Jakarta, POJOKSATU.id - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang lahirnya industri baru yang dapat mengubah cara bisnis dan layanan publik beroperasi.
Namun demikian, adopsi teknologi saja tidak cukup untuk menangkap peluang tersebut.
Dibutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan teknologi, kebutuhan pengguna, dan investasi agar inovasi dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan.
Demikian disampaikan oleh Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Nanang Hendarno, dalam plenary session “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026, Selasa (27/10).
Dalam sesi ini, Nanang berdialog bersama Teddy Liu, Executive Director sekaligus Chief Executive Officer JINGDONG Coinlink Technology Hong Kong Limited, serta Sara Supaamornkul, Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis.
Diskusi yang dipandu oleh Irwan Rei, Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia tersebut membahas teknologi yang berpotensi membentuk industri global berikutnya dari perspektif digital, bisnis, dan pengembangan infrastruktur.
Nanang menjelaskan bahwa AI berpotensi menjadi layanan yang digunakan secara luas, sehingga peluang bisnisnya tidak hanya terletak pada penjualan teknologi, tetapi juga pada infrastruktur yang menopang penggunaannya.
Sejak 2022, biaya per kueri AI telah turun sekitar 280 kali, sementara penggunaan AI di Google meningkat hingga tujuh kali lipat dalam satu tahun.
Penurunan biaya ini membuka peluang peningkatan konsumsi sekaligus memperbesar kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung.
“Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat. Karena itu, nilai ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan menyediakan infrastruktur dan kepercayaan yang dibutuhkan agar AI dapat digunakan secara luas,” ujar Nanang.
Meski adopsi AI terus meningkat, penciptaan nilai bisnis masih menjadi tantangan. Dalam paparannya, Nanang menyampaikan bahwa 95% proyek percontohan (pilot) AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan, sementara hanya 25% perusahaan yang mencapai tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI) sesuai harapan.
Di sisi lain, integrasi AI ke dalam alur kerja perusahaan masih terbatas, dengan 21% perusahaan telah mendesain ulang proses kerjanya untuk memanfaatkan teknologi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi perlu diikuti perubahan proses bisnis dan didukung lima faktor agar dapat berkembang menjadi industri berkelanjutan, yakni biaya yang terjangkau, permintaan pasar, penyesuaian alur kerja, ekosistem mitra dan pengembang, serta kepastian standar dan regulasi.
Berdasarkan analisis terhadap potensi pembentukan industri, terdapat lima kandidat industri global masa depan, yang meliputi konektivitas terintegrasi yang mencakup darat, laut, udara, dan edge AI, pusat data AI berskala besar yang didukung komputasi dan energi andal, infrastruktur kepercayaan digital, ekonomi berbasis agen AI (agentic economy), serta layanan otonom berbasis AI (Autonomous-as-a-Service) untuk sektor industri dan pemerintahan.
Dua bidang pertama merupakan kapabilitas inti Telkom, sementara tiga lainnya menjadi area yang memiliki potensi besar untuk dilakukan pengembangan.
Sebagai perusahaan digital telco terdepan di Indonesia, Telkom membangun fondasi tersebut melalui pengembangan konektivitas, pusat data, serta platform dan aplikasi AI.
Telkom memiliki kapasitas satelit sebesar 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional (international Points of Presence/PoPs).
Di sisi komputasi, NeutraDC mengoperasikan kapasitas pusat data sebesar 48,4 MW per kuartal III 2026 di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan aspirasi ekspansi kapasitas hingga 1 gigawatt.
Pengembangan infrastruktur pusat data juga perlu didukung ketersediaan energi dan sistem pendinginan yang andal untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus berkembang.
Sementara itu, melalui Model Hub, Telkom menyediakan akses dan tata kelola model AI global, berdaulat, maupun yang dirancang untuk kebutuhan industri tertentu, sekaligus mendukung pengembangan aplikasi dan kasus penggunaan (use case) AI.
Keseriusan TelkomGroup dalam membangun ekosistem digital nasional juga tercermin melalui peluncuran inisiatif pengembangan Sovereign Digital Technology pada hari pertama DTIIF 2026.
Inisiatif ini mencakup empat kapabilitas strategis, yakni AI Ready Data Center, AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera, yang mengintegrasikan infrastruktur komputasi, pengembangan AI, konektivitas perangkat, serta perluasan akses pasar bagi UMKM.
Pengembangan ini sejalan dengan upaya TelkomGroup mendukung kemandirian teknologi Indonesia sekaligus memperluas manfaat ekonomi digital bagi berbagai sektor.
“Telkom membangun tiga fondasi utama untuk mendukung perkembangan industri AI, yaitu konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, serta gerbang model AI dan pengembangan aplikasi. Konektivitas menghubungkan pengguna, pusat data menyediakan kapasitas komputasi, sedangkan ModelHub menghadirkan akses dan tata kelola model AI untuk berbagai kebutuhan. Dengan menghubungkan ketiganya, Telkom dapat menghadirkan kapabilitas teknologi yang relevan bagi pelanggan dan membuka peluang pengembangan layanan baru,” tambah Nanang.
Pengembangan industri AI membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah berperan menetapkan regulasi, termasuk terkait kedaulatan data dan identitas agen AI.
Perusahaan telekomunikasi dan infrastruktur digital menyediakan konektivitas serta komputasi yang andal, sedangkan pengembang teknologi dan startup menghadirkan solusi sesuai kebutuhan pasar.
Talenta yang memiliki keahlian dalam pengembangan dan integrasi AI turut dibutuhkan agar teknologi dapat diterapkan secara efektif.
Di sisi lain, UMKM dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, layanan, dan penjualan.
Nanang juga menilai pentingnya investasi berjangka panjang atau patient capital untuk membangun fondasi yang membutuhkan waktu sebelum menghasilkan keuntungan.
Di pasar berkembang seperti Indonesia, investasi perlu dilakukan sebelum permintaan terbentuk, didukung ketersediaan energi yang andal, kepastian perizinan dan regulasi, serta penciptaan permintaan awal.
“Industri global berikutnya tidak hanya dibangun oleh pihak yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membangun fondasinya sebelum permintaan pasar terbentuk. Indonesia memiliki kebutuhan dan infrastruktur digital sebagai modal awal. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kapabilitas, membangun kolaborasi, dan mengembangkan industri yang mampu bersaing di tingkat global. Teknologi yang kita bangun hari ini akan menjadi industri global masa depan,” tutup Nanang.







