POJOKSATU.id - Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.
Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati itu wafat dalam usia 73 tahun. Kabar tersebut disampaikan Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Kepergian Guruh bukan hanya meninggalkan keluarga besar Soekarno.
Indonesia juga kehilangan sosok yang sejak muda memilih seni sebagai ruang untuk mengekspresikan kecintaannya terhadap negeri.
Baca Juga: Si Bungsu Guruh Soekarnoputra Dikabarkan Kritis, Sekjen PDIP Mohon Doa
Namun, jauh sebelum dikenal sebagai seniman, Guruh adalah seorang anak yang tumbuh sangat dekat dengan Bung Karno.
Bung Karno, Ayah yang Juga Menjadi Guru
Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953, Guruh melewati sebagian masa kecilnya di lingkungan Istana Merdeka.
Di sana, ia melihat Bung Karno bukan hanya sebagai Presiden Republik Indonesia, tetapi sebagai ayah yang diamatinya setiap hari.
Bertahun-tahun kemudian, Guruh menggambarkan hubungan itu dengan kalimat yang sederhana tetapi kuat. Bagi dirinya, Bung Karno bukan sekadar orang tua.
“Bagi saya, ayah saya itu bukan hanya sebagai ayah, tapi juga sebagai guru, sebagai pemimpin, sebagai teman,” kata Guruh saat mengenang Bung Karno.
Baca Juga: Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Ini Jejak Karier Sang Seniman dari Panggung hingga Parlemen
Kedekatan tersebut membuat Guruh menyerap banyak hal dari sang ayah bukan melalui pelajaran formal, melainkan dari apa yang dilihatnya sehari-hari.
Dalam kesaksian yang disampaikan kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 2024, Guruh mengatakan Bung Karno dan Fatmawati mendidik anak-anak mereka terutama melalui perbuatan.
“Begitulah cara orang tua saya mendidik tentang kebudayaan, politik, dan lain sebagainya.
Saya merasa Bung Karno dan Ibu Fatmawati itu mendidiknya tidak secara verbal, tetapi selalu dengan perbuatan,” ujar Guruh.
Tumbuh di Istana, tetapi Diajarkan Dekat dengan Rakyat
Kehidupan di Istana Merdeka membuat masa kecil Guruh berbeda. Namun, lingkungan tempatnya tumbuh justru mempertemukannya dengan banyak kalangan.
Saat masih TK, Guruh bersekolah di sebuah gazebo di halaman Istana Merdeka.
Teman-temannya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari anak tukang kebun, koki, pelayan istana hingga anak menteri, duta besar dan pegawai sekretariat negara.
Baca Juga: Profil Guruh Soekarno Putra, Menikah dengan Penari Uzbekistan dan Tak Punya Keturunan
“Waktu taman kanak-kanak (TK), di halaman Istana Merdeka ada gazebo antara Istana Merdeka dan Istana Negara, di situlah dijadikan TK, dan teman saya itu mulai dari pegawai rendahan sampai yang tinggi,” tutur Guruh.
Ia mengatakan kehidupan tersebut membuat dirinya terbiasa melihat masyarakat tanpa sekat status.
Guruh juga mengingat bagaimana aturan protokol negara sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.
Meski merasa ruang geraknya terbatas, ia menilai pendidikan dari kedua orang tuanya justru membentuk sikap rendah hati.
“Kehidupan di Istana Merdeka itu, saya merasa biasa-biasa saja, dan merasa bersyukur sampai sekarang atas cara orang tua kami mendidik, baik ibu maupun bapak,” ujar Guruh.
Bagi Guruh, pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dari cara pandangnya terhadap Indonesia dan rakyatnya.
Bakat Seni yang Tumbuh Sejak Muda
Di luar lingkungan istana, Guruh menemukan dunianya sendiri melalui seni.
Sejak kecil ia telah dilatih menari dan kemudian mengembangkan ketertarikannya pada musik. Bakat itu terus berkembang hingga Guruh dikenal sebagai koreografer, pencipta lagu, penata gerak, dan seniman pertunjukan.
Saat remaja, ia membentuk grup musik The Beat-G. Pada 1975, Guruh kemudian mendirikan Guruh Gipsy bersama sejumlah musisi. Kelompok ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan musik progresif Indonesia.
Guruh juga membentuk Gank Pegangsaan bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman dan Chrisye.
Dari dunia musik, kiprahnya berkembang semakin luas. Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Mahardhika, kelompok seni yang kemudian menjadi wadah bagi pertunjukan tari, musik dan seni budaya sekaligus melahirkan sejumlah seniman.
Seni bagi Guruh Bukan Sekadar Pertunjukan
Bagi Guruh, seni memiliki hubungan erat dengan kecintaannya kepada Indonesia.
Dalam sebuah wawancara dengan ANTARA pada 2011, ia pernah menyebut kesenian sebagai alat perjuangan.
Perjuangan yang dimaksud bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan untuk menjaga seni dan budaya Indonesia.
Baca Juga: Profil Guruh Soekarno Putra, Menikah dengan Penari Uzbekistan dan Tak Punya Keturunan
“Perjuangan saya bukan untuk golongan atau kelompok tertentu. Perjuangan saya hanyalah untuk Indonesia tercinta,” kata Guruh.
Pandangan tersebut terlihat dalam karya-karyanya yang banyak mengambil inspirasi dari kekayaan budaya Nusantara.
Sejumlah karya Guruh juga memiliki hubungan kuat dengan sosok Bung Karno.
Lagu seperti Melati Suci, Zamrud Khatulistiwa, Gemuruh, Kala Sang Surya Tenggelam, Galih dan Ratna hingga karya lainnya menjadi bagian dari perjalanan seninya yang membawa semangat Indonesia.
Dari Kenangan Sang Ayah hingga Panggung Indonesia
Hubungan Guruh dengan Bung Karno tidak berhenti pada kenangan masa kecil di Istana Merdeka.
Baca Juga: Guruh Soekarno Putra Dimakamkan di Samping Makam Ibunya Fatmawati di TPU Karet Bivak
Ia juga membawa pengaruh sang ayah dalam cara memandang kebudayaan.
Guruh pernah menjelaskan bahwa benda-benda seni yang dikumpulkan Bung Karno semestinya dapat dipersembahkan kepada rakyat melalui museum atau perpustakaan yang menyimpan warisan tersebut.
Bagi Guruh, kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu. Seni menjadi cara untuk mengenalkan kembali identitas Indonesia kepada generasi berikutnya.
Warisan pemikiran itu berjalan beriringan dengan bakat yang sudah tumbuh sejak masa mudanya.
Dari tari hingga musik, dari panggung pertunjukan hingga politik, Guruh membawa satu benang merah: kecintaannya kepada Indonesia.
Kini Guruh telah berpulang. Putra bungsu Bung Karno dan Fatmawati itu meninggalkan kenangan tentang seorang anak yang tumbuh di tengah sejarah besar bangsa, sekaligus seniman yang berusaha menerjemahkan kecintaannya kepada Indonesia melalui karya.
Di antara semua kisah tentang dirinya, mungkin kenangan Guruh terhadap sang ayah menjadi salah satu yang paling personal.
Bung Karno baginya bukan hanya Presiden pertama RI, tetapi ayah yang ia lihat sebagai guru, pemimpin dan teman—sosok yang pengaruhnya terus hidup dalam perjalanan Guruh hingga akhir hayatnya. ***




