POJOKSATU.id, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan pemanasan global dapat mencapai 2,8 derajat Celsius hingga penghujung abad ini jika negara-negara tetap mempertahankan kebijakan iklim seperti sekarang tanpa upaya tambahan yang berarti.

Temuan tersebut disampaikan melalui laporan Emissions Gap Report 2026: The Point of Return.

Dalam laporan itu, PBB menyoroti perlunya percepatan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan cakupan yang jauh lebih besar agar peningkatan suhu global tidak semakin tinggi.

Bahkan, jika semua negara menjalankan janji pengurangan emisi yang tercantum dalam Nationally Determined Contribution (NDC) dan meneruskan langkah-langkah tersebut, kenaikan suhu Bumi masih diproyeksikan mencapai 2,6 derajat Celsius pada abad ini.

Adapun perkiraan dalam kondisi paling menguntungkan menunjukkan bahwa suhu global tetap berpotensi naik hingga 2,1 derajat Celsius.

Angka tersebut berlaku apabila seluruh komitmen NDC beserta target tambahan untuk mencapai emisi nol bersih atau net zero emission dapat diwujudkan.

Dibandingkan dengan laporan tahunan sebelumnya, perkiraan terbaru tersebut menunjukkan prospek yang lebih mengkhawatirkan.

PBB menyebut sejumlah faktor yang memengaruhi perubahan proyeksi, termasuk keputusan Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris dan pembaruan perhitungan terhadap emisi pada masa lalu.

Sementara itu, berbagai komitmen iklim baru yang diajukan sejak laporan terdahulu belum memberikan perubahan berarti terhadap perkiraan kenaikan suhu Bumi.

Pemanasan Global Berisiko Melampaui Ambang 1,5 Derajat Celsius

Untuk menjaga peluang membatasi kenaikan suhu global, PBB meminta negara-negara segera meningkatkan upaya pengurangan emisi.

Langkah tersebut diperlukan agar suhu Bumi dapat kembali ke batas 1,5 derajat Celsius atau lebih rendah menjelang akhir abad ini.

Dalam skenario yang membatasi kenaikan suhu di atas ambang tersebut, pemanasan global diperkirakan mencapai titik tertinggi pada kisaran 1,7 hingga 1,8 derajat Celsius sekitar pertengahan abad.

Sesudah melewati periode puncak, suhu global harus kembali turun hingga mencapai 1,5 derajat Celsius atau kurang pada 2100.

Laporan PBB menyatakan bahwa jalur pemulihan tersebut memiliki kemungkinan keberhasilan sekitar 50 persen.

Untuk mendukung pencapaian target itu, emisi gas rumah kaca dunia harus berkurang 18 persen pada 2030, kemudian 45 persen pada 2035, dan mencapai penurunan 69 persen pada 2040.

Seluruh angka tersebut dihitung berdasarkan tingkat emisi pada 2025.

Kendati demikian, apabila semua komitmen NDC saat ini diterapkan sepenuhnya, penurunan emisi diperkirakan baru mencapai 5-8 persen pada 2030 dan 11-15 persen pada 2035 dibandingkan dengan tingkat emisi pada 2025.

Direktur Eksekutif PBB Inger Andersen menekankan bahwa kenaikan suhu sekecil apa pun di atas ambang 1,5 derajat Celsius, terlebih jika berlangsung lebih lama, dapat memperbesar ancaman perubahan iklim.

"Setiap tambahan sepersekian derajat dan tambahan tahun pemanasan di atas 1,5 derajat Celcius meningkatkan dampak dan risiko iklim seperti banjir yang mematikan, gelombang panas, dan kebakaran hutan yang melanda banyak negara tahun ini," kata Inger Andersen.

PBB turut mengingatkan bahwa target membatasi puncak pemanasan global pada kisaran 1,7-1,8 derajat Celsius akan semakin sulit direalisasikan jika pengurangan emisi tidak segera dipercepat.

Dalam laporan tersebut, PBB juga memperkirakan bahwa mempertahankan emisi karbon dioksida (CO2) pada tingkat saat ini selama lima tahun dapat meningkatkan suhu pada puncak pemanasan global sekitar 0,1 derajat Celsius.

PBB Nilai Peluang Menekan Pemanasan Global Masih Terbuka

Di tengah meningkatnya risiko iklim, PBB menilai kemungkinan untuk mengembalikan suhu global ke batas 1,5 derajat Celsius atau lebih rendah belum sepenuhnya tertutup.

Pandangan tersebut didukung oleh bukti bahwa kebijakan iklim yang diterapkan sejumlah negara telah membantu menekan emisi.

Laporan itu mencatat adanya puluhan perubahan struktural di negara maju maupun berkembang yang berkaitan dengan penerapan atau penguatan kebijakan iklim dan menghasilkan pengurangan emisi secara signifikan.

Bukti lain berasal dari lebih dari 220 evaluasi kebijakan yang digunakan untuk mengukur efektivitas berbagai upaya pengendalian emisi.

Salah satu temuan menunjukkan bahwa kebijakan di bidang ketenagalistrikan mampu menghasilkan penurunan emisi rata-rata sebesar 9 persen.

PBB menilai langkah-langkah yang telah terbukti memberikan hasil perlu diperluas ke lebih banyak wilayah dan dipertahankan dalam jangka panjang.

Dengan begitu, pengurangan emisi diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dan memberikan dampak yang lebih luas.

Penguatan sasaran iklim untuk 2035 dan 2040 juga menjadi perhatian penting.

Target yang lebih jelas dan terukur diperlukan agar komitmen setiap negara dapat diwujudkan melalui kebijakan serta tindakan nyata.

Oleh karena itu, PBB mendorong penerapan strategi pengurangan emisi yang lebih ambisius, cepat, dan konsisten.

Keseriusan negara-negara dalam menjalankan langkah tersebut akan berperan penting dalam mengurangi ancaman perubahan iklim sekaligus mempertahankan peluang untuk membatasi pemanasan global.***