Oleh: Sugeng Budiharsono
Rusia menginvasi Ukraina, negara tetangganya, yang dulu merupakan negara satelit Rusia yang tergabung dalam Uni Soviet pada 24 Februari 2022 dengan sejumlah alasan, diantaranya:
1. Ukraina bergabung dengan NATO
Dengan akan bergabungnya Ukraina dengan NATO, maka Rusia menganggap ekspansi NATO sebagai ancaman eksistensi mereka. Putin menekankan bahwa Ukraina adalah bagian dari Rusia secara budaya, bahasa, dan politik.
2. Ukraina menentang supremasi Rusia
Konflik bersenjata di Semenanjung Krimea pada awal 2014 didasari oleh penolakan supremasi Rusia.
3. Melindungi kelompok pro Rusia di Ukraina timur
Putin ingin melindungi kelompok pro Rusia dari kejahatan genosida oleh Presiden Zelensky.
4. Ukraina dianggap NAZI
Putin menuduh Zelensky adalah seorang NAZI
5. Ukraina merusak identitasnya
Putin menulis dalam sebuah essai panjang di Juli 2021 bahwa Barat telah merusak Ukraina dan menariknya keluar dari orbit Rusia.
Selain alasan-alasan di atas, sejatinya invasi tersebut dalam rangka memberikan pelajaran bagi Ukraina, juga tentu saja pelajaran bagi sponsornya, yaitu Uni Eropa.
Hal ini dapat dilihat durasi invasi yang hampir tiga tahun dan dari persenjataan yang digunakan, Rusia hanya menggunakan senjata yang memiliki daya rusak terbatas. Padahal Rusia dapat menghancurkan dalam waktu sekejap dengan menggunakan senjata nuklir Tsar Bomba misalnya, yang memiliki daya rusak 1570 kali gabungan bom atom yang digunakan di Nagasaki dan Hiroshima. Namun dengan menghancurkan Ukraina seperti itu, maka tujuan utama invasi, agar Ukraina kembali menjadi negara sekutu dan di bawah supremasi Rusia tidak akan tercapai. Malah yang terjadi rakyat Ukraina akan memendam kebencian dan dendam kepada Rusia selama-lamanya. Maka Rusia memberikan pelajaran kepada Ukraina dan juga Uni Eropa dengan cara "menyiksanya" melalui perang jangka panjang.
Terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina tersebut, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya memberlakukan serangkaian sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ekonomi Rusia, termasuk pembatasan impor barang-barang berteknologi tinggi Rusia, pembatasan pendapatan Rusia melalui pembatasan harga ekspor minyaknya, dan sanksi keuangan terhadap bank-bank dan badan-badan pemerintah Rusia.
Meskipun ada banyak keberhasilan sanksi yang jelas, ekonomi Rusia hingga saat ini terbukti lebih tangguh daripada yang diperkirakan banyak orang, dan sanksi tidak menghalangi kampanye militer agresif Putin.
Selama perang Rusia-Ukraina kinerja ekspor Rusia masih cukup baik. Pada tahun 2021, atau sebelum invasi, nilai ekspor Rusia mencapai 548,80 miliar dolar AS.
Pada tahun 2022 nilai ekspor mencapai 635 07 molyar dolar AS, dan tahun 2023 mencapai 466 60 milyar dollar. Dan diperkirakan pada tahun 2024 nilsi ekspor tahun 2024 tidak jauh dari nilai ekspor tahun tahun 2023.
Kestabilan nilai ekspor tersebut karena negara tujuan ekspor Rusia adalah negara-negara besar di luar negara Barat seperti China, India dan Brasil yang tergabung dalam BRICS.
Kinerja ekonomi Rusia cukup stabil. Berdasarkan World Economic Outlook edisi Oktober 2024 dari IMF dan OECD Economic Outlook, interim report September 2024 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi pada mencapai 3,6 %. Demikian juga pada tahun 2024 stabil pada 3,6-3,7 %. Namun pada tahun 2025 diperkirakan turun mencapaide 1,1 % - 1,3 %
Pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor Rusia cukup stabil. LPE China pada tshun 2023 dan peoyeksinya pada tahun 2024-2025 bertutut-turut 5,2%, 4,8%, dan 4,5%. Sedangkan LPE dari 2023-2025 berturit-turut sebesar 8,3% 7,0%, dan 6,6%.
Namun alih-alih sanksi tersebut membuat runtuhnya perekonomian Rusia, yang terjadi malah sebaliknya. Dampak buruk perang Rusia-Ukraina justru menimpa Uni Eropa.
Dampak buruk perang Rusia-Ukraina terhadap perekonomian Uni Eropa terutama disebabkan oleh:
1. Peningkatan harga energi
Perang telah mengganggu pasokan gas alam untuk banyak negara Eropa, yang menyebabkan harga energi yang lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan peningkatan biaya produksi yang lebih lanjut menyebabkan penurunan daya saing produk negara-negara Uni Eropa.
