Oleh: Sugeng Budiharsono
Kebahagiaan menjadi sesuatu hal yang dicari sejak manusia ada di bumi. Adam diturunkan ke bumi dari surga, yang sifat kebahagiaannya kekal, karena tergoda oleh setan, untuk mencari "kebahagiaan" yang lain.
Kebahagiaan seringkali hanya dimaknai dengan kebahagiaan bendawi (material wellbeing). Sehingga yang dicari dan dikuasai adalah yang bersifat bendawi, seperti uang, lahan, kendaraan, perhiasan dan lain sebagainya.
Jadi yang dianggap bahagia adalah apabila seseorang atau komunitas, atau negara yang memiliki hal-hal di atas. Padahal tentu saja kebahagiaan bukan hanya diukur dari segi bendawi saja.
Sebenarnya kebahagiaan mencakup juga kebahagiaan non-bendawi (immaterial wellbeing), yang bersifat spiritualitas atau jiwani. Baik kebahagiaan bendawi maupun kebahagiaan non-bendawi, seyogyanya harus seimbang. Bahkan akan lebih baik apabila kebahagiaan non-bendawi porsinya lebih besar dari kebahagiaan bendawi. Bukankah rasa bahagia juga bukan sesuatu yang bersifat bendawi?
Agama mengajarkan bahwa pencarian kebahagiaan bukan hsnya untuk kehidupan di dunia saja, namun juga untuk kebahagiaan setelah kehidupan di dunia (akhirat). Sehingga seseorang dalam mencari kebahagiaan di dunia apalagi untuk di akhirat perlu mengikuti pedoman yang diperintahkan oleh Pencipta alam semesta. Pedoman inilah yang menuntun msnusia memperoleh kebahagiaan sejati baik di dunia maupun di akherat
Pada tulisan ini aksn dibahas tentang Indeks Kebahagiaan (Index of Happiness) tahun 2024 yang dikeluarkan oleh Gallup, the Oxford Wellbeing Research Center, SDSN. dan the WHR's Editorial Board.
Indeks Kebahagiaan 2024
Indeks Kebahagiaan dibangun di atas kebahagiaan bendawi. Pilar penyusun Indeks Kebahagiaan adalah Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, harapan hidup, adanya seseorang yang dapat diandalkan, rasa kebebasan, dan persepsi korupsi.
Pilar-pilar tersebut sebenarnya masih dapat diperdebatkan Bahkan terkesan sumir. Contohnya adalah pilar persepsi korupsi. Itu perubahan, (variable) yang kaitannya tidak langsung dengan Indeks Kebahagiaan. Tapi kalau ditanya apakah terkait, pasti ada kaitannya. Karena korupsi yang dilakukan oleh sekelompok orang, dapat menurunkan kinerja ekonomi, yang lebih lanjut dapat mempengaruhi PDB.
Gallup melakukan pemeringkatan berdasarkan tingkat kebahagiaan nasional yang dilaporkan oleh mereka itu sendiri. Peneringkatan didasarkan pada rata-rata tiga tahun dari penilaian rata-rata setiap populasi terhadap kualitas hidup mereka
Pada tahun 2024 peringkat satu atau negara yang paling bahagia dipegang oleh Finlandia, dengan skor 7,74 dari 10,00 Finlandia telah memegang rekor ini selama tujuh tahun berturut-turut Sedangkan negara dengan peringkat terendah ke-143 dari 143 negara adalah Afghanistan dengan skor 1,72.
Afghanistan wajar ada di peringkat tersebut karena baru merdeka dari penjajahan Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat (NATO,). AS dan sekutu Natonya telah menjsjah selama dua puluh tahun (2001-2021). Dan sebelumnya Afghsnistan juga telah dijajah oleh Uni Sovyet selsma sepuluh tahun (1979-1989).
Negara-negara Eropa Barat mendominasi peringkat sepuluh besar Indeks Kebahagiaan. Seperti negara Denwark (2), Islandia (3), Swedia (4), Belanda (6), Norwegia (7), Luksemburg (8}, dan Swiss (9).
Indonesia berada pada posisi ke-80 dengan skor 5,57. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya Indonesia telah mengalami peningkatan Indeks Kebahagiaan. Pada tahun 2023 berada pada peringkat 84 (skor 5,28) dan tahun 2022 pada peringkat 87 (skor 5,24)
Dibandingkan dengan beberapa negara tetangganya di ASEAN, Indonesia menduduki peringkat yang rendah. Sebagai contoh Singapura pada tahun 2024 bertengger pada peringkat ke-30 (skor 6,52), Filipina 53 (skor 6 05), Vietnam 54 ,(skor 6,04) Thailand 58 (skor 5,98), dan Malaysia 59 (skor 5,98).
Ternyata selama hampir sepuluh tahun pemerintahan Jokoei belum mampu mensejajarkan kebahagiaan masyarakat Indonesia dengan negara-negara tetangganya. Padahal pada awal pemerintahan Jokowi Indonesia berada di peringkat ke-79 dengan skor 5,019. Atau selama pemerintahannya hanya meningkatkan skor sebesar 0,551. Bisa jadi lambatnya peningkatan ini disebabkan karena yang menilai sudah terjangkit hedonisme, juga karena semakin memburuknya korupsi.
Hedonisme, yaitu hidup untuk mengejar kesenangan duniawi, sudah menjsngkiti sebagian besar penduduk Indonesia. Apalagi para selebriti seringkali mrlakukan pamer kekayaan alias flexing. Hal ini mendorong masyarakat brrlomba-lomba menirunya. Acap kali dilakukan melalui jalan pintas, misalnya melalui korupsi.
Korupsi pada periode kedua pemerintahan Jokowi semakin memburuk. Hal ini dapat dilihat dari Indeks Persrpsi Korupsi (Perception Corruption Index - CPI) yang dikeluarkan oleh Transparency International. CPI Indonesia pada tahun 2019 mencapai skor 40 (nilai tertinggi 100) dan terus menurun mencapai skor 34 pada tahun 2023.
Paradoks Kebahagiaan
Ada hal yang menarik dari Indeks Kebahagiaan ini. Pada tahun 2024, Israel penjajah negara Palestina berada pada peringkat ke lima. Ini merupakan suatu paradoks kebahagiaan. Karena Israel telah menjajah Pslestina selama 76 tahun, atau sejak tshun 1948 sampai saat ini. Penjajahan ini didukung oleh Inggeris dan Amerika Serikat, yang mengaku sebagai pendekar HAM dan demokrasi.
Israel telah melakukan pelanggaran martabat kemanusiaan terhadap bangsa Palestina, yang mencakup penghinaan, degradasi kehidupan, dan dehumanisasi. Bahkan dalam perang Israel dab Hamas selama delapan bulan sejak 7 Oktober 2023 telah membunuh 37 ribuan penduduk Gaza, yang sebagian besar anak-anak dan wanita, 11 ribuan hilang atsu tmati ertimbun di reruntuhan bangunan dan 80 ribuan terluka. Bahkan International Criminal Court telah menetapkan Netanyahu dan petonggi militer Israel sebagai penjsjahat perang. Karena telah melakukan genodida terhadsp bangsa Palestina. Juga tentara pertahanan Israel (IDF) telah dimasukkan ke dalam daftar hitam PBB. Karna telah melakukan kejahatan perang terhadap anak-anak Palestina.
Jadi pencantuman Israel dalam indeks ini merupakan suatu keabsurdan. Karena bagaimana mungkin rakyat suatu negara merasa bahagia di atas penderitaan rakyat yang dijajahnya. Harusnya dalam indeks ini ada suatu peubah, yaitu apabila suatu negara sedang melakukan penjajahan atau invasi kepada suatu negara lain, nilainya langsung paling rendah
Kebahagiaan Semu
Kebahagiaan yang dibangun di atas pondasi kebahagiaan bendawi, tidak menjamin adanya kebahagiaan yang sejati. Kebahagian yang seperti itu hanya merupakan kebahagiaan semu saja. Indeks Kebahagiaan tahun 2024 tersrbut dapat diuji dengan yang sifatnya spiritualitas atau jiwani. Apakah indeks tersebut menunjukkan kebahagiaan yang sejati dari masyarskat suatu negara atau hanya kebahagiaan semu belaka.
Indeks Kebahagiaan tersebut dapat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang melakukan bunuh diri. Hipotesisnya adalah bahwa semakin bahagia masyarskat suatu negara akan semakin rendah angka bunuh dirinya.
Pada negara-negara Eropa Barat yang peringkat Indeks Kehahagiaannya tinggi, justru angka bunuh dirinya juga tinggi. Namun sebaliknya negara dengan peringkat kebahagiaan yang rendah ternyata angka bunuh dirinya rendah
Angka bunuh diri pada tahun 2024 di Finlandia sebesar 153 orang dari satu juta penduduk. Denmark 107 orang, Islandia 109 orang, Swedia 147 orang, Belanda 118 orang, Norwegia 118 orang, Luksemburg 103 orang dan Swiss 145 orang. Bandingkan dengan Afghanistan ysng memiliki tingkat kebahagiaan terendah hanya 41 orang yang melakukan bunuh diri, Yaman yang peringkat kebahagiaannya hanya di posisi 133 dan dalam kondisi perang, angka bunuh dirinya hanya 58 orang. Jumlah angka bunuh diri di Indonesia hsnya 24 orang, atau termasuk ke dalam 13 negara yang terendah angka bunuh dirinya.
Hal menarik terjadi di Korea Selstan dan Jepang, dengan peringkat kebahagiaan Korea Selstan pada posisi ke 52 (skor 6,06) dan Jepang peringkat 51 (skor 6,06) angka bunuh ditinya masing-masing pada 286 orang dan 153 orang
Dari data di atas menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan semakin tinggi skor Indeks Kebahagiaan semakin rendah angka bunuh dirinya, tidak terbukti. Bahkan sebaliknya, semakin tinggi indeks, semakin tinggi jumlah yang bunuh diri. Memamg ada kekecualian terjadi pada negara Lesotho.
Indeks Kebahagiaan Lesotho peringkat ke 141 (skor 3,19) dan jumlah angka bunuh dirinya mencapai 724 orang. Jumlah angka bunuh diri di Lesotho ini yang tertinggi di dunia
Indeks Kebahagiaan setelah diuji dengan satu peubsh yang sifatnya lebih jiwani, yaitu angka bunuh diri, telah gagal menunjukkan sebagai suatu instrumen kebahagiaan sejati. Karena sejatinya kebahagiaan yang dibangun hanya di atas kebahagiaan bendawi hanyalah kebahagiaan semu.
Hal menarik juga terjadi di Israel. Ketika para pejuang Palestina di Gaza melakukan perjuangan untuk kemerdekaan yang dibantu oleh milisi Hisbullah Libanon, Houtsi di Yaman, molisi di Irak dan di Suriah, telah menghancurkan Israel. Baik secara fisik maupun psikis.
Serangan yang bertubi-tubi di Israel bagian utara, tengah dan selatan, telah merusakkan infrastruktur sosial dan ekonomi. Juga telah menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman bagi penjsjsh Israel maupun para investor. Ini juga membuktikan tentang kesemuan Indeks Kebahagiaan ini. Hanya dalam waktu hitungan bulan telah mengubah rasa bahagia, menjadi rasa frustrasi. Akibat perang ini jumlah penduduk, khususnya IDF, telah meningkat dengan pesat. Sekali lagi bahwa kebahagiaan suatu negara di atas penderitaan bangsa dan negara lain adalah kebahagiaan semu. Bahkan merupakan kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. ***
Penulis adalah dosen pascasarjana UI dan IPB, pengamat sosial ekonomi dan politik dari Komunitas Berbagi Ilmu.



