POJOKSATU.id, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI memastikan aktivitas pendidikan di perguruan tinggi tetap berlangsung meskipun sejumlah daerah tengah menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kendati demikian, pelaksanaan perkuliahan perlu disesuaikan dengan situasi lingkungan setempat agar kesehatan dan keselamatan mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan tetap terlindungi.

Kemdiktisaintek meminta pengelola perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di kawasan terdampak untuk menentukan langkah yang tepat berdasarkan kondisi yang dihadapi masing-masing wilayah.

"Kemdiktisaintek telah mengimbau pimpinan perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah terdampak karhutla untuk mengambil langkah adaptif guna melindungi kesehatan dan keselamatan sivitas akademika," jelas Kemdiktisaintek.

Melalui arahan tersebut, perguruan tinggi diharapkan mampu menjaga keamanan seluruh warga kampus sekaligus mempertahankan keberlanjutan proses pendidikan.

Salah satu alternatif yang dapat ditempuh adalah menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau kuliah secara online apabila kondisi setempat tidak memungkinkan kegiatan tatap muka berlangsung secara optimal.

Kampus di Daerah Karhutla Diminta Menyesuaikan Kegiatan Akademik

Dalam menentukan metode pembelajaran, Kemdiktisaintek mendorong setiap perguruan tinggi untuk memperhatikan situasi terkini, termasuk kondisi kualitas udara dan tingkat paparan asap di lingkungan sekitar.

Penyesuaian dapat dilakukan melalui sejumlah kebijakan, seperti memaksimalkan perkuliahan daring, mengatur ulang waktu pelaksanaan kuliah, serta menyesuaikan jam kerja dan kegiatan operasional kampus.

Perguruan tinggi juga diharapkan tidak hanya berfokus pada keberlangsungan kegiatan akademik, tetapi turut mengambil bagian dalam upaya penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan membangun koordinasi bersama pemerintah, masyarakat, serta berbagai pihak terkait untuk mendukung penanggulangan karhutla.

Melalui tridarma perguruan tinggi, sivitas akademika dapat memberikan kontribusi dalam bentuk riset dan pengembangan ilmu pengetahuan, penyampaian informasi edukatif kepada publik, serta pengabdian masyarakat yang berorientasi pada mitigasi bencana.

"Dengan keterlibatan seluruh pihak, diharapkan dampak karhutla dapat diminimalkan dan kegiatan pendidikan tinggi tetap berlangsung sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan," kata Kemdiktisaintek.

Kabut Asap Juga Mendorong Penerapan PJJ di Sekolah Sumatera

Dampak kabut asap akibat karhutla turut memengaruhi pelaksanaan pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar hingga menengah.

Sejumlah daerah mulai mempertimbangkan atau memberlakukan metode belajar jarak jauh untuk melindungi para siswa.

Di Aceh, Dinas Pendidikan Provinsi mengeluarkan imbauan kepada satuan pendidikan agar mempertimbangkan penerapan PJJ, khususnya bagi sekolah yang berada di wilayah dengan kondisi kabut asap cukup parah.

Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah kawasan di Sumatera.

"Sehubungan dengan makin parahnya dampak kabut asap kebakaran lahan dan kebakaran hutan. Kami mengimbau kepada seluruh satuan pendidikan yang ada di Aceh untuk mempertimbangkan dan memutuskan proses pembelajaran jarak jauh," imbau Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin.

Selain Aceh, beberapa wilayah lain di Sumatera juga dilaporkan memberlakukan pembelajaran jarak jauh bagi siswa hingga 21 Oktober 2026.

Daerah yang menerapkan kebijakan tersebut mencakup Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Agam, Kota Pekanbaru, Kabupaten Kepulauan Meranti, dan Kota Jambi.

Penerapan PJJ di wilayah terdampak diharapkan dapat membatasi risiko paparan asap terhadap siswa. Pada saat yang sama, kegiatan belajar mengajar diharapkan tetap berjalan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan dan keselamatan peserta didik.***