JAKARTA, POJOKSATU.id - Gary Neville kembali melontarkan kritik keras terhadap keluarga Glazer dan mendesak pemilik mayoritas Manchester United segera menjual seluruh klub.
Mantan kapten Man United itu menilai kepemimpinan keluarga asal Amerika Serikat tersebut telah gagal membawa klub kembali ke jalur kesuksesan selama 13 hingga 14 tahun terakhir.
Desakan itu muncul ketika masa depan Manchester United kembali menjadi sorotan setelah laporan ESPN menyebut Glazer mempertimbangkan waktu yang tepat untuk melepas kepemilikan.
Namun, belum ada keputusan resmi mengenai penjualan klub.
Neville Soroti Utang dan Kegagalan Klub
Berbicara dalam podcast The Overlap, Neville menilai keluarga Glazer tidak bisa terus menghindari tanggung jawab atas kondisi Manchester United.
“Mereka harus menjual sekarang. Waktunya sudah tiba,” kata Neville, menegaskan bahwa perubahan kepemilikan menjadi kebutuhan mendesak bagi klub.
Ia juga menyoroti utang sekitar 1,2 miliar poundsterling serta rencana pembangunan stadion baru yang diperkirakan membutuhkan pendanaan besar.
Menurut Neville, persoalan keuangan dan kegagalan prestasi membuat situasi klub semakin mengkhawatirkan.
Hubungan Glazer dan INEOS Jadi Sorotan
Kritik Neville turut menyinggung pembagian tanggung jawab antara keluarga Glazer dan INEOS, perusahaan milik Sir Jim Ratcliffe yang mengambil alih pengelolaan sepak bola pada 2024.
Meski INEOS mengendalikan operasional sepak bola, keluarga Glazer masih menjadi pemegang saham mayoritas.
Laporan ESPN menyebut keluarga tersebut dikabarkan kecewa terhadap sejumlah keputusan INEOS, termasuk kebijakan pemangkasan tenaga kerja.
Laporan lain menyebut penyelesaian stadion baru atau kemungkinan Manchester City dikeluarkan dari Premier League dapat memengaruhi pertimbangan penjualan United.
Kedua hal itu masih berupa skenario yang dilaporkan, bukan kepastian transaksi.
Bagi Neville, persoalan mendasar bukan sekadar siapa yang mengelola tim, melainkan siapa yang bertanggung jawab atas arah klub.
Desakannya kini menambah tekanan terhadap pemilik United di tengah krisis performa dan ketidakpastian masa depan.***




