POJOKSATU.id - Empat Sekolah Rakyat meraih penghargaan sebagai Penyelenggara Sekolah Rakyat Terbaik dalam ajang Mandaya Awards 2026 yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM).
Keempat sekolah tersebut adalah Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri, SRT 1 Kabupaten Takalar, SRT 1 Kabupaten Bogor, dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 14 Bandung Barat.
Ketiga SRT tersebut berasal dari jenjang SMA. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya sekolah dalam memberikan pendidikan sekaligus membekali siswa dan keluarganya agar lebih mandiri.
Program yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik. Sekolah Rakyat juga memberikan keterampilan vokasi, pendampingan, hingga pelatihan usaha bagi orang tua siswa dari keluarga kurang mampu.
Daftar Empat Sekolah Rakyat Terbaik Penerima Mandaya Awards 2026
Penghargaan kategori Sekolah Rakyat diterima oleh perwakilan dari masing-masing sekolah, yaitu:
SRT 1 Kabupaten Takalar, diwakili Kepala Sekolah M Jufrianto.
SRT 1 Kabupaten Bogor, diwakili Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Haris.
SRMA 14 Bandung Barat, diwakili Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Dimas Mulyana.
SRT 1 Kabupaten Kediri, diwakili Wali Asrama, Moh Nursalim.
Mandaya Awards merupakan penghargaan bagi berbagai pihak yang dinilai memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat.
Kategori penerimanya mencakup pemerintah daerah, pemerintah desa, pesantren, perguruan tinggi, penggerak pemberdayaan, badan usaha, hingga Sekolah Rakyat.
Penyelenggaraan pada 2026 merupakan edisi kedua. Ajang ini diikuti lebih dari 2.146 peserta dan melibatkan 1.245 mahasiswa yang tergabung dalam 415 tim.
Sekolah Rakyat Dorong Kemandirian Keluarga Miskin
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa penanggulangan kemiskinan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Menurut Muhaimin, upaya mengurangi kemiskinan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah.
Peran kepala desa, dosen, mahasiswa, pengusaha, hingga pimpinan pesantren diperlukan agar program pemberdayaan benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.
"Di balik turunnya angka kemiskinan ini, ada orang-orang yang mau turun tangan. Para kepala desa yang turun terus ke dusun masing-masing," kata Muhaimin di Ballroom Plaza BP Jamsostek, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Dia juga menekankan bahwa keberhasilan pemberdayaan tidak semata-mata diukur dari besarnya lembaga atau anggaran yang digunakan.
"Bukan yang paling besar lembaganya, juga bukan yang paling mahal anggarannya. Tetapi yang paling kita harapkan adalah siapa yang dampaknya nyata dan dibuktikan," sambungnya.
Berdasarkan data BPS 2026 yang disampaikan Muhaimin, tingkat kemiskinan turun dari 8,57 persen menjadi 8,07 persen.
Sementara itu, jumlah penduduk yang mengalami kemiskinan ekstrem berkurang dari 2,8 juta menjadi 1,7 juta jiwa.
"Artinya, dalam dua tahun ini sekitar 1,1 juta saudara kita keluar dari kemiskinan ekstrem," jelas Muhaimin.
Pemerintah, lanjutnya, menjalankan berbagai program pemberdayaan melalui pendidikan, pembiayaan usaha, pendampingan desa, dan program lainnya.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Sekolah Rakyat yang saat itu diikuti 44.200 anak dari keluarga kurang mampu.
"Ada satu cerita yang paling menarik dan membanggakan bahwa hari ini 44 ribu anak-anak yang terlantar dan kurang beruntung dari keluarga yang paling miskin, hari ini telah bersekolah di Sekolah Rakyat dengan fasilitas yang lengkap dan memadai," ujarnya.
Muhaimin mengaku melihat perubahan positif pada para siswa setelah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat.
"Saya sendiri amat sangat kaget, 6 bulan yang lalu dibanding dengan yang sekarang, anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rakyat sudah berubah segalanya.
Semuanya menjadi segar, motivasinya tinggi, hari ini sudah mengalami berbagai kemajuan," katanya.
Pemberdayaan juga diarahkan kepada orang tua siswa melalui Program LAKSMI. Mereka dibekali pendidikan dan kemampuan baru agar dapat meningkatkan produktivitas serta membangun kemandirian ekonomi keluarga.
"Orang tua keluarga miskin yang sedang bersekolah di Sekolah Rakyat kita bekali, kita didik dan kita mandirikan melalui Program LAKSMI.
Anaknya belajar, orangtuanya memiliki kemampuan baru. Dan insyaallah, tahun ini kita akan berhasil. Anaknya bersekolah dengan masa depan yang cerah dan orangtuanya mandiri menjadi orang yang produktif," ungkap dia.
