POJOKSATU.id — Indonesia saat ini sedang memasuki musim kemarau. Namun, di tengah periode yang identik dengan cuaca kering tersebut, sejumlah daerah justru dilanda banjir.

Fenomena ini menjadi anomali karena banjir umumnya lebih sering terjadi pada musim hujan.

Sejumlah wilayah yang terdampak banjir antara lain Kabupaten Tapanuli Tengah di Sumatera Utara, Kabupaten Agam di Sumatera Barat, dan Kabupaten Sinjai di Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Apa Itu Performative Male? Memahami Fenomena Laki-Laki yang Tampil untuk Mendapat Validasi

Bencana tersebut menyebabkan permukiman warga terendam, sementara sebagian masyarakat terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, menyebut banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Agam merupakan salah satu anomali pada musim kemarau.

"Terdapat anomali kejadian yaitu banjir bandang di Kabupaten Agam," ujarnya.

Lantas, mengapa banjir masih bisa terjadi saat musim kemarau?

Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Pisang dan Ide Olahan Lezat Sesuai Karakter Rasanya

Banjir pada musim kemarau memang terdengar tidak lazim, tetapi fenomena ini bukan hal yang mustahil.

Penyebabnya tidak hanya dipengaruhi oleh pergantian musim, melainkan juga oleh kondisi cuaca, lingkungan, hingga infrastruktur di suatu wilayah.

Salah satu penyebab utamanya adalah hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat.

Musim kemarau bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya.

Di Indonesia, hujan masih dapat turun akibat pengaruh fenomena atmosfer, cuaca lokal, maupun gangguan cuaca lainnya.

Ketika hujan deras mengguyur dalam waktu singkat, volume air dapat melampaui kapasitas sungai dan saluran drainase sehingga memicu banjir.

Selain itu, perubahan iklim juga berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

Baca Juga: Pisang Ambon Ternyata Kaya Manfaat, Ini Kandungan Nutrisi dan Khasiatnya bagi Tubuh

Pemanasan global membuat pola musim menjadi semakin sulit diprediksi.

Akibatnya, hujan lebat dapat terjadi di luar musim hujan sehingga meningkatkan potensi banjir meski secara kalender sedang memasuki musim kemarau.

Faktor lain yang turut memperparah kondisi adalah sistem drainase yang tidak memadai.

Saluran air yang tersumbat sampah, mengalami sedimentasi, atau memiliki kapasitas yang terbatas akan menghambat aliran air hujan.

Kondisi tersebut menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman maupun jalan.

Baca Juga: Stand Up Indo Kota Bogor Gelar Comedy Tour Touchdown, Sukses Meriahkan Ballroom Klub Bogor Raya

Berkurangnya daerah resapan air juga menjadi penyebab penting.

Alih fungsi lahan dari kawasan hijau menjadi permukiman, kawasan industri, maupun jalan membuat air hujan sulit meresap ke dalam tanah.

Akibatnya, sebagian besar air mengalir di permukaan dan meningkatkan risiko banjir.

Baca Juga: UGM dan University of Melbourne Ingatkan AI Bukan Sekadar Teknologi, Etika dan Kepentingan Jadi Sorotan

Di sisi lain, pendangkalan dan penyempitan sungai akibat sedimentasi, tumpukan sampah, maupun pembangunan di sekitar bantaran sungai mengurangi daya tampung aliran air.

Saat debit air meningkat secara tiba-tiba, sungai menjadi lebih mudah meluap ke wilayah sekitarnya.

Untuk wilayah pesisir, banjir juga dapat dipicu oleh pasang air laut atau banjir rob.

Jika pasang laut terjadi bersamaan dengan hujan deras, genangan yang muncul dapat menjadi lebih parah meski sedang berlangsung musim kemarau.

Baca Juga: Daftar Karakter Film The Odyssey Lengkap, Kenali Tokoh Utama hingga Para Dewa Yunani

Kondisi geografis suatu daerah juga memengaruhi tingkat kerawanan banjir.

Wilayah yang berada di dataran rendah atau cekungan lebih mudah tergenang karena menjadi tempat berkumpulnya aliran air dari daerah yang lebih tinggi.

Dengan demikian, banjir pada musim kemarau dapat terjadi akibat kombinasi berbagai faktor.

Mulai dari hujan ekstrem di luar musim, perubahan iklim, buruknya sistem drainase, berkurangnya daerah resapan, pendangkalan sungai, pengaruh pasang air laut, hingga kondisi geografis suatu wilayah.

Oleh karena itu, musim kemarau tidak selalu berarti suatu daerah terbebas dari ancaman banjir.***