JAKARTA, POJOKSATU.id, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Kunjungan kenegaraan tersebut dimanfaatkan kedua pemimpin untuk memperluas kemitraan strategis melalui sejumlah kesepakatan bilateral.
Dalam pembicaraan tersebut, Indonesia dan Mesir menyoroti beberapa sektor kerja sama, mulai dari pengaturan visa, statistik, hingga kelautan dan perikanan.
Kedua negara turut menyepakati Rencana Aksi Kemitraan Strategis sebagai landasan untuk mempererat hubungan bilateral ke depannya.
Rangkaian pertemuan itu juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
Prabowo dan el-Sisi menyaksikan secara langsung penandatanganan Rencana Aksi Kemitraan Strategis yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir bersama Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty.
Lalu, apa saja poin kerja sama yang dibahas dalam pertemuan Prabowo dan Presiden Mesir tersebut?
1. Kesepakatan Kerja Sama Visa
Pengaturan visa menjadi salah satu sektor yang masuk dalam pembahasan bilateral antara Indonesia dan Mesir.
Kesepakatan di bidang ini merupakan bagian dari langkah kedua negara untuk meningkatkan kemudahan hubungan antarpemerintah.
Penerapan kerja sama visa berkaitan dengan ketentuan perjalanan bagi kelompok pemegang paspor tertentu sesuai kesepakatan yang berlaku.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kategori paspor yang memperoleh fasilitas tersebut, termasuk persyaratan serta tanggal mulai berlakunya kebijakan.
Fasilitas ini tidak serta-merta berarti seluruh warga Indonesia dapat bepergian ke Mesir tanpa visa.
Cakupan penerima manfaat dan ketentuan perjalanan tetap mengikuti aturan resmi yang ditetapkan oleh pemerintah kedua negara.
2. Penguatan Kerja Sama Statistik
Sektor statistik juga menjadi bagian dari agenda kolaborasi Indonesia dan Mesir.
Pembahasan ini memperlihatkan adanya ruang kerja sama antarkedua negara dalam pengembangan bidang yang berkaitan dengan data dan informasi statistik.
Kolaborasi di sektor tersebut berpotensi mencakup pertukaran pengalaman, pengembangan sistem pengolahan data, serta peningkatan kemampuan institusi yang menangani statistik.
Kerja sama semacam ini dapat mendukung pengembangan pengetahuan dan praktik pengelolaan data di masing-masing negara.
Meski demikian, rincian mengenai kegiatan yang akan dijalankan, lembaga yang terlibat, maupun target pelaksanaannya perlu merujuk pada dokumen kesepakatan dan keterangan resmi dari pemerintah Indonesia serta Mesir.
3. Kolaborasi di Sektor Kelautan dan Perikanan
Indonesia dan Mesir turut membahas pengembangan hubungan bilateral di bidang kelautan dan perikanan.
Sektor ini menjadi salah satu bidang yang berpeluang dikembangkan melalui kesepakatan serta program bersama kedua negara.
Bagi Indonesia, pengembangan kelautan dan perikanan merupakan bagian penting dari pemanfaatan potensi maritim.
Hubungan kerja sama dengan Mesir dapat membuka kesempatan untuk memperluas pertukaran pengalaman serta memperkuat hubungan ekonomi di sektor terkait.
Namun, bentuk kolaborasi yang akan dijalankan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan penyebutan sektor tersebut dalam agenda pertemuan.
Informasi mengenai program konkret, sasaran kerja sama, dan jadwal pelaksanaannya masih perlu mengacu pada penjelasan resmi kedua pemerintah.
4. Penyusunan Rencana Aksi Kemitraan Strategis
Selain membicarakan sejumlah sektor tertentu, Indonesia dan Mesir juga menyepakati Rencana Aksi Kemitraan Strategis.
Kesepakatan ini diarahkan untuk menjadi pedoman dalam memperkuat hubungan bilateral melalui berbagai bidang yang menjadi kepentingan bersama.
Penandatanganan dokumen dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir dan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty.
Prabowo dan el-Sisi hadir menyaksikan prosesi tersebut di Istana Merdeka.
Dalam pertemuan itu, Prabowo menyoroti pentingnya kunjungan Presiden el-Sisi untuk mempererat hubungan kedua negara.
Pembicaraan yang berlangsung secara intensif dan produktif turut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Mesir.
Rencana aksi tersebut selanjutnya menjadi acuan bagi kedua negara dalam menindaklanjuti berbagai bidang kerja sama.
Implementasinya akan bergantung pada langkah teknis, koordinasi antarlembaga, serta kesepakatan lanjutan yang disusun oleh pemerintah masing-masing.
Presiden Abdel Fattah el-Sisi melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 10-11 Oktober 2026.
Rangkaian agenda dimulai dengan upacara penyambutan resmi di Istana Merdeka, Jakarta, sebelum kedua pemimpin melanjutkan pertemuan untuk membahas hubungan bilateral.
Prabowo dan el-Sisi kemudian menggelar pembicaraan yang mencakup berbagai kepentingan bersama.
Agenda tersebut juga diikuti penandatanganan sejumlah nota kesepahaman sebagai bagian dari penguatan hubungan antarkedua negara.
Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi Indonesia dan Mesir untuk memperluas kerja sama yang telah terjalin.
Kedua pemerintah berupaya mendorong kemitraan strategis melalui pembahasan di sejumlah sektor sekaligus menyiapkan tindak lanjut atas kesepakatan yang dicapai.
Secara keseluruhan, agenda pertemuan Prabowo dan el-Sisi mencakup kerja sama visa, statistik, kelautan dan perikanan, serta Rencana Aksi Kemitraan Strategis.
Pelaksanaan lebih lanjut dari setiap kesepakatan akan menjadi tahap penting untuk melihat bentuk nyata kolaborasi Indonesia dan Mesir.







