POJOKSATU.id — Puncak Jaya di Pegunungan Jayawijaya, Papua, dikenal sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki gletser atau lapisan es yang kerap disebut sebagai salju abadi.

Namun, keberadaan es di kawasan tersebut terus mengalami penyusutan dari waktu ke waktu.

Kondisi ini menjadi perhatian karena lapisan es Puncak Jaya semakin tipis dan luas wilayah yang tertutup es juga terus berkurang.

Baca Juga: Tren Open Space Mulai Berubah? Ini Alasan Sekat Ruangan Kembali Dibutuhkan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut perubahan iklim sebagai penyebab utama mencairnya es di Pegunungan Jayawijaya.

Fenomena El Nino juga dapat mempercepat proses pencairan, terutama ketika kondisi suhu menjadi lebih hangat.

Pemanasan global membuat suhu bumi mengalami peningkatan dalam jangka panjang.

Baca Juga: HUT RI ke-81, DPRD Jabar Soroti PR Besar: 1,8 Juta Pengangguran hingga 80 Ribu Rumah Belum Berlistrik

Dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah perkotaan atau dataran rendah, tetapi juga sampai ke kawasan pegunungan tinggi seperti Puncak Jaya.

Kenaikan suhu membuat es kehilangan massa lebih cepat.

Pada saat yang sama, pembentukan kembali es tidak mampu mengimbangi jumlah es yang mencair.

Baca Juga: Kenapa Kelelawar Sering Masuk Rumah? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

BMKG mencatat ketebalan es di Puncak Jaya pernah mencapai sekitar 32 meter pada 2010.

Namun, ketebalannya terus berkurang seiring berjalannya waktu.

Selain perubahan iklim dalam jangka panjang, fenomena iklim seperti El Nino juga dapat mempercepat penyusutan gletser.

Ketika El Nino berlangsung kuat, kondisi di Indonesia dapat menjadi lebih hangat dan kering.

Situasi tersebut membuat pencairan es di Puncak Jaya berlangsung lebih cepat.

Baca Juga: Jolla Phone Resmi Diperkenalkan, HP Linux dengan Tombol Privasi dan Baterai 5.500 mAh

BMKG mencatat pada periode El Nino kuat 2015-2016, laju penurunan ketebalan es di Puncak Jaya mencapai sekitar lima meter per tahun.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan laju pencairan pada periode sebelumnya.

Data pemantauan BMKG menunjukkan perubahan yang cukup drastis.

Pada 2010, ketebalan es masih sekitar 32 meter. Kemudian pada November 2015 hingga Mei 2016, ketebalannya tercatat sekitar 5,6 meter.

Baca Juga: Alun-alun Kota Bandung Dibuka Lagi, Farhan Tegaskan PKL Dilarang Masuk Taman

Dalam pemantauan berikutnya, ketebalan es kembali menyusut.

Pada 2024, BMKG menyebut ketebalan es yang tersisa di Puncak Sudirman hanya sekitar empat meter.

Penyusutan juga terlihat dari luas permukaan yang tertutup es. Pada 2022, luas tutupan es tercatat sekitar 0,23 kilometer persegi.

Angka tersebut kemudian menyusut menjadi sekitar 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi pada 2024.

Baca Juga: Anggaran Berkurang Rp1 Triliun, Dadang Supriatna Puji Gotong Royong Warga Kabupaten Bandung

Istilah salju abadi digunakan karena lapisan es di kawasan Puncak Jaya selama ini dapat bertahan sepanjang tahun meskipun Indonesia berada di wilayah tropis.

Keberadaan es tersebut dimungkinkan oleh kondisi lingkungan di ketinggian ekstrem.

Akan tetapi, perubahan iklim membuat kondisi yang mendukung keberlangsungan gletser tersebut semakin berubah.

Karena itu, keberadaan salju abadi Puncak Jaya kini tidak lagi dapat dianggap akan bertahan selamanya.

BMKG bahkan memperkirakan lapisan es tersebut dapat mengalami kepunahan dalam beberapa tahun mendatang apabila tren penyusutan terus berlangsung.

Baca Juga: Dividen BUMN Melonjak Jadi Rp142,3 Triliun, Prabowo Targetkan Rp200 Triliun pada 2026

Mencairnya gletser Puncak Jaya menjadi salah satu gambaran nyata dampak perubahan iklim di Indonesia.

Hilangnya lapisan es tidak hanya berarti berkurangnya salah satu keunikan alam Indonesia, tetapi juga menjadi indikator perubahan kondisi iklim di kawasan tropis.

BMKG terus melakukan pemantauan terhadap kondisi gletser di Pegunungan Jayawijaya untuk mendokumentasikan perubahan luas dan ketebalannya.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pengendalian pemanasan global dan pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan iklim.***