2. Pertumbuhan ekonomi melambat
Perang telah memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama di negara-negara dekat Ukraina, seperti Polandia dan Hungaria.
3. Menurunkan ketahanan pangan
Perang telah menghancurkan pertanian, tanah, dan tanaman di Ukraina, yang sering digambarkan sebagai lumbung pangan Eropa. Menurut Kementerian Pertanian Ukraina, sekitar 20% lahan yang digunakan untuk tanaman pangan pada tahun 2021 kini tidak tersedia. Penurunan produksi pangan di Ukraina yang merupakan pemasok Uni Eropa, akan menurunkan ketahanan pangan Uni Eropa. Selain itu. Perang juga berdampak pada petani UE, karena peningkatan harga produksi seperti energi dan pupuk yang tinggi, yang lebih lanjut dapat menurunkan ketahanan pangan.
4. Penurunan daya beli
Kenaikan harga pangan dan energi telah mengurangi daya beli konsumen, dan meningkatkan kemiskinan. Karena upah dan dukungan pemerintah tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa penting yang begitu tinggi, situasi tersebut mengakibatkan krisis biaya hidup. Menurut laporan, 'pada Januari 2023, hampir setengah (47,1%) dari pengeluaran rumah tangga rata-rata di UE digunakan untuk tiga pengeluaran yang mengalami kenaikan paling tajam, yaitu tagihan rumah tangga, transportasi, dan makanan'. Dengan demikian, pada Januari 2023, 93% orang Eropa menyebut kenaikan biaya hidup sebagai kekhawatiran terbesar mereka. Meskipun angka inflasi telah turun dan inflasi tahunan mencapai 2,8% pada Januari 2024, resesi yang membayangi dan pertumbuhan yang lambat, terutama di kawasan euro, menghambat prospek ekonomi.
5. Rantai pasokan terganggu
Perang telah mengganggu pasokan makanan, minyak, gas, dan logam, yang menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan gangguan perdagangan
6. Peningkatan biaya untuk menyambut pengungsi
Perang telah menyebabkan lonjakan pengungsi yang memecahkan rekor, yang telah menambah biaya untuk menyambut mereka.
7. Peningkatan pengeluaran militer
Perang telah menyebabkan peningkatan pengeluaran militer di UE, terutama pada tahun 2023.
8. Kepercayaan yang terguncang pada sistem keuangan
Perang telah mengguncang kepercayaan masyarakat pada sistem keuangan.
Salah satu raksas aekonomi Uni Eropa terkena dampak buruk dari sanksi yang dikenakan kepada Rusia tersrbut adalah Jerman. LPE pada tahun 2023 mencapai -0,3 %. Menurut Kementerian Ekonomi Jerman LPE pada tahun 2024 terjadi kontraksi 0,2 %. Sedangkan pada tahun 2025 sudah pulih mencapai 0,8%-1,9% (OECD dan IMF, 2024). Sedangkan LPE wilayah Euro pada tahun 2023-2025, berturut-turut mencapai 0,4%, 0 7%-0,8%, dan 1,2%-1,3%.
Putin tidak meletupkan satupun senjata di tanah Uni Eropa, tapi dampak perang Rusia-Ukrsina telah menghancurkan Ukraina dan juga perekonomian Uni Eropa.
Perang Rusia-Ukraina yang diperkirakan oleh sebagian besar pengamat akan menghancurkan Rusia bahkan meruntihkan Putin dari tampuk kekuasaannya, namun kecil kemungkinannya terjadi. Dampak buruk perang ini akan lebih banyak berpengaruh kepada Uni Eropa.
Uni Eropa tidak tinggal diam menghadapi dampak buruk perang tersebut, bahkan sudah menyusun strategi yang bertujuan untuk memperkuat basis ekonomi UE.
Langkah-langkah konkret tersebut terutama mencakup pembentukan daftar teknologi utama, yang penting bagi keamanan ekonomi UE, dan inisiatif yang ditujukan untuk mengevaluasi dan mengurangi risiko yang terkait dengannya. Komisi juga akan membuat penilaian menyeluruh terhadap risiko keamanan ekonomi di empat area:
- rantai pasokan
- infrastruktur penting
- keamanan dan kebocoran teknologi, dan
- ketergantungan ekonomi.
Namun kenyataannya strategi tersebut belum berdampak signifikan terhadap perbaikan ekonomi di wilayah Uni Eropa, karena terbukti raksasa ekonomi
Uni Eropa saja, Jerman, masih menderita perekonomiannya sampai tahun 2024. Maka sangat tepat apabila, presiden terpilih AS, Donald Trump, untuk segera menghentikan perang. Karena semakin lama perang berlangsung akan semakin memperburuk perekonomian Uni Eropa, dan tentu saja pada sekutu Barat lainnya. ***
Penulis adalah Pengamat Sosial Ekonomi dan Politik dari Komunitas Berbagi Ilmu



