JAKARTA, POJOKSATU.id - Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat mengancam kesehatan anak, bahkan ketika dampaknya belum langsung terlihat.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar lebih waspada terhadap kualitas udara dan membatasi aktivitas anak di luar ruangan ketika polusi meningkat.
Kerentanan tersebut berkaitan dengan kondisi organ pernapasan anak yang masih berkembang.
Diameter saluran napas mereka lebih kecil, sementara frekuensi pernapasan dan kebutuhan oksigen relatif lebih tinggi dibandingkan orang dewasa berdasarkan berat badan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Fifi Sofiah, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, mulai dari partikel halus, gas beracun, hingga logam berat yang dihasilkan selama proses pembakaran.
Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah particulate matter berukuran 2,5 mikron atau PM2.5.
Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat mencapai alveoli, yaitu bagian paru-paru yang berperan dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Dalam kondisi tertentu, partikel tersebut juga berpotensi memasuki aliran darah.
Sementara itu, partikel PM10 dapat mengiritasi saluran pernapasan bagian atas.
Zat lain dalam asap juga berisiko mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran napas, merusak sel, hingga menghambat kemampuan darah membawa oksigen.
“Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar asap biasa,” demikian penjelasan Fifi dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis (22/10/2026).
Ia mengingatkan, paparan polusi dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan kronis dan memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, dr Dimas Dwi Saputro, SpA, Subsp Respi(K), menyarankan keluarga menerapkan sejumlah langkah perlindungan selama terjadi karhutla.
Orang tua dianjurkan mengurangi kegiatan anak di luar rumah, serta menutup pintu dan jendela ketika udara di luar tercemar. Jika anak harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
Keluarga juga perlu memastikan anak memperoleh cairan yang cukup, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
Selain perlindungan sehari-hari, kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu dipersiapkan, termasuk menyiapkan tas siaga dan mengetahui jalur evakuasi serta titik kumpul yang aman.
IDAI turut mengingatkan pentingnya memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk menentukan langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Pada ISPU 0-50 atau kategori baik dan 51-100 atau sedang, kelompok rentan tetap dianjurkan mengurangi paparan asap.
Ketika angka ISPU mencapai 101-199 atau tidak sehat, hingga 200-299 atau sangat tidak sehat, keluarga perlu mempertimbangkan pemindahan kelompok berisiko ke lokasi dengan kualitas udara lebih baik sesuai kondisi dan indikasi medis.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada neonatus, bayi, dan balita yang memiliki penyakit penyerta. Pemberian obat esensial maupun suplementasi oksigen harus dilakukan berdasarkan indikasi medis.
Jika ISPU melampaui 300 atau masuk kategori berbahaya, IDAI merekomendasikan evakuasi bagi seluruh kelompok usia.
Melalui langkah-langkah tersebut, IDAI menekankan bahwa perlindungan anak dari asap karhutla perlu dilakukan sejak dini.
Pemantauan kualitas udara, pembatasan paparan, dan kesiapan keluarga menjadi bagian penting untuk menekan risiko gangguan kesehatan selama bencana berlangsung.








