POJOKSATU.id - Bitcoin, di awal tahun 2024 ini, memang menjadi mata uang kripto dengan performa yang paling cemerlang.
Harga Bitcoin berhasil mencapai all-time high baru di angka $73.835,57 pada bulan Maret 2024, dan performa Bitcoin Core turut berdampak pula pada mata uang kripto yang memiliki asosiasi dengan Bitcoin—terutama yang merupakan hasil hard fork Bitcoin.
Apakah itu hard fork Bitcoin? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Bitcoin Hard Fork?
Bitcoin hard fork adalah perubahan signifikan dalam protokol Bitcoin yang menghasilkan pemisahan permanen dalam rantai blok.
Kondisi ini terjadi ketika komunitas Bitcoin tidak setuju tentang arah pengembangan yang akan diambil, biasanya terkait dengan perubahan-perubahan tertentu dalam kode sumber atau aturan konsensus.
Ketika terjadi hard fork, dua rantai blok yang berbeda dengan sejarah transaksi yang sama hingga titik fork akan terbentuk: satu yang mengikuti jalur asli (biasa dikenal sebagai old chain atau original chain) dan yang lain yang mengikuti aturan baru (kadang disebut sebagai new chain atau forked chain).
Pada dasarnya, hard fork merupakan tindakan perubahan yang tidak memungkinkan kesinambungan sempurna antara versi sebelumnya dan yang baru dari protokol.
Umumnya, hard fork pada Bitcoin akan berujung pada munculnya variasi mata uang kripto baru, dan dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin telah mengalami lima kali hard forks yang menghasilkan Bitcoin XT, Bitcoin Classic, Bitcoin Cash, Bitcoin Gold, dan Bitcoin Satoshi’s Vision.
Bitcoin XT
Bitcoin XT adalah sebuah hard fork dari Bitcoin yang dibuat oleh Mike Hearn pada tahun 2014. Hearn memutuskan untuk mengembangkan Bitcoin XT untuk menjawab isu yang pada saat itu sedang banyak didebatkan oleh para pengembang Bitcoin, yakni isu terbatasnya kemampuan blok Bitcoin untuk memproses transaksi.
Untuk mengatasi hal ini Hearn mengajukan ide untuk memperbesar ukuran limit blok Bitcoin dengan mengimplementasikan protokol P2P yang mampu melakukan UTXO di tahapan-tahapan tertentu pada transaksi.
Masalahnya, Hearn melakukan ini tanpa persetujuan penuh komunitas Bitcoin. Walau ia mengajukan Bitcoin Improvement Plan (BIP), proposalnya tidak diterima penuh oleh komunitas Bitcoin, sehingga BIP yang dilakukannya tidak bisa masuk ke Bitcoin Core.
Walau Bitcoin XT sempat mendapatkan dukungan dari beberapa pihak dan mata uangnya dipakai untuk transaksi, sejak tahun 2018, proyek ini sudah ditinggalkan dan tidak dikembangkan lagi.
Bitcoin Classic
Serupa dengan Bitcoin XT, Bitcoin Classic juga merupakan hard fork yang dikembangkan untuk tujuan yang sama: memperbesar kapasitas transaksi pada blockchain Bitcoin. Namun, Bitcoin Classic memiliki target yang tidak terlalu ambisius dibandingkan Bitcoin XT.
Dimana Bitcoin XT ingin memperbesar kapasitas transaksi Bitcoin hingga bisa mencapai 24 transaksi per detik (hingga saat ini Bitcoin hanya mampu memproses tujuh transaksi per detik), Bitcoin Classic hanya ingin meningkatkan kapasitas blok agar dapat memproses hingga 11-12 transaksi per detik.
Walaupun target yang ingin dicapai Bitcoin Classic sebenarnya lebih masuk akal dibandingkan Bitcoin XT, proyek ini tidak sempat bertahan lama.
Karena sedikit yang mengadopsi Bitcoin Classic, proyek ini akhirnya gagal dalam waktu setahun, walau sampai sekarang masih digunakan dalam skala lebih kecil.
Bitcoin Cash
Dari semua hard fork Bitcoin, Bitcoin Cash adalah yang paling sukses. Hingga tahun 2024 ini pun, mata uang kripto Bitcoin Cash masih secara aktif beredar dan merupakan salah satu dari 20 mata uang kripto dengan peredaran terbanyak di dunia menurut data dari Coin Market Cap.
Serupa dengan Bitcoin Classic dan Bitcoin XT, Bitcoin Cash juga merupakan hard fork yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas transaksi.
Bedanya terletak di metodologinya. Bitcoin Cash merupakan respon dari komunitas yang tidak setuju atas pengimplementasian soft fork Bitcoin yang disebut dengan Segregated Witness (SegWit).
Ketidaksetujuan ini dilandasi oleh ketidakpuasan dari penambahan kapasitas yang diimplementasikan lewat upgrade SegWit. Tim Bitcoin Cash menginginkan kapasitas yang lebih besar, sedangkan tim Bitcoin Core keberatan dengan efek samping dari kenaikan kapasitas yang drastis, yakni adanya pembatasan pelaku hosting nodes Bitcoin menjadi hanya perguruan tinggi, perusahaan swasta dan organisasi nirlaba saja.
Bitcoin Gold
Bitcoin Gold cukup berbeda dibandingkan hard fork lainnya dari segi tujuan yang ingin dicapai. Pengembang pada proyek ini ingin Bitcoin bisa kembali ditambang menggunakan perangkat yang lebih simpel dan tidak sekompleks saat ini.
Maka dari itu, fokus Bitcoin Gold lebih kepada mengembalikan konsep terdesentralisasi Bitcoin; adapun metode yang dipilih untuk melakukan ini adalah dengan menurunkan kebutuhan komputasi Bitcoin yang akan berujung pada penurunan persyaratan hardware yang dibutuhkan untuk bisa melakukan proses penambangan.
Keputusan ini membuat Bitcoin Gold salah satu hard fork yang memiliki mekanisme konsensus yang berbeda dibandingkan hard fork Bitcoin lainnya.
Adapun Bitcoin Gold menggunakan proof-of-work yang disebut Equihash, yang memungkinkan pertambangan menggunakan hardware seperti kartu grafis, yang lebih terjangkau dibandingkan dengan Bitcoin Core yang menggunakan hardware ASIC.
Bitcoin Satoshi’s Vision
Bitcoin Satoshi’s Vision, yang biasa dikenal dengan nama Bitcoin SV, sebenarnya merupakan hard fork dari Bitcoin Cash.
Hard fork dari Bitcoin Cash terjadi akibat adanya perselisihan pendapat antara pengembang Bitcoin Cash terkait kapasitas maksimal transaksi blockchain mata uang kripto tersebut.
Kubu Bitcoin SV ingin menaikkan kapasitas hingga empat kali lipat dari kapasitas Bitcoin Cash di masa tersebut. Karena tidak adanya kesepakatan, hard fork Bitcoin SV pun terjadi.
Bitcoin SV juga sempat menghebohkan dunia karena pengembang yang terkait dalam proyek tersebut, Craig Wright, mengaku bahwa dirinya adalah Satoshi Nakamoto—walau klaim ini terbukti palsu di bulan Maret 2024. ***

