POJOKSATU.id - Pada 21 Juni 1970, Indonesia kehilangan salah satu tokoh terbesarnya. Soekarno, sang Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia, mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada usia 69 tahun.
Kabar itu bukan sekadar berita tentang wafatnya seorang mantan presiden.
Bagi bangsa yang pernah menyaksikannya berdiri membacakan Proklamasi pada 17 Agustus 1945, kematian Soekarno seperti penutup sebuah bab panjang dalam sejarah Indonesia. Tetapi ada ironi di balik hari terakhirnya.
Baca Juga: Peneliti UNG Sulap Limbah Rambut Jagung dan Daun Pepaya Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
Ketika Soekarno meninggal, Indonesia tidak lagi berada di bawah kepemimpinannya. Kekuasaan telah berpindah kepada Soeharto dan pemerintahan Orde Baru sedang membangun fondasi kekuasaannya.
Sang pemimpin revolusi itu pergi ketika zaman yang pernah dibangunnya perlahan telah berganti.
Penyakit yang Mengiringi Tahun-Tahun Terakhir
Kesehatan Soekarno sebenarnya telah lama memburuk. Ia diketahui mengalami gangguan ginjal dan beberapa kali menjalani perawatan di Wina, Austria.
Memasuki pertengahan 1960-an, kondisinya semakin menurun. Setelah kehilangan kekuasaan, kehidupannya pun berubah drastis.
Sosok yang selama bertahun-tahun berada di tengah rakyat kini semakin terasing dari panggung politik.
Ia tidak lagi berdiri di hadapan lautan massa, tidak lagi menentukan arah negara, dan tidak lagi memiliki kekuasaan seperti sebelumnya.
Dalam pandangan ahli forensik Abdul Mun'im Idries, kondisi fisik dan tekanan psikologis tidak dapat dipisahkan ketika membicarakan tahun-tahun terakhir Soekarno.
Baca Juga: 11 Sekjen Parpol Merapat ke Rumah Menlu Sugiono, Pengamat Intelijen Kaitkan Stabilitas Politik
Riwayat penyakit yang berat bertemu dengan perubahan kehidupan yang sangat drastis setelah ia kehilangan kekuasaan.
Dari Istana ke Kesunyian
Setelah pergolakan politik 1965, kekuasaan Soekarno semakin menyusut. Soeharto kemudian menjadi Pejabat Presiden pada 1967 dan Presiden pada 1968.
Sementara itu, Soekarno menjalani kehidupan dalam pengawasan ketat. Ia pernah berada di Istana Bogor sebelum kemudian dipindahkan ke Wisma Yaso, Jakarta.
Bagi seorang tokoh yang hidupnya selama puluhan tahun dihabiskan untuk memimpin pergerakan dan berbicara di hadapan rakyat, keadaan itu tentu merupakan perubahan yang menyakitkan.
Baca Juga: Beberapa Kerabat Saepul Pelaku Mutilasi Pancoran Mas Depok Ternyata Terjangkit HIV AIDS
Dunia Soekarno yang dahulu penuh sorak dan pidato berubah menjadi ruang yang jauh lebih sunyi.
Di tengah sakit yang terus memburuk, ia harus menyaksikan Indonesia bergerak menuju arah politik yang berbeda dari cita-cita dan perjuangan yang selama ini ia yakini.
Indonesia yang Mulai Berganti Wajah
Ketika Soekarno mendekati akhir hidupnya, Indonesia juga sedang memasuki babak baru.
Pemerintahan Soeharto berusaha membawa negara keluar dari krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik.
Inflasi yang pada 1965 mencapai sekitar 594 persen bahkan melonjak lebih dari 1.000 persen pada 1966 mulai ditekan melalui kebijakan stabilisasi.
Baca Juga: Simpan Dana Bunga Cair di Muka, Bank Bandung Luncurkan 'Deposito Cuan di Depan' Hingga 6 Persen
Repelita I juga telah dimulai pada 1 April 1969. Pembangunan ekonomi, pertanian, pangan, infrastruktur dan peningkatan taraf hidup menjadi wajah baru pemerintahan.
Indonesia perlahan meninggalkan masa revolusi dan memasuki masa pembangunan.
Namun, perubahan itu memiliki harga sejarahnya sendiri. Bersamaan dengan stabilitas yang dibangun, era Soekarno pun semakin jauh.
Baca Juga: Dear Cinta
Ketika Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970, Indonesia seolah sedang berdiri di antara dua dunia: masa lalu yang penuh revolusi dan masa depan yang menjanjikan pembangunan.
Misteri yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang
Kondisi kesehatan Soekarno yang memburuk selama bertahun-tahun menjadi dasar bagi penjelasan medis mengenai kematiannya.
Abdul Mun'im Idries, misalnya, melihat komplikasi penyakit, termasuk gangguan ginjal dan jantung, sebagai bagian penting dari kondisi Soekarno.
Namun, kematian Soekarno kemudian melahirkan berbagai pertanyaan.
Baca Juga: Kado Kemerdekaan: Tarif Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Hanya Rp8 pada 17 Agustus 2026
Ada yang mempertanyakan perawatannya. Ada pula yang mengaitkan kondisi fisiknya dengan tekanan psikologis setelah kehilangan kekuasaan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai dugaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada hari-hari terakhir sang Proklamator.
Tetapi sejarah perlu membedakan antara catatan medis, kesaksian, dan dugaan yang muncul bertahun-tahun kemudian.
Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan secara pasti bahwa Soekarno dibunuh hanya berdasarkan kontroversi tersebut.
Baca Juga: Buat Kaget, Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Simalungun, Terasa Hingga Kota Medan
Yang lebih jelas justru kisah panjang sebelum kematiannya: seorang pemimpin yang pernah berada di puncak kekuasaan, kemudian jatuh, sakit, terasing, dan akhirnya meninggal ketika negara yang pernah dipimpinnya sedang memasuki masa orde baru.
Namun, sejarah memiliki caranya sendiri untuk mengingat.
Kekuasaan dapat berpindah, pemerintahan dapat berganti, dan sebuah zaman dapat berakhir.
Tetapi nama Soekarno tetap tinggal dalam ingatan bangsa sebagai salah satu orang yang berdiri di hadapan dunia pada 17 Agustus 1945 dan mengucapkan kata-kata yang mengubah nasib Indonesia. Ia pergi selamanya, tetapi jejaknya tidak ikut dimakamkan. ***

