organization dan American Academy of Pediatrics, penggunaan layar perlu disesuaikan dengan rentang usia anak.
Balita di bawah usia 18 bulan sebaiknya belum terpapar layar sama sekali, kecuali untuk melakukan panggilan video bersama anggota keluarga.
Sementara pada usia 18 hingga 24 bulan, anak mulai dapat dikenalkan pada tayangan digital berkualitas dengan syarat tetap mendapat pendampingan penuh dari orang tua.
Untuk anak usia 2 sampai 5 tahun, durasi menonton ideal disarankan tidak lebih dari satu jam per hari dengan memilih tayangan edukatif yang bermanfaat.
Baca Juga: Sejumlah Wilayah di Sumut Mati Lampu, Medan dan Sekitarnya Gelap Gulita
Sedangkan anak di atas usia lima tahun tetap memerlukan pembatasan agar penggunaan layar tidak mengganggu aktivitas fisik, waktu tidur, maupun interaksi sosial sehari-hari.
Pada akhirnya, bukan hanya soal lamanya waktu menonton, tetapi kualitas tayangan dan keterlibatan orang tua yang menjadi faktor utama.
Orang tua juga sebaiknya menghindari memberikan gadget menjelang waktu tidur karena cahaya layar berpotensi mengganggu kualitas istirahat anak.
Dengan pendampingan yang tepat, tontonan dapat menjadi media belajar yang menyenangkan sekaligus membantu stimulasi perkembangan balita secara positif.***




