JAKARTA, POJOKSATU.ID - Mikel Arteta ingin membuktikan bahwa dirinya bukan satu-satunya manajer Premier League yang kerap meninggalkan area teknis.

Namun, langkah pelatih Arsenal itu justru memunculkan kritik setelah mantan wasit Graham Scott mengungkap temuannya.

Scott mengklaim Arteta meninggalkan area teknis sebanyak 44 kali sebelum menerima kartu kuning ketika Arsenal mengalahkan Everton 2-0.

Pertandingan tersebut berlangsung di Emirates Stadium pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Pernyataan Scott muncul setelah Arteta mengungkapkan sedang mengumpulkan rekaman pelatih-pelatih rival yang diduga melanggar aturan serupa tanpa hukuman.

Arteta Merasa Penegakan Aturan Tidak Konsisten

Arteta menerima kartu kuning keduanya musim ini karena meninggalkan area teknis saat Arsenal menghadapi Everton.

Jika kembali mendapat kartu kuning, pelatih asal Spanyol tersebut terancam menjalani larangan mendampingi tim dari tepi lapangan selama satu pertandingan.

Arteta menilai ada manajer lain yang berulang kali melakukan pelanggaran serupa tanpa menerima peringatan atau hukuman.

Ia bahkan menyebut sedang menyimpan banyak rekaman sebagai pembanding.

“Saya sedang mengumpulkan semua rekaman itu agar memiliki penyimpanan gambar yang besar,” kata Arteta seusai pertandingan.

Mantan Wasit Balik Menyerang

Scott menilai Arteta justru perlu memasukkan rekaman perilakunya sendiri dalam kumpulan bukti tersebut.

Mantan wasit Premier League itu mengaku menghitung puluhan kali Arteta keluar dan kembali ke area teknis sebelum mendapat kartu kuning.

“Dia agak berani, kalau boleh jujur. Saya menonton ulang pertandingan Everton dan dia meninggalkan area teknisnya 44 kali sebelum mendapat kartu kuning,” ujar Scott, dikutip Pojoksatu.id dari talkSPORT.

Scott juga menyebut ofisial keempat telah berulang kali memperingatkan Arteta, sehingga kartu kuning tersebut dinilainya justru terlambat diberikan.

Meski begitu, Scott mengakui kemiringan permukaan area teknis Arsenal bisa menyulitkan pelatih untuk berdiri dengan nyaman.

Namun, ia menegaskan garis pembatas tetap harus dihormati selama aturan tersebut berlaku.

Persoalan ini kini menyoroti konsistensi penerapan aturan terhadap para manajer.

Arteta boleh mengumpulkan rekaman, tetapi klaim ketidakadilan tetap membutuhkan pembuktian yang terukur.***