Oleh: Sugeng Budiharsono
POJOKSATU.id - Penyelenggaraan transmigrasi selama hampir 74 tahun sejak kemerdekaan, dengan segala kekurangannya, telah memberikan dampak positif bagi Indonesia.
Dampak positif tersebut berupa tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru, mulai dari desa hingga ibu kota provinsi; pertumbuhan sektor pertanian, perkebunan, serta industri pengolahannya; dan munculnya kelembagaan dari poktan, BUMDES, hingga koperasi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tulisan ini fokus pada keberhasilan transmigrasi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Tulisan ini memotret keberhasilan transmigran dari kawasan transmigrasi (KTrans) Salor, yaitu Tohaman, dan dari KTrans Telang, yaitu Siti Rohayah.
Kedua transmigran ini memang tidak dapat mewakili lebih dari sepuluh juta transmigran lainnya; mereka juga mungkin bukan yang terbaik.
Karena banyak profesor, doktor, atau pengusaha sukses yang berasal dari kalangan transmigran. Namun, keduanya merupakan local champion/local hero yang mengabdikan diri untuk masyarakat setempat.
Sehingga mereka dapat dijadikan teladan bagi transmigran lainnya. Namun sebelum menjelaskan keberhasilan keduanya, akan diuraikan terlebih dahulu tentang kedua KTrans tersebut.
KTrans Salor dan KTrans Telang
KTrans Telang terletak di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Saat ini, KTrans Telang terdiri dari 3 Satuan Kawasan Pengembangan (SKP) dan 29 desa.
Luasnya mencapai 43.413 hektar, dengan jumlah penduduk 78.235 jiwa. Lokasinya terletak di jalan raya Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II - KEK Tanjung Api-api.
Lokasi KTrans dapat dijangkau dalam waktu sekitar 30 menit dari bandara tersebut. Sarana dan prasarana di KTrans Telang dari segi pendidikan sudah ada PAUD hingga SLTA (SMA, SMK, dan MA).
Untuk perguruan tinggi, dapat mengakses UT maupun perguruan tinggi negeri dan swasta di Palembang. Sarana kesehatan yang sudah ada adalah Puskesmas rawat inap.
Selain itu, sarana dan prasarana lainnya berupa rumah pintar, Islamic Center, Rice Milling Plant, pasar kawasan, pusat bisnis, kantor pengelola, dan lain sebagainya. Luas lahan padi mencapai hampir 69 ribu hektar dengan produksi per tahun sebesar 240 ribu ton.
Luas lahan jagung mencapai 11.641 hektar dengan produksi 50.374 ton per tahun. Luas lahan karet adalah 7.133 hektar dengan produksi 2.478 ton; sedangkan untuk luas lahan kelapa dalam tidak ada data.
KTrans Salor terletak di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. KTrans Salor terdiri dari 5 SKP dan 40 kampung. Luas KTrans Salor mencapai 75.819,90 hektar dengan jumlah penduduk 47.517 jiwa.
KTrans dapat dicapai dari pusat kota dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit hingga 2 jam. Kawasan Perkotaan Baru (KPB), yang merupakan pusat KTrans, saat ini ditetapkan sebagai kantor gubernur Provinsi Papua Selatan.
Sehingga kantor pengelola yang ada dimanfaatkan untuk kepentingan Provinsi Papua Selatan. KTrans Salor merupakan lumbung pangan Kabupaten Merauke, bahkan Provinsi Papua Selatan.
Luas lahan padi mencapai 25.262 hektar dengan produksi per tahun sebesar 196.185 ton Gabah Kering Giling (GKG). Sedangkan luas lahan jagung hanya 146 hektar dengan produksi 465 ton per tahun. Di dalam maupun luar kawasan sudah terdapat RMU maupun RMP.
Siti Rohayah
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi memberikan bantuan sebesar 50 juta rupiah. Hanya dalam waktu 4 tahun saja, yaitu pada tahun 2013, omsetnya sudah mencapai 1 (satu) milyar rupiah.
Koperasi BMT memiliki bidang usaha utama toko, usaha pendukung menjahit, dan budidaya jamur, serta usaha tambahan simpan pinjam.
Saat ini, omset koperasi BMT mencapai sekitar 6-7 milyar rupiah per tahun. Atas segala upayanya memajukan koperasi tersebut, Rohayah pernah diberi penghargaan baik di aras provinsi maupun nasional.
Di tingkat nasional, dalam ajang Kartini Award pada tahun 2015, ia mendapatkan penghargaan terbaik dalam bidang ekonomi.
Sedangkan pada tahun 2016, ia dinobatkan sebagai pengelola KUBE terbaik ke-3 dari Kemensos. Di tingkat provinsi Sumatera Selatan, Rohayah diakui sebagai Wanita Inspiratif 2018 dan sebagai Pelayanan Masyarakat Terbaik 2022.
Keluarga Rohayah, walaupun generasi kedua, sudah memiliki rumah dengan luas lahan pekarangan 2.500 meter persegi. Mereka juga memiliki lahan pertanian seluas 3 (tiga) hektar.
Selain itu, mereka telah memiliki kendaraan roda dua dan roda empat. Sehingga keluarga Rohayah merupakan keluarga yang berkeyakinan damai dan sejahtera.
Rohayah terakhir menyatakan bahwa ia perlu bantuan dari Pemda Banyuasin untuk pemasaran hasil bumi dari kawasan transmigrasi Telang, khususnya beras.
Tohaman
Keluarga orang tua Tohaman berasal dari Tulung Agung dan pindah ke KTrans Salor pada tahun 1984 karena kesulitan ekonomi.
Generasi kedua bersama lima saudaranya telah merasakan manisnya buah transmigrasi. Sekarang, sebagai keluarga pecahan, mereka sudah memiliki lahan yang cukup luas.
Tohaman sendiri memiliki lahan seluas 3 (tiga) hektar. Pria yang berpendidikan lulusan SMA ini pernah menjadi kepala kampung Salor Indah selama dua periode, yaitu dari tahun 2009 sampai dengan 2021.
Sebagai penasehat asosiasi kampung di Distrik Kurik, mantan kepala kampung dan tokoh masyarakat, dia paham betul kondisi masyarakat transmigrasi di Kampung Salor Indah dan KTrans Salor.
Menurutnya, masyarakat transmigrasi di Kampung Salor Indah dan kawasan transmigrasi Salor pada umumnya telah sejahtera. Hal ini ditandai dengan hampir setiap rumah memiliki kendaraan roda empat.
Di kampung Salor Indah, hampir ada 21 mobil truk. Kesejahteraan masyarakat transmigrasi yang baik ini didukung oleh hasil padi yang cukup baik.
Padi merupakan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi Salor. Produksi padi mencapai 6 ton Gabah Kering Giling (GKG)/hektar/tahun dengan rendemen sekitar 60%.
Harga besar sebesar Rp 10.000/kg, artinya setiap tahun masyarakat transmigrasi di kawasan transmigrasi Salor menerima 36 juta/Rp/hektar/tahun.
Dengan biaya produksi untuk musim hujan (rendang) sebesar Rp 5 juta/hektar dan musim kemarau (gadu) sebesar Rp 7 juta/hektar, atau biaya totalnya Rp 12 juta/hektar/tahun. Sehingga penerimaan bersihnya Rp 24 juta/hektar/tahun.
Kalau hanya memiliki 2 (dua) hektar tentu tidak akan punya kendaraan roda 4, hand tractor, dan combine harvester.
Ternyata menurut Tohaman bahwa para petani membeli lahan lagi atau menggarap lahan masyarakat lokal/tanah adat. Satu petani bahkan ada yang menggarap 30 hektar. Jadi dapat dihitung berapa keuntungannya.
Ada hal yang menarik dari sosok Tohaman pada saat menjabat kepala kampung (kadis). Pertama, Tohaman membuat Taman Seribu Musamus, sebuah tempat wisata.
Tohaman menyerahkan pengelolaan tempat wisata tersebut kepada BUMK (Badan Usaha Milik Kampung).
Selama di bawah kepemimpinannya, pengelolaan tempat wisata tersebut menghasilkan pemasukan bagi BUMK.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana memperlakukan penduduk yang bukan suku Jawa untuk berusaha.
Tohaman menyatakan bahwa tidak semua rakyatnya mau melakukan usaha tani padi. Maka Tohaman menanyakan kepada suku lainnya, yang bukan suku Jawa.
Suku Mappi diberi jala dan mesin ketingging, tapi tidak dengan perahunya karena suku Mappi pandai membuat perahu dan mata pencaharian sebagai nelayan di rawa-rawa.
Sedangkan suku Marind dan Kei diberi sepasang babi karena mereka bermata pencaharian sebagai peternak babi.
Suku Mandobo dari Boven Digul diminta memilih salah satu dari permintaan mereka, yaitu sebagai pekebun atau petani. Dan dengan perlakuan khusus seperti ini ternyata berhasil.
Para pejabat transmigrasi dari pusat sampai daerah harus bisa belajar dari Tohaman apa yang mau dilakukan transmigrasi lokal di Papua.
Tohaman menceritakan lebih lanjut bahwa karena jumlah transmigran yang ada di KTrans Salor berkembang demikian juga yang ada di KTrans Muting. Maka pada beberapa periode lalu, wakil bupatinya berasal dari KTrans Salor.
Terakhir, Tohaman menyatakan bahwa transmigran di daerahnya tidak perlu dibantu dalam bentuk uang tunai agar bisa lebih maju tapi perlu: (1) pendidikan dan pelatihan, khususnya bagi kaum muda; (2) pendamping pertanian yang handal dari mulai produksi, pengolahan sampai pemasaran; dan (3) penyediaan benih unggul dan irigasi. Diharapkan dengan adanya bantuan tersebut akan lebih maju lagi.
Kisah sukses Tohaman dan Siti Rohayah hanyalah segelintir keberhasilan jutaan transmigran lainnya.
Walaupun tidak dapat dinafikan banyak transmigran yang gagal alias pulang ke daerah asal karena kondisi lahan pertanian dan lingkungannya, sarana dan prasarana kawasan transmigrasi, serta kurangnya motivasi dan daya juang dari transmigran itu sendiri.



