POJOKSATU.id — Nama Lady Jane Grey mungkin tidak setenar ratu-ratu besar dalam sejarah Inggris.
Namun, kisah hidupnya menjadi salah satu tragedi paling memilukan di lingkungan kerajaan.
Di usia yang masih sangat muda, ia sempat menduduki takhta sebagai Ratu Inggris selama sembilan hari sebelum akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Baca Juga: Apa Itu Hikikomori? Fenomena Orang Mengurung Diri di Jepang yang Makin Disorot
Lady Jane Grey lahir sekitar tahun 1537 dan berasal dari keluarga bangsawan yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan Inggris.
Ia dikenal sebagai perempuan cerdas, berpendidikan tinggi, serta menguasai beberapa bahasa, termasuk Latin dan Yunani.
Kehidupan Jane berubah drastis ketika Raja Inggris muda, Edward VI, jatuh sakit pada 1553.
Baca Juga: TMMD 128 Kodim Cilegon Gandeng BNN Edukasi Bahaya Narkoba ke Pelajar SMPN 6 Cilegon
Edward VI merupakan putra Raja Henry VIII dan saat itu belum memiliki keturunan.
Menjelang wafat, Edward VI khawatir takhta akan jatuh ke tangan saudara tirinya, Mary I of England, yang beragama Katolik.
Demi menjaga arah pemerintahan Protestan, sejumlah tokoh politik kerajaan mendorong agar Lady Jane Grey diangkat menjadi pewaris takhta.
Jane sebenarnya disebut tidak terlalu menginginkan posisi tersebut.
Baca Juga: AI Makin Menggeser Pekerjaan Manusia, Skill Apa yang Sulit Tergantikan? Ini Daftarnya
Namun karena tekanan politik dan pengaruh keluarganya, ia akhirnya dinobatkan sebagai ratu pada Juli 1553. Sayangnya, kekuasaannya tidak berlangsung lama.
Mary I berhasil mengumpulkan dukungan besar dari rakyat dan bangsawan. Hanya sembilan hari setelah dinobatkan, Jane kehilangan takhtanya.
Peristiwa ini membuatnya dikenang sebagai “The Nine Days’ Queen” atau Ratu Sembilan Hari.
Baca Juga: Oxford Buka Beasiswa Full Funded 2026, Gratis Biaya Kuliah hingga Tunjangan Besar
Setelah dilengserkan, Lady Jane Grey awalnya dipenjara di Tower of London.
Pada awalnya, Mary I sebenarnya disebut enggan menghukumnya mati karena menganggap Jane hanya menjadi korban ambisi politik keluarganya.
Namun situasi berubah setelah muncul pemberontakan yang dikenal sebagai Wyatt's Rebellion pada 1554.
Pemberontakan itu membuat posisi politik Mary I semakin terancam dan Lady Jane Grey dianggap tetap menjadi simbol ancaman terhadap kekuasaan.
Baca Juga: Daftar Prodi Terbanyak di Indonesia 2026, Pendidikan dan Teknik Mendominasi
Akhirnya, pada 12 Februari 1554, Lady Jane Grey dieksekusi dengan cara dipenggal di halaman Tower of London. Saat itu usianya diperkirakan baru sekitar 16 atau 17 tahun.
Menjelang kematiannya, banyak catatan sejarah menggambarkan Jane tetap tenang dan menunjukkan keberanian luar biasa.
Hingga kini, kisah Lady Jane Grey masih sering dikenang sebagai simbol tragedi politik kerajaan—tentang seorang remaja yang terjebak dalam perebutan kekuasaan dan harus membayar mahal atas konflik takhta yang tidak sepenuhnya ia pilih.***

