POJOKSATU.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) terus mengakselerasi transformasi ekosistem penelitian nasional. 

Memasuki fase akselerasi 2025–2029, Rumah Program tahun anggaran 2026 disiapkan sebagai langkah strategis untuk mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Pelaksana Tugas Kepala OR IPSH BRIN, Muhammad Najib Azka, menegaskan kolaborasi menjadi kunci utama dalam pengembangan riset sosial dan humaniora saat ini. 

Baca Juga: SMPN 2 Karawang Timur Borong 24 Piala, Dukati Juara Umum LKBB Jabar

Melalui skema Call for Research Collaboration (CFRC) Rumah Program 2026, BRIN mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak luas bagi masyarakat.

Ia menekankan bahwa ilmu sosial dan humaniora memiliki peran fundamental dalam proses kemanusiaan, sekaligus menjadi pilar penting dalam pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. 

Karena itu, OR IPSH diarahkan sebagai wadah strategis untuk menghasilkan publikasi riset kredibel yang memperkuat identitas pakar Indonesia di tingkat nasional maupun global.

Baca Juga: Tanggal 15 Jadi Penentu TPG Guru, Ini Arti Cut-Off Data yang Wajib Dipahami Sejak Sekarang

Lebih lanjut, Najib menjelaskan Rumah Program 2026 didesain sebagai ruang produksi pengetahuan yang menjunjung tinggi etika dan integritas penelitian. 

Fokus utamanya adalah menjawab berbagai persoalan sosial humaniora, baik dalam konteks nasional maupun global.

Pada tahun 2026, terdapat dua rumah program yang melanjutkan skema tahun sebelumnya. 

Baca Juga: SKTP Terbit Otomatis Tanpa Usulan Dinas, Ini Perubahan Besar Sistem TPG 2026

Pertama, model hasil riset dan inovasi tentang keindonesiaan yang menitikberatkan pada kontinuitas bangsa, identitas, jati diri, dan kohesi sosial. 

Topik risetnya mencakup konsolidasi demokrasi, ketahanan keluarga, pesantren, hingga tata kelola program pangan bergizi gratis.

Kedua, model hasil riset dan inovasi tentang dinamika kontemporer yang diarahkan untuk merespons perubahan global secara cepat dan tepat. Isu yang diangkat meliputi transformasi digital, perubahan sosial yang berlangsung pesat, krisis global, serta tantangan perubahan iklim.

Baca Juga: Pendaftaran Program Residensi Riset Saintek Masih Dibuka, Dosen dan Peneliti Muda Punya Waktu 30 Hari Lagi

Melalui Rumah Program ini, OR IPSH BRIN menargetkan lahirnya luaran riset yang unggul dan berdaya saing. 

Indikator keberhasilan program meliputi tersedianya proposal penelitian berkualitas sesuai topik, pemanfaatan model berbasis hasil riset, terbangunnya kolaborasi nasional dan internasional, serta meningkatnya sumber pendanaan melalui kerja sama penelitian.

Najib juga memaparkan skema pendanaan kolaborasi riset yang terbagi dalam dua jalur, yakni Field Research dan Small Grant Research, dengan pagu anggaran yang telah ditetapkan. 

Baca Juga: Carry Over TPG Masih Ada di 2026? Ini Penyebab CO dan Jalur Pembayarannya yang Berbeda

Untuk Field Research, target luaran mencakup dua publikasi, yaitu artikel jurnal internasional bereputasi dengan status minimal under review pada Desember 2026, serta satu book chapter terindeks global atau artikel jurnal internasional bereputasi.

Sementara itu, skema Small Grant Research menargetkan satu publikasi ilmiah dengan status minimal under review pada Desember 2026, berupa artikel jurnal bereputasi atau book chapter terindeks global.

Program ini terbuka bagi SDM Iptek aktif dengan kualifikasi pendidikan minimal S2 atau peneliti ahli muda yang tengah menempuh program Degree by Research. 

Baca Juga: Lengkap! Syarat dan Ketentuan Beasiswa S2 Double Degree Kemenag 2026, Ada Jalur Afirmasi

Pengajuan proposal dapat direkomendasikan melalui laman pendanaan Risnov BRIN mulai 12 Januari hingga 2 Februari 2026.

Di akhir paparannya, Najib berharap Indonesia tidak hanya berperan sebagai konsumen pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi bagian penting dalam proses produksi pengetahuan dunia. 

Harapan itu sejalan dengan semangat Rumah Program 2026 yang ingin menempatkan riset sosial humaniora sebagai fondasi kuat bagi masa depan bangsa. ***