JEMBER, POJOKSATU.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember terus berinovasi dalam menggenjot Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya pada indikator rata-rata lama sekolah.
Untuk mengatasi persoalan warga yang putus sekolah, Pemkab Jember menyiapkan langkah terobosan baru yang siap dilaksanakan.
Pemkab Jember bakal mengintegrasikan program pendidikan kesetaraan Kejar Paket A, B, dan C dengan memanfaatkan jaringan kelompok keagamaan serta pengajian lintas agama di seluruh wilayah Jember.
Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait) menyampaikan bahwa pendekatan kultural berbasis komunitas keagamaan dinilai jauh lebih efektif untuk merangkul warga yang belum menyelesaikan pendidikan tingkat SD, SMP, hingga SMA.
"Untuk meningkatkan IPM yang indikator utamanya adalah lama sekolah, Pemkab Jember membuat kebijakan out of the box. Masyarakat yang putus sekolah SD, SMP, maupun SMA akan kita ikutkan program Kejar Paket yang dikolaborasikan dengan kelompok-kelompok pengajian dari semua agama," ujar Gus Fawait.
Menurutnya, banyak warga di Jember yang aktif menghadiri kegiatan keagamaan atau pengajian rutin, namun secara administratif belum memegang ijazah formal.
Melalui skema kolaborasi ini, pendataan dan pelaksanaan ujian kesetaraan akan mendatangi langsung kantong-kantong kelompok masyarakat tersebut.
Gus Fawait menjelaskan, peningkatan rata-rata lama sekolah bukan sekadar mengejar angka statistik IPM, melainkan upaya memberikan kepastian kualifikasi pendidikan bagi warga agar memiliki daya saing dan peluang kerja yang lebih baik.
"Pendataan dan pendampingan lewat wadah keagamaan ini bisa berjalan lebih masif. Warga yang sebelumnya enggan kembali bersekolah akan merasa lebih nyaman karena prosesnya menyatu dengan aktivitas keagamaan mereka sehari-hari," jelasnya.
Pemkab Jember optimistis, sinergi antara program pendidikan formal kesetaraan dan tokoh keagamaan lintas agama ini mampu menekan angka putus sekolah secara signifikan, sekaligus mendongkrak capaian IPM Kabupaten Jember secara berkelanjutan.