SRT 1 Takalar Latih Orang Tua Membuat Kerupuk
Salah satu bentuk pemberdayaan keluarga diterapkan oleh SRT 1 Kabupaten Takalar. Sekolah ini memberikan pelatihan keterampilan kepada orang tua siswa untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
Kepala SRT 1 Kabupaten Takalar, M Jufrianto, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Sentra Pangurangi Takalar dalam menyelenggarakan pelatihan pembuatan kerupuk dan makanan ringan lainnya.
Dalam program tersebut, peserta mendapatkan bahan baku dan peralatan untuk mendukung kegiatan produksi. Sebagian orang tua bahkan mulai menjual hasil produksinya dan membuka usaha kecil di rumah.
"Dibelikan bahannya, kemudian dibelikan alatnya oleh pihak sentra. Jadi alhamdulillah, mereka sekarang sudah biasa. Ada yang bahkan sudah jual di toko-toko kecil mereka di rumah, buka warung sendiri," ungkap Jufrianto.
Program ini diharapkan menjadi bekal bagi orang tua untuk mengembangkan usaha secara mandiri. Dengan demikian, dukungan terhadap pendidikan anak dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan ekonomi keluarga.
SRT 1 Bogor Siapkan Siswa dari Produksi hingga Pemasaran
Sementara itu, SRT 1 Kabupaten Bogor mengembangkan pendidikan vokasi dengan memberikan pengalaman kepada siswa dalam menjalankan proses produksi hingga pemasaran.
Salah satu program yang dikembangkan adalah Lelepreuner, yakni pelatihan pengelolaan budidaya ikan lele.
Sekolah ini juga mengenalkan keterampilan kesenian melalui kegiatan memainkan dan membuat angklung bersama sanggar-sanggar seni lokal.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SRT 1 Kabupaten Bogor, Haris, mengatakan bahwa siswa tidak hanya diajarkan menghasilkan produk, tetapi juga memahami tahapan pengembangan usaha secara menyeluruh.
"Dari mulai penyiapan bahan baku hingga pengemasan produk jadinya dan kemudian bagaimana mereka memasarkan itu.
Karena kalau berbicara pendidikan yang dinilai itu bukan instan, satu tahun, dua tahun, tapi jangka panjangnya, proses yang kita nilai," kata Haris.
Menurut dia, keterampilan akademik dan vokasi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar siswa memiliki bekal yang cukup ketika menyelesaikan pendidikan.
"Sehingga kita beri siswa itu waktu untuk proses bahwa ketika kalian lulus, ya kalian harus bisa berdaya, kalian harus bisa graduasi menjadi ujung tombak pemutus mata rantai kemiskinan keluarga.
Karena yang disiapkan bukan hanya akademik, vokasinya juga disiapkan, dan itu semua dikembangkan di sekolah rakyat," tambahnya.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja, berwirausaha, dan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
SRMA 14 Bandung Barat Kembangkan Minat dan Bakat Siswa
SRMA 14 Bandung Barat juga menjalankan pemberdayaan melalui pengembangan minat dan bakat peserta didik.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SRMA 14 Bandung Barat, Dimas Mulyana, menjelaskan bahwa sekolahnya menyediakan 15 kegiatan ekstrakurikuler untuk mengakomodasi minat siswa di luar bidang akademik.
Kegiatan tersebut meliputi olahraga, kesenian, keagamaan, hingga organisasi. Beragam aktivitas ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.
"Sehingga, melalui minat dan bakat ini, alhamdulillah, kepercayaan diri anak-anak meningkat melalui minat dan bakat karena kan sering action gitu.
Jadi, alhamdulillah, prestasi meningkat, kepercayaan diri meningkat. Akhirnya yang tadi, pemberdayaan itu, yang akan kita (dorong), anak berani jadi juara satu di tingkat provinsi, di tingkat nasional," jelas Dimas.
Pengembangan minat dan bakat tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mendorong siswa berani menunjukkan kemampuan dan meraih prestasi.
Dengan dukungan kegiatan yang beragam, siswa diharapkan mampu mengenali potensi diri dan mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal untuk masa depan.
SRT 1 Kediri Pastikan Siswa Mendapat Pendampingan
Adapun SRT 1 Kabupaten Kediri menekankan pentingnya pendampingan agar siswa dapat berkembang secara optimal, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Wali Asrama SRT 1 Kabupaten Kediri, Moh Nursalim, mengatakan bahwa sekolah berupaya memastikan setiap siswa memiliki kegiatan yang mendukung perkembangan diri mereka.
"Jadi slogan di kita, tidak ada anak tanpa kegiatan, tidak ada anak tanpa pendampingan," ujarnya.
Pendampingan tersebut diharapkan membantu siswa mengembangkan potensi, meraih prestasi, dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Nursalim juga menyampaikan bahwa siswa bahkan telah memperoleh peluang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sebelum menyelesaikan SMA.
"Nanti harapannya, ketika lulus, mereka tidak menganggur. Dan itu terbukti, sekarang, di (sekolah) kita sudah ada anak kelas 2 (SMA) yang mereka punya golden ticket ke kuliah, padahal masih kelas 2," pungkas Nursalim. ***





