Oleh: Sugeng Budiharsono

Istilah bioprospeksi mungkin masih belum banyak dikenal orang banyak. Istilah tersebut dialihkan bahasakan dari bioprospecting.

Bioprospeksi didefinisikan sebagai pencarian secara sistematik dan terorganisir untuk produk-produk berguna yang berasal dari sumber hayati (tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan lainnya) yang dikembangkan untuk komersialisasi dan manfaat lainnya. Sedangkan berdasarkan Peraturan Menteri LHK No: P 02/MenLHK/Sethen/Kum.1/1/2018, bioprospeksi didefinisikan sebagai kegiatan eksplorasi, ekstraksi, dan penapisan sumber daya alam hayati untuk komersialisasi baik dari sumber daya genetik, spesies, dan biokimia beserta turunannya.

Beberapa produk bioprospeksi antara lain adalah bahan baku industri, jamu, obat, kosmetik minyak atsiri, biopestisida, bioherbisida, biofertilizer, emulsifier, parfum, penyedap makanan dan lain-lainnya. Produk bioprospeksi yang beragam dan banyak kegunaannya, menjadikan bioprospeksi memiliki nilai ekonomi yang tinggi

Luasnya wilayah Indonesia dan tingginya keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, dapat menjadikan Indonesia sebagai negara terdepan dan terbesar dalam pengembangan bioprospeksi. Dan Indonesia sudah mengembangkan hal ini sejak lama, antara lain adalah jamu tradisional. Bahkan saking pentingnya peran jamu, maka pemerintah telah menetapkan tanggal 27 Mei sebagai Hari Jsmu Nasional.

Pengembangan bioprospeksi ke depan semakin kuat. Karena salah satu arah kebijakan dalam rancangan Rencana Jsngka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 adalah pengembangan industri berbasis inovasi dan riset, terutama untuk mendorong ekonomi biru dan bioekonomi.

Arah kebijakan jangka panjang pengembangan bioprospeksi juga sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia. Menurut World Economic Forum (2020) bahwa bisnis semakin tergantung kepada sumber daya alam dan lingkungan. Dari analisis 163 sektor ekonomi dan rantai pasoknya, ditemukan bahwa lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) dunia bergantung pada alam dan jasa-jasa lingkungannya. Nilainya mencapai 44 triliyun dollar AS atau sekitar 704 000 triliyun rupiah. Angka yang sangat fantastis.

Namun alam dan lingkungan yang sedemikian besar perannya dalam perekonomian dunia, sayangnya telah dirusak oleh manusia itu sendiri. Diperkirakan sebesar 25 persen spesies tumbuhan dan hewan terancam oleh kegiatan ekonomi manusia. Satu juta spesies menghadapi kepunshan, dan banyak diantara dalam dekade ini.

Pengembangan ekonomi berbasis bioprospeksi, tidak perlu merusak hutan seperti untuk pertambangan atau perkebunan yang merusak hutan dan ekosistem lainnya. Juga tidak perlu mengesploitasi laut secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan ekosistem dan tangkap lebih (over exploited) Bisnis bioprospeksi juga bukan hanya memanen dari alam liar, namun dapat juga memanennya dari hasil budidaya tanaman dan hewan maupun mikroorgsnisme. Dan nilainya sungguh fantastis. Jadi tanpa merusak alam dan lingkungan, baik itu bentang alam, hutan maupun lautan, dapat dihasilkan nilai ekonomi yang sangat tinggi. Dan nilainya akan lebih tinggi lagi, apabila ditambah lagi dengan nilai ekonomi dari jasa-jasa lingkungan. Akibat alam dan lingkungannya terjaga dan lestari. Jadi pengembangan ekonomi lokal berbasis bioprospeksi ini merupakan bisnis bernilai ekonomi tinggi, tanpa merusak lingkungan. Sehingga kerusakan lingkungan dan dampaknya seperti perubahan iklim ekstrim, peningkatan permukaan air laut, dan bencana lainnya dapat dihindari baik saat ini maupun di masa depan

Potensi Bioprospeksi Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat besar. Terdiri dari 17.504 pulau, baik yang besar, kecil, maupun sangat kecil. Luas total Indonesia mencapai 8,32 juta kilo meter persegi atau 832 juta hrktar. Terdiri dari daratan seluas 191 juta hrktar dan 632 juta hektar lautan Luasnya wilayah kepulauan Indonesia, mengakibstkan tingginya keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Apalagi kepulauan Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan Australia menyebabkan flora dan fsunanya dipengaruhi oleh Asia, Australia, dan peralihan antara Asia dan Australia. Secara imajiner wilayah-wilaysh Indonesia tersebut dibedakan oleh Garis Wallace dan Garis Weber.

Berdasarkan Global Bioiversity Index tahun 2022 Indonesia dinobatkan sebagai Mega Diverse di peringkat kedua setelah Brazil. Indonesia memiliki 1.723 spesies burung, 323 spesies amfibi, 4.381 spesies ikan, 729 spesies mamalia, 773 spesies reptil, dan 19.232 tanaman berpembuluh (vascular plant) dengan skor total 418,23.

Bandingkan dengan Brazil yang berada pada peringkat pertama, yang memiliki 1.816 spesies burung, 1.141 spesies amfibi, 4.738 spesies ikan, 693 mamalia, 847 reptil dan 34.387 spesies tanaman bepembuluh dengan skor total 512 34.

Indonesia yang terletak di pusat Segitiga Terumbu Karang juga memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang yang sangat tinggi. Ada 605 spesies terumbu karang di segitiga tersebut, atau sekitar 70 persen dari total terumbu karang dunia. Sedangkan terumbu karang yang ada di Indonesia sebanyak 569 spesies. Luas terumbu karang Indonesia sebesar 2,5 juta hektar.

Selain kaya akan keanekaragaman jenis, tingkat endemisme fauna Indonesia juga sangat tinggi, hal ini terutama disebabkan oleh keunikan geologinya. Indonesia juga merupakan salah satu pusat agrobiodiversitas tanaman dan hewan peliharaan di dunia. Ini merupakan berkah dari Tuhsn Ysng Maha Esa untuk dimanfaatkan rakyat Indonesia dan menjaganya agar tetap lestari.

Sumber Baru Perekonomian Indonesia

Sukarna, Santosa, dan Reri (2019) telah melakukan penelitian tentang total nilai ekonomi (TNE) hutan sekunder di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. TNE hutan lahan kering sekunder seluas 20.800 hektar sebesar 769,4 milyar pertahun atau sebesar Rp 36.990.384/ha/tahun.

TNE hutan rawa sekunder seluas 12.900 hektar sebesar 453,6 milyar rupiah atau sebesar Rp 3.516.279/ha/tahun. Sedangkan TNE hutan mangrove sekunder seluas 2.900 hektar sebesar 83,9 milyar rupiah setahun atau sebesar Rp 2.893.103/ha/tahun. Nilai TNE hutan msngrove di Teluk Bintuni lebih rendah dari yang di Kotawaringin Timur. Berdasarkan penelitian Ruitenbeek, (1991) TNE mangruve hanya 15 dollar AS per hektar per tahun Diperkirakan luas hutan mangrove Indonesia sebesar 3,3 juta hektar dan TNE sebesar Rp 2.893.103/ha/tahun, maka TNE hutan mangrove seluruh Indonesia sebesar 9,5 triliyun pertshun

Nilai ekonomi terumbu karang pada tahun 2012 sebesar 2 milyar dollar AS atau sekitar 32 triliyun rupiah per tahun (Biodivesity Conxervation, 2012). Laut Indonesia dari ikan telah menyumbang sebesar 27 milyar dollar AS atau sebesar 432 triliyun rupiah setiap tahunnya. Sedangkan total nilai sebesar 256 milyar dollar AS atau sebesar 4.096 triliyun rupiah per tahun atau sebesar 1,07 persen dari nilai ekonomi kelautan dunia.

Nilai ekonomi sumber daya alam dan lingkungan sangat luar biasa. Demikian juga untuk pengembangan bioprospeksinya. Karena bahan bioprospeksi tersedia secara luar biasa baik di daratan maupun lautan. Bioprospeksi merupakan sumber baru perekonomian Indonesia. Tinggal dimanfaatkan secara arif dan bijaksana serta melibatkan UMKM. Seperti pada industri jamu ysng pelakunya sebanyak 87,2 persen berasal dari UMKM. Sehingga rakyat banyak dapat menikmatinya.

Pengembangan Bioprospeksi di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki banyak kawasan konservasi yang kaya dengan flora, fauna, mikroorganisme dan sumber daya genetik, ysng merupakan bahan baku bioprospeksi. KLHK memiliki kawasan konservasi seluas 38,2 juta hektar yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.

Beberapa bioprospeksi yang berasal dari kawasan konservasi antara lain obat anti kanker dari bajakah, bahan kosmetik dari jemang, bahan baku jamu, anti bakteri dari kedawung, biofertilizer dan anti front dari bakteri PGMJ. Dengan potensi bioprospeksi ysng tinggi tersebut, KLHK berpartisipasi dalam rangka percepatan pengembangan bioprospeksi di tanah air

KLHK bersama BRIN, FOLU Net Stink dari Norwegia dan Perkumpulsn Bogor Natur Indonesia (BNGi), saat ini mengembangkan bioprospeksi di tiga kawasan konservasi. Ketiga kawasan konserasi tersebut adalah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Taman Nasional Gunung Ciremsi (TNGC), dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Di TNGC akan dilaksanakan pembuatan demplot untuk penggunaan biofertilizer PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) tipe C71 yang berasal dari TNGC tersrbut, yang ditemukan oleh Prof. Dr. Suryo Wiyono, MSc, dari IPB University, Bogor. Pembuatan demplot ini sebagai contoh untuk para petani lainnya di empat kabupaten penyangga TNGC tersebut, yaitu Kuningan, Cirebon, Indramayu, dan Majalengka
.
Biofertilizer PGPR C71 ini meningkatkan produktivitas tanaman secara bervariasi dari 26,1 persen sampai dengan 110 persen. . Juga umur panen lebih cepat 12-20 hari. Penggunaan PGPR C71 ini mengurangi pupuk kimia 30-70 persen, dan pestisida 100 persen. Selain itu tanaman lebih tahan terhadap penyakit dan kekeringan. Dengan hasil pertanian yang melimpah, maka diharapkan penduduk di lokasi penyangga akan lebih menjaga TNGC.

Pendekatan Klaster dan Kolaboratif

Pemanfaatan bioprospeksi untuk peningkatan produktivitas pertanian, sebaiknya tidak hanya sampai bahan baku. Agar nilai tambah yang diterima oleh petani semakin meningkat, maka sebaiknya bahan mentah tadi diolah lebih lanjut (agro-based industry). Para petani juga difasilitasi untuk pembuatan packaging yang menarik dan dipasarkan baik secara daring maupun di pasar konvensional.

Pengembangan ekonomi lokal berbasis bioprodprksi ini sebaiknya dilakukan dengan pendekatan klaster. Klaster terdiri dari beberapa desa yang saling berbatasan secara administratif politis dan saling terkait secara fungsional. Pengembangan pertanian dari hulu sampai hilir ini dapat dikaitkan dengan kegiatan pariwisata. (Geo-ekowisata). Sehingga akan meningkatkan nilai tambah lebih tinggi. Sehingga desa-desa dalam satu klaster tidak harus semuanya pertanian, tapi bisa saja beberapa desa sebagai desa wisata. Pengembangan klaster tersebut sebaiknya tidak hanya mandiri, tapi dapat dikaitkan dengsn objek wisata atau klaster lain dalam suatu jejaring

Pengembangan klaster ini sebaiknya dilakukan secara kolaboratif, khususnya pemerintah daerah setempat dan kementerian/lembaga terkait seperti Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UMKN dan yang lainnya, sampai pemerintah desa.

Pelibatan lembaga ekonomi dI aras desa (BUMDES), maupun beberapa desa (BUMDESMA), akan sangat baik. Lembaga ekonomi lainnya seperti perusahaan besar ysng menampung produk dari klaster tersebut dan e-commerce dapat diajak betkolaborasi. Jangan lupa juga mengajak perguruan tinggi dalam rangka pengembangan inovasi dan kreativitas yang akan dapat meningkatkan produktivitas

Di era globalisasi, produk yang diproduksi oleh suatu daerah dengan daerah lainnya hsmpir sama. Oleh karena produk suatu desa atau klaster sebaiknya memiliki perbedaan dengan daerah lsinnya, akan lebih lagi kalau memiliki keunikan. Sehingga memiliki daya saing bukan hanya di aras lokal, tapi juga nasional bahkan internasional. Agar produk dan lokasi klaster dikenal secara nasional maupun internasional, maka perlu dilakukan pemerekan produk dan tempat (product and place branding). Kemudian dipromosikan di media digital seperti X, TikTok, youtube dan lainnya. Diharapkan dengan pengembangan produk dari hulu sampai hilir dan dikaitkan dengan kegiatan lainnya, geo-ekowisata misalnya, serta dalam pendekatan klaster akan mensejahterakan masyarakat di desa-desa penyangga TNGC. ***

Dosen Pascasarjana UI dan IPB, pengamat posial ekonomi dan politik dari Komunitas Berbagi Ilmu.