POJOKSATU.id - Masjid Jami Hasanuddin Kutai merupakan salah satu masjid bersejarah yang berada di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi masyarakat setempat, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan perkembangan Islam di wilayah Kutai.

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1897 oleh masyarakat Kutai secara gotong royong.

Baca Juga: BREAKING! THR ASN 2026 Mulai Dicairkan Bertahap, Rp3,1 Triliun Sudah Masuk ke 631 Ribu Pegawai

Pada awalnya, masjid berdiri di kawasan Tanjung Tangga Arung. Namun lokasi tersebut sering dilanda banjir sehingga masyarakat memutuskan untuk memindahkan bangunan masjid ke tempat yang lebih aman.

Lokasi baru masjid dipilih sekitar 300 meter dari kawasan Kerajaan Kutai. Proses pembangunan kembali dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat dan selesai dalam waktu sekitar dua tahun.

Sejak saat itu, Masjid Jami Hasanuddin menjadi salah satu bangunan penting di Tenggarong yang dikenal sebagai Kota Raja, karena dahulu merupakan ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara.

Baca Juga: Kenapa Umat Islam Dianjurkan Membayar Zakat Fitrah Sebelum Idul Fitri? Ini Penjelasannya

Nama masjid ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Hasanuddin yang memiliki peran besar dalam perkembangan Islam di wilayah Kutai.

Selain dikenal sebagai Masjid Jami Hasanuddin, masyarakat juga menyebutnya sebagai Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin atau Masjid Sultan.

Penamaan tersebut mencerminkan penghargaan masyarakat terhadap tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di daerah tersebut.

Baca Juga: Sejarah ISBI Bandung: Dari Konservatori Tari hingga Menjadi Institut Seni Budaya Indonesia

Sebagai pengingat sejarah, potret tokoh yang berperan dalam pembangunan masjid juga dipajang di salah satu bagian bangunan.

Dari sisi arsitektur, Masjid Jami Hasanuddin memiliki desain yang sangat khas dan mencerminkan kearifan lokal masyarakat Kalimantan.

Bangunan masjid menggunakan kayu ulin sebagai bahan utama, yang dikenal sangat kuat dan tahan lama. Kayu ulin bahkan sering disebut sebagai kayu besi karena ketahanannya terhadap cuaca dan usia.

Baca Juga: Antisipasi Kenaikan Harga Minyak Imbas Perang Iran, Dana MBG Dipangkas, BBM Subsidi Bakal Dinaikkan

Atap masjid berbentuk tumpang tiga dan menggunakan sirap dari kayu ulin. Bentuk ini mencerminkan perpaduan antara arsitektur masjid tradisional Nusantara dengan gaya rumah adat Kalimantan.

Letak masjid juga sangat strategis karena berada di kawasan pusat sejarah Tenggarong.

Bangunan ini berdiri tidak jauh dari kompleks Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara serta Museum Mulawarman.

Baca Juga: Sejarah ISBI Bandung: Dari Konservatori Tari hingga Menjadi Institut Seni Budaya Indonesia

Keberadaan masjid di tengah kawasan bersejarah tersebut menjadikannya salah satu simbol penting dalam perjalanan budaya dan agama di wilayah Kutai.

Masjid Jami Hasanuddin juga menjadi saksi perkembangan Islam di Kalimantan Timur.

Berdasarkan catatan sejarah, Islam mulai masuk ke wilayah ini sekitar abad ke-15.

Baca Juga: THR PNS 2026 Cair 100 Persen! Ini Daftar Gaji Lengkap Golongan I–IV dan Skema Tukin Terbaru

Pada tahap awal, ajaran Islam lebih dahulu dianut oleh kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan sebelum kemudian menyebar ke masyarakat luas.

Seiring waktu, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus tempat pembinaan umat Islam di Kutai.

Berbagai aktivitas dakwah dan pendidikan agama berlangsung di masjid ini dan berperan penting dalam memperkuat kehidupan religius masyarakat setempat.

Baca Juga: Terbaru 2026! Ini Rincian Potongan Gaji PPPK, BPJS, IWP hingga JHT 3,25 Persen yang Mulai Berlaku

Saat ini, setelah berdirinya Masjid Agung Tenggarong yang memiliki kapasitas lebih besar, Masjid Jami Hasanuddin lebih sering digunakan untuk pelaksanaan Salat lima waktu.

Meski demikian, fungsi sosial dan pendidikan masjid tetap berjalan.

Pada sore hari, masjid ini juga dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan Taman Kanak-Kanak Al-Qur'an (TKA) yang memberikan pendidikan dasar keagamaan bagi anak-anak di sekitar Tenggarong.

Baca Juga: Zulhas Buka Peringatan Serius, Dalam 15 Tahun Mendatang Dunia Berpotensi Perang karena Sumber Makanan

Meski beberapa bagian bangunan telah menunjukkan tanda-tanda usia, Masjid Jami Hasanuddin tetap dirawat dan dijaga oleh masyarakat.

Bangunan tua ini masih memberikan suasana sejuk dan nyaman, terutama dengan struktur atap tinggi yang menjadi ciri khas masjid pada masa pembangunannya.

Keberadaan Masjid Jami Hasanuddin Kutai hingga kini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol sejarah, budaya, dan perkembangan Islam di Kalimantan Timur yang terus dijaga oleh masyarakat Tenggarong dari generasi ke generasi.

Baca Juga: TPG Maret 2026 Jadi Harapan Guru Sertifikasi Menjelang Lebaran, Ini Alur Data Dapodik, Validasi Info GTK, hingga Dana Cair

Masjid Jami Hasanuddin Kutai menjadi bukti bahwa sebuah bangunan ibadah dapat menyimpan sejarah panjang peradaban masyarakat.

Dari masa Kesultanan Kutai hingga era modern, masjid ini tetap berdiri sebagai pengingat perjalanan spiritual dan budaya yang membentuk identitas masyarakat Kutai hingga hari ini.***