POJOKSATU.id - Influencer dan Dokter Tirta Mandira Hudhi atau dr Tirta mengungkapkan kekesalannya dengan riak di media sosial. Ini setelah cap barisan sakit hati atau anak abah yang diberikan ke orang-orang yang mengkritik lambatnya penanganan kebakaran hutan (karhutla).

dr Tirta mengingatkan, bahwa negara dan pemerintah wajib menjamin kebutuhan warganya terutama soal dua hal yaitu udara bersih dan air bersih.

Dia mengatakan karhutla yang berdampak tercemarnya udara sejatinya bisa diatasi jika pemerintah menyiapkan mitigasi jauh hari. Karena, banyak pakar telah mengingatkan soal kemarau panjang juga kemungkinan badai el nino.

"Harusnya saat itu sudah dilakukan imigitasi bencana, jadi jangan didebat lagi apalagi ngeles dengan ngomong 'ini di luar kuasa kami'. Betul, segala sesuatu di luar kehendak manusia itu adalah faktor X yang tidak bisa kita kontrol, tapi ada namanya mitigasi," ujarnya dilansir dari laman TikTok-nya, Kamis, 20 Oktober 2026.

Dia mencontohkan, penanganan bencana di negara lain, salah satunya gempa bumi. "Apakah kita bisa menebak gempa bumi? Tentu tidak, tapi ada mitigasinya, mereka membuat bangunan tahan gempa, ataupun kalau jatuh tidak langsung menciderai," sambungnya.

Dan, karhutla di Indonesia terbilang lamban penanganannya yang berimbas ke banyak warga.

"Sama seperti kali ini yang disuarakan masyarakat kenapa enggak kelar-kelar (penanganan karhutla)," tukasnya.

Dia mengatakan, Jakarta yang kualitas air quality indeks 150 telah membuat kasus penyakit pernafasan meningkat, apalagi yang di daerah karhutla.

"Kita bisa tanyakan ke poli paru (Jakarta), keluhan bronchitis, batuk, asma, radang pita suara meningkat. Bayangkan kena dampak asap yang indeks 500-100," lanjutnya.

Mirisnya, sebut Tirta, fokus ke karhutla dan kritik warga ke pemerintah malah digeser dengan tudingan barisan sakit hati kalah Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

"Pemilu itu tahun 2024, tidak ada yang peduli lagi. Yang kita lakukan sekarang adalah mengkritik teman-teman yang lagi memegang kekuasaan, yang digaji dari setoran pajak rakyat. Jadi ini bukan barisan sakit hati, jangan membawa isu menjadi konflik horizontal," tuturnya.

Dia juga menyinggung pejabat pemerintah yang acap kali memberikan pernyataan yang bikin masyarakat geleng-geleng kepala.

"Kalau kalian enggak bisa memberikan statement menenangkan, mending mingkem," tandasnya.

dr Tirta juga menegaskan ke netizen yang menyerang, dirinya bukan benci Prabowo hanya gegara speak up soal karhutla.

"Enggak ada yang nyenggol presiden yang sudah terpilih, saya hormat konstitusi. Sudahlah, saya enggak pernah benci sama yang milih, karena kalian manusia biasa yang mengunakan hak demokrasi," ucapnya.

Pun, dia berharap ketika bersuara jangan dicap aneh, karena sebagai warga dia punya hak untuk itu.

"Saya mengunakan hak sebagai warga negeri yang kritis. Ini demokrasi bukan menghujat, jangan kebakaran jenggot," ujarnya.

Dia justru heran dengan warga yang mati-matian membela pemerintah dan tak suka jika dikritik.

"Kenapa kalian bela pemerintah, mereka kaya raya, mereka terpilih, kayak lucu aja membela pejabat. Mereka enggak perlu dibela, mereka tidur enak-enak pakai mobil mewah terus kalian membela," imbuhnya.

Dan, dia mengingatkan, berhenti mengaitkan dengan para calon presiden pada Pemilu 2024 lagi.

"Pak Anies sudah ngisi seminar, Pak Ganjar sudah lari-lari sampai luar negeri. Yang bersuara itu kita warga, jangan digeser barisan sakit hati, anak abah, enggak ada yang peduli," bebernya.

"Kalian pemenang masak insecure, sikit-sikit dikritik disebut barisan sakit hati. Yang menang buktikan dengan program yang sudah dijadikan. Jangan mau dibenturin sesama warga," pungkas dr Tirta. ***