Penulis: Lelly Lenny, Rice Anggrayni Epah Maspupah, Erlina Purnama Sari
Pascasarjana PAUD, Universitas Pancasakti Bekasi
Pendidikan Agama Islam

POJOKSATU.id - Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia seringkali menghadapi tantangan dan kesulitan yang bisa mengganggu keseimbangan dan kebahagiaan mereka.

Namun, ada sebuah konsep yang dapat menjadi panduan bagi manusia untuk menjalani hidup dengan baik, yaitu Uqdatul Qubra.

Uqdatul Qubra merupakan sebuah prinsip atau filosofi hidup yang menawarkan landasan moral, spiritual, dan praktis untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan berkelimpahan.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi konsep Uqdatul Qubra dan bagaimana penerapannya dapat memberikan manfaat bagi manusia dalam menjalani hidup dengan baik.

Uqdatul Qubra adalah istilah Arab yang secara harfiah berarti 'simpul besar'.

Konsep ini berasal dari tradisi spiritual dan etika Islam, tetapi prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan oleh siapa pun, terlepas dari agama atau keyakinan mereka.

Uqdatul Qubra mengacu pada hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, alam, dan seluruh penciptaan.

Dalam konteks Islam, istilah 'Uqdatul Qubra' atau '3 simpul besar' mungkin tidak lazim atau tidak dikenal secara umum.

Namun, berdasarkan pemahaman umum tentang ajaran Islam, ada beberapa prinsip utama yang dianggap penting bagi umat Muslim. Berikut adalah tiga prinsip utama dalam Islam.

1. Asal Manusia

Islam memberikan jawaban bahwa manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berarti mengakui eksistensi tuhan yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya.

Kita Tidak perlu membuktikan adanya tuhan dengan melihat wujudnya. Beriman kepada Allah artinya kita dapat melihat dan merasakan kekuasan dan ciptaan-Nya yang ada di bumi.

Kadang kita bertanya mengapa Allah tak dapat dilihat? Allah memiliki sifat agung yang membedakan antara sang pencipta dengan yang diciptakannya. Allah berbeda dengan makhluknya.

Bila Allah dapat kita lihat berarti bahwa Allah sama dengan kita. Allah bersifat wajibul wujud (wajib ada) dan bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir).

Dengan demikian Allah yang menciptakan manusia dengan segala peraturan yang telah dibuat untuk mengatur hubungan manusia dengan dirinya, hubungan manusia dengan manusia lain dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Allah yang berhak mengatur kehidupan, dan manusia harus menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena manusia bersifat terbatas dan lemah sehingga manusia tidak akan mampu membuat peraturannya sendiri.

Islam telah memberikan solusi atas segala permasalahan manusia yang berasal dari Al-Qur’an dan Assunah. Penting bagi manusia untuk mengembangkan hubungan yang kuat dengan Tuhan atau kekuatan spiritual yang diyakini.

Hal ini melibatkan kesadaran akan keberadaan Tuhan, refleksi diri, dan praktik spiritual seperti beribadah, berdoa, atau meditasi.

Dengan memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, manusia dapat menemukan kedamaian batin, menerima hikmah dalam cobaan hidup, dan mengarahkan tindakan mereka sesuai dengan nilai-nilai spiritual.

2. Makna Manusia Hidup di Dunia

Ketika seseorang sudah mengetahui dan memahami asal-usulnya, maka sudah pasti orang tersebut sudah mengetahui arti hidupnya. Terlepas dari benar atau salah menurut pemahaman sebelumnya.

Ini karena manusia telah berhasil memecahkan sebuah pertanyaan besar yang menyadarkannya akan keberadaannya di dunia ini.

Harus juga dipahami bahwa setiap tindakan yang dilakukan seseorang tidak terlepas dari pemahamannya tentang asal usulnya. Dengan kata lain, pemahaman membuat seseorang bersikap dan bertindak.

Misalnya, orang yang memahami bahwa mereka terbuat dari materi akan berperilaku dan melakukan segala sesuatu hanya atas dasar materi. Materi menjadi acuan segala tindakan, perilaku dan cara pandang terhadap sesuatu.

Ini terbukti pada orang-orang dengan pandangan ateis atau komunis. Pada pandangan orang atheis dan komunis, mereka memahami bahwa manusia berasal dari materi.

Semua dilakukan untuk kepuasan materi dan manusia tidak ingin terikat oleh aturan apapun yang mengekang keinginannya untuk harta benda.

Manuasia yang menetapkan aturan yang mendukung keinginannya. Dengan kata lain, manusia membuat aturan dan hukum untuk mencapai kepuasan sendiri.

Berbeda dengan manusia yang memiliki pemahaman Islam, tentu akan memahami bahwa manusia berada didunia ini hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an Surat Adz Dzariyat (56) : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Maka, manusia akan menjalani kehidupan ini dengan berpedoman kepada apa yang telah ditentukan oleh Allah. Ia tidak akan pernah ingin mengambil sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan-Nya.

Ia tidak akan berani untuk melanggar perintah-Nya sebab ia merupakan makhluk ciptaan yang tidak berguna tanpa sang Pencipta.

Salah satu aspek penting dari Uqdatul Qubra adalah pemahaman diri yang mendalam. Manusia perlu mengenali potensi, kekuatan, kelemahan, dan tujuan hidup mereka.

Ini melibatkan refleksi diri secara teratur, penelusuran nilai-nilai inti, dan pengembangan keterampilan serta bakat yang dimiliki.

Dengan memahami diri sendiri, manusia dapat hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka yakini dan mengarahkan hidup mereka menuju tujuan yang bermakna.

3. Akhirat (Kehidupan Setelah Mati)

Umat Muslim meyakini bahwa kehidupan ini adalah ujian sementara dan bahwa ada kehidupan setelah mati.

Keyakinan akan akhirat menjadi landasan penting dalam Islam, karena mengingat dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati menjadi tujuan akhir bagi umat Muslim. Amal perbuatan yang dilakukan selama hidup akan menentukan nasib akhir di akhirat.

“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?.” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).” (QS. Yaasin : 51-52).

Seorang muslim yang telah memahami hal ini akan semakin bertambah keimanannya kepada Allah. Dengan begitu ia akan selalu berusaha menjaga hati, kata dan perbuatannya agar selalu sesuai dengan aturan-Nya.

Jika ia tergelincir kedalam khilaf dan dosa, dengan cepat ia segera sadar dan segera memohon ampunan kepada Allah SWT dan belajar dari kesalahannya tersebut untuk tidak diulanginya lagi.

Tiga prinsip ini dapat dianggap sebagai 'simpul besar' dalam Islam, karena mereka membentuk dasar keyakinan dan praktek umat Muslim.

Namun, penting untuk diingat bahwa Islam juga memiliki banyak prinsip dan ajaran lainnya yang saling terkait dan mempengaruhi kehidupan Muslim secara menyeluruh.

Uqdatul Qubra adalah sebuah konsep yang dapat membimbing manusia untuk menjalani hidup dengan baik dan bermakna.

Dengan membangun hubungan yang baik dengan Tuhan, memahami diri sendiri, menjalin hubungan harmonis dengan sesama manusia, menjaga alam dan lingkungan, serta memperluas cakrawala, manusia dapat mencapai keseimbangan dan kebahagiaan dalam hidup mereka.

Dalam menerapkan prinsip-prinsip Uqdatul Qubra, manusia dapat membangun masyarakat yang lebih baik, penuh dengan kasih sayang, saling pengertian, dan kesejahteraan bersama. (*/pojoksatu